Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pelayan dari Hal yang Mustahil (Kesaksian)

Edisi C3I: e-Konsel 013 - Kekeringan Rohani

ini adalah ringkasan kesaksian dari seorang pelayan Tuhan yang mengalami "kekeringan rohani" sampai ia kehilangan semua sukacita dalam hidup bersama Tuhan.

Bagaimana ia mengatasi masalahnya ini?

-*- PELAYAN DARI HAL YANG MUSTAHIL -*-

Sejak saya muda, saya mengerti dengan baik bahwa keluarga saya menjunjung prinsip kerja keras. Oleh karena itu ketika saya bertumbuh dewasa saya tidak pernah menemukan ada waktu terbuang dalam hidup saya. Setiap menit saya isi dengan bekerja. Jika saya bekerja sepuluh jam itu adalah hal yang bagus, namun lebih bagus lagi jika saya bisa bekerja empatbelas jam.

Semasa kuliah saya ingat sering tidak pulang ke rumah karena saya tidur jam 3 pagi sehingga untuk menghemat waktu saya tidur di kafetaria dan dapat kembali belajar sepagi mungkin. Saya juga ingat pada suatu musim panas saya bekerja mulai jam 05.00 pagi dan selesai jam 08.00 malam. Saya ingat ibu saya bangun setiap jam 04.00 pagi untuk menyediakan makanan-makanan yang akan menjadi persediaan tenaga saya untuk menjalani hari itu. Namun setelah beberapa tahun berlalu, kebiasaan itu telah mengubah prioritas saya. "Kerja" perlahan-lahan menjadi prioritas saya yang paling atas.

Selama bertahun-tahun ketika saya bekerja sebagai pelatih dan direktur wilayah untuk "Young Life", saya bekerja selama empatbelas, bahkan limabelas jam sehari; enam atau tujuh hari dalam seminggu. Namun demikian saat pulang ke rumah saya masih memiliki perasaan bahwa saya belum cukup bekerja. Jadi saya mencoba menjejalkan lebih banyak pekerjaan lagi dalam jadwal. Saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk meningkatkan hidup daripada untuk menjalani hidup. Saya tidak pernah mengerti apa yang Kristus maksudkan saat Ia berkata,

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:28-30).
Hidup tidak lagi menjadi tenang, karena saya selalu lari cepat dengan gila-gilaan dari satu jam ke jam yang berikutnya. Saya ingat saat-saat dimana keletihan menjadikan saya merasa terpisah dan terasing -- perasaan-perasaan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Tenaga saya terkuras, saya menjadi amat kecewa dan gelak tawa, yang sebelumnya selalu menjadi kawan saya yang paling berharga, telah menyelinap pergi dengan diam-diam.

Di tengah-tengah pengalaman saya ini, saya menerima kiriman kutipan dari jurnal-jurnal. Kutipan itu menggambarkan deskripsi yang sempurna tentang siapakah saya sekarang: seorang laki-laki yang super sibuk! Kata-katanya menunjukkan kebenaran yang sungguh menyakitkan yaitu saya telah bekerja keras untuk melepaskan cengkraman kesibukan-kesibukan pada diri saya. Dan untuk sesaat, saya sadar. Rasa bersalah karena tidak cukup banyak bekerja telah teratasi. Namun kebiasaan-kebiasaan yang sudah lama tertanam tidak dapat musnah begitu saja. Pada akhirnya, muncul lagi kesibukan dalam bentuk lain. Tidak lama kemudian, saya kembali terburu-buru dan gila kerja seperti sebelumnya.

Kata-kata "seharusnya" dan "semestinya," menguasai saya. Setiap pagi, saya bangun tanpa merasakan kesegaran, tapi meletihkan dan perasaan terburu-buru. Hari-hari saya lewati sebagai orang yang terus menerus membangun reputasi sebagai orang yang penuh perhatian, selalu ada pada saat dibutuhkan dan secara konsant membangkitkan semangat orang lain -- dan sekarang saya tersiksa olehnya. Sering kali saya lebih bisa merasakan kedamaian di mata orang lain daripada di mata saya sendiri.

Tidak ada lagi kata bersenang-senang, berdoa, bermain, atau merenung. Kecepatan langkah yang saya lakukan saat ini tidak memiliki irama, pesona, atau misteri dan kekaguman. Saya hampir tidak punya waktu untuk memperhatikan teman-teman atau diri sendiri. Akhirnya saya bahkan mengesampingkan Allah dalam jadwal saya. Saya menderita, karena tidak memasukkan-Nya dalam jadwal saya.

Perlahan-lahan roda terus berputar, dan saya menemukan bahwa saya telah diperbudak waktu. Saya ingin lepas, tapi untuk itu saya harus secara sungguh-sungguh dan radikal berkomitmen pada Yesus Kristus. Saya harus menghentikan beberapa kegiatan supaya saya dapat mengerjakan kegiatan dengan iman yang hidup dan kasih.

Tampaknya saya berada di persimpangan jalan secara rohani. Saya harus memilih antara "sukses duniawi" berarti menjalani hidup sesuai dengan ukuran orang lain, atau kepuasan hati yang didasarkan pada penerimaan diri yang unik sesuai dengan kasih Kristus. Saya memilih untuk percaya, lebih dari sekedar kata-kata, bahwa jati diri saya lebih berarti daripada segala sesuatu yang saya lakukan.

Dalam usaha mencari suatu pola untuk gaya hidup yang demikian, saya harus melihat kepada seorang tukang kayu sederhana, Tuhan Yesus Kristus. Saat ia berkata, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48), Ia tidak sedang berbicara mengenai kesempurnaan yang sedang saya coba raih, tetapi lebih kepada sebuah kualitas dari keutuhan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Dia meminta saya untuk menjadi orang yang selalu diingat dan bukan menjadi orang yang tanpa cela. Ia mengharapkan suatu kematangan tindakan yang berdasar pada penghargaan pribadi dan bukan pada berapa banyak keberhasilan yang dicapai. Pertanyaan kunci bagi masalah saya adalah "Kepada siapakah saya menempatkan iman percaya saya?"

Saya menyadari lagi bahwa kita tidak menyebut nama Tuhan dengan sia- sia melalui bibir kita sebanyak kita menggunakannya dalam hidup kita. Saya mencari untuk mengetahui kenyataan dan hakekat dari Kristus yang hidup pada tahapan-tahapan yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.

Ketika saya mulai membebaskan diri saya dari beberapa kesibukan dan kerja yang berlebihan, saya menemukan bahwa saya sebenarnya tidaklah benar-benar melepaskan apapun. Sebagai gantinya, saya mampu menikmati hari-hari dan mencapai tujuan-tujuan yang belum pernah saya raih sebelumnya. Saya mencatat dalam buku harian saya bahwa Allah dengan setia mengubah saya terus-menerus menjadi seorang pribadi yang lebih berperasaan. Prosesnya masih jauh dari selesai dalam hidup saya -- Saya sering masih berjuang melawan cepatnya dan gemuruhnya kehidupan. Dan ketika saya melihat kembali jejak-jejak langkah kaki saya, saya bersyukur atas stamina yang Allah berikan.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
--
Penerbit: 
--

Komentar