Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagaimana Mengatasi Anak yang Nakal karena Terlalu Dimanja?

PERTANYAAN:
Anak saya sangat kurang ajar. Sekolahnya sih cukup baik. Setiap tahun terus naik kelas dan raportnya lumayan, tak ada merahnya. Di usianya yang baru 14 tahun, ia sudah duduk di kelas 3 SMP. Ia banyak teman tetapi nakal-nakal. Mungkin karena itu ia jadi kurang ajar sekali. Kalau bicara kasar, gampang marah dan berani membentak- bentak bahkan memaki saya dengan makian yang tidak pantas.

Mungkin perlu Bapak ketahui bahwa dia anak kelima dari lima bersaudara, tiga laki dan dua perempuan. Terus terang saja, memang kami kurang bijaksana. Kami memanjakan dia karena dia anak terkecil. Apa-apa kami turuti dan sering kami bela kalau dijahilin kakak- kakaknya. Sekarang kami tanggung akibatnya. Rasanya sakit sekali kalau dikurang-ajarin anak. Perasaan kami kadang-kadang negatif sekali, sampai kami ingin titipkan saja dia pada pamannya yang di luar negeri. Pihak lain kami ragu-ragu karena kami tidak tega. Nanti kalau ada apa-apa disana bagaimana.

Bagaimana sih Pak mendidik anak ini supaya sikapnya dapat membaik?

JAWAB:
Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran dan reaksi pribadi Anda atas berbagai perasaan yang Anda rasakan terhadap anak bahkan terhadap diri Anda sendiri. Kesadaran diri memang merupakan langkah pertama dari terapi. Meskipun demikian kesadaran diri saja tidak cukup. Kesadaran diri perlu dilengkapi dengan pengenalan akan prinsip-prinsip kebenaran dan pengenalan akan realita objektif dari persoalan yang ada. Melalui itulah seorang dapat menyusun strategi untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan tersebut. Untuk itu mungkin beberapa poin dibawah ini perlu Anda waspadai:

1. Sebagai orang berdosa, setiap anak mempunyai potensi untuk melakukan hal-hal yang negatif. Dorongan untuk berbuat dosa selalu menuntut pelampiasan dan hanya menunggu kesempatannya saja. Ditengah kondisi yang cenderung loose/tanpa prinsip-prinsip yang jelas, Anda sudah memberi peluang untuk perkembangan dan pelampiasan bakat-bakat negatif tersebut. Mungkin mula-mula hal itu nampak dalam bentuk- bentuk seperti berani membantah, berani memaksakan kehendak (minta apa-apa selalu dituruti) dan kemudian berkembang bahkan dalam bentuk pemakaian bahasa verbal-yang dirasakan oleh Anda sebagai kata-kata yang "kurang ajar" karena melanggar norma-norma, tata krama, sopan santun. Sekarang setelah sistim terbentuk, setiap kali anak tersebut tidak puas ia akan memainkan peran negatif "kurang ajar" dan Anda juga akan memainkan peran tertentu yaitu "mengcounter"/membalas dengan marah dan hukuman. Dengan demikian terjadilah "tug of war"/menang-menangan antara Anda dan anak, dan Andalah yang selalu dikalahkan. Tidak heran jikalau anak selalu akan mengulang peran tersebut, karena itulah peran dimana ia dapat mengontrol Anda.

2. Menghadapi sistim yang merugikan seperti ini, Anda justru perlu mengontrol diri sendiri untuk tidak melayani dan mau terjebak didalamnya. Untuk itu Anda harus berupaya menciptakan sistim yang baru yang merupakan counter-system, yakni:

a. Anda perlu membangun dan memperkuat hubungan Anda dengan suami, karena dengan kesatuan dua pimpinan rumah tangga kekuatan menjadi sangat besar dan anak Anda akan terpaksa mengikutinya. Anda dan suami perlu kompak dan secara sengaja menyusun strategi bagaimana mendidik anak tersebut.

b. Anda perlu mengontrol kerja emosi khususnya dalam hubungan dengan anak. Selama ini Anda membiarkan terjadinya emotional attachment/ketergantungan emosi pada anak, sehingga Anda selalu mau mensikapi tingkah-laku anak secara personal/pribadi. Coba belajarlah menjadi professional, seperti layaknya peran seorang professional pendidik yang sedang menghadapi tugas menolong anak yang bermasalah. Disamping itu jangan lupa Anda perlu selalu menggantungkan diri dan meminta bijaksana dari Tuhan. Saya doakan penyertaan Tuhan ditengah misi yang sedang Anda laksanakan.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Parakaleo (Edisi Apr. -- Juni 2003)
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRI

Komentar