Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

DABDA -- 5 Fase dalam Menghadapi Kematian

Edisi C3I: e-Konsel 037 - Konseling untuk Mereka yang Berduka (2)

Artikel berikut ini membahas tentang lima fase (langkah-langkah) yang pasti akan dihadapi oleh orang yang mengalami kedukaan atau "Grief" apapun, dan khususnya oleh orang yang sedang menghadapi kematian. Fase-fase tersebut biasa disebut: DABDA (Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance). Dengan mengetahui fase-fase ini, konselor dan konsele akan lebih mudah memahami keadaannya dan bisa saling membantu dalam melewati fase-fase ini.

LIMA FASE DALAM MENGHADAPI KEMATIAN

Beberapa tahun yang lalu sekelompok mahasiswa teologi mengadakan pertemuan dengan dokter-dokter jiwa dan menanyakan, "Bagaimana reaksi orang dalam menghadapi kematian?" Untuk mendapatkan jawab atas pertanyaan tersebut, mereka kemudian mewawancarai pasien-pasien yang berpenyakit parah dan juga keluarga mereka. Kemudian disimpulkan adanya beberapa fase yang biasanya dilalui orang dalam menghadapi kematian.

  1. DENIAL -- Fase Penyangkalan dan Pengasingan Diri
    Reaksi pertama setelah mendengar, bahwa penyakitnya diduga tidak dapat disembuhkan lagi adalah, "Tidak, ini tidak mungkin terjadi dengan saya." Penyangkalan ini merupakan mekanisme pertahanan yang biasa ditemukan pada hampir setiap pasien pada saat pertama mendengar berita mengejutkan tentang keadaan dirinya. Hampir tak ada orang yang percaya, bahwa kematiannya sudah dekat, dan mekanisme ini ternyata memang menolong mereka untuk dapat mengatasi shock khususnya kalau peyangkalan ini periodik. Normalnya, pasien itu akan memasuki masa-masa pergumulan antara menyangkal dan menerima kenyataan, sampai ia dapat benar-benar menerima kenyataan, bahwa kematian memang harus ia hadapi.
  2. ANGER -- Fase Kemarahan
    Jarang sekali ada pasien yang melakukan penyangkalan terus menerus. Masanya tiba dimana ia mengakui, bahwa kematian memang sudah dekat. Tetapi kesadaran ini seringkali disertai dengan munculnya ketakutan dan kemarahan. "Mengapa ini terjadi dengan diriku?", "Mengapa bukan mereka yang sudah tua, yang memang hidupnya sudah tidak berguna lagi?" Kemarahan ini seringkali diekspresikan dalam sikap rewel dan mencari-cari kesalahan pada pelayanan di rumah sakit atau di rumah. Bahkan kadang-kadang ditujukan pada orang-orang yang dikasihinya, dokter, pendeta, maupun Tuhan. Seringkali anggota keluarga menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Umumnya mereka tidak menyadari, bahwa tingkah laku pasien tidak masuk akal, meskipun normal, sebagai ekspresi dari frustasi yang dialaminya. Sebenarnya yang dibutuhkan pasien adalah pengertian, bukan argumentasi-argumentasi dari orang-orang yang tersinggung oleh karena kemarahannya.
  3. BARGAINING -- Fase Tawar Menawar
    Ini adalah fase di mana pasien akan mulai menawar untuk dapat hidup sedikit lebih lama lagi atau dikurangi penderitaannya. Mereka bisa menjanjikan macam-macam hal kepada Tuhan, "Tuhan, kalau Engkau menyatakan kasih-Mu, dan keajaiban kesembuhan-Mu, maka aku akan mempersembahkan seluruh hidupku untuk melayaniMu."
  4. DEPRESSION -- Fase Depresi
    Setelah ternyata penyakitnya makin parah, tibalah fase depresi. Penderita merasa putus asa melihat masa depannya yang tanpa harapan. Sebagai orang percaya memang mungkin dia mengerti adanya tempat dan keadaan yang jauh lebih baik yang telah Tuhan sediakan di surga. Namun, meskipun demikian perasaan putus asa masih akan dialami.
  5. ACCEPTANCE -- Fase Menerima
    Tidak semua pasien dapat terus menerus bertahan menolak kenyataan yang ia alami. Pada umumnya, setelah jangka waktu tertentu mereka akan dapat menerima kenyataan, bahwa kematian sudah dekat, sehingga mereka mulai kehilangan kegairahan untuk berkomunikasi dan tidak tertarik lagi dengan berita dan persoalan-persoalan di sekitarnya. Pasien-pasien seperti ini biasanya membosankan dan mereka seringkali dilupakan oleh teman-teman dan keluarganya, padahal kebutuhan untuk selalu dekat dengan keluarga pada saat- saat terakhir justru menjadi sangat besar.

Memang terdapat banyak perbedaan pada setiap individu dalam menghadapi realita kematian. Kelima fase di atas mungkin tidak terlihat jelas pada setiap penderita, apalagi jika masa penderitaan itu singkat. [Red: Fase-fase itu pasti terjadi secara berurutan, bahkan semua fase ini akan sering diulang lagi seperti suatu spiral/ siklus/lingkaran yang terus maju setiap kali]. Perbedaan kebudayaan, keluarga, bahkan kepribadian biasanya menghasilkan perbedaan kecepatan dan cara menghadapi kematian, tetapi proses/fase masih sama. Meskipun demikian, semua orang mempunyai persamaan, yaitu bahwa mereka semua pasti mengharapkan akan ada kesembuhan; begitu pengharapan akan kesembuhan itu lenyap, kematian menjadi semakin dekat. Orang-orang Kristen yang benar-benar percaya, bahwa meninggalkan tubuh jasmani ini berarti hidup bersama dengan Tuhan (2Korintus 5:6-8), tentulah mempunyai cara menghadapi kematian yang berbeda dengan mereka yang tidak beriman.

Sumber
Halaman: 
164 - 166
Judul Artikel: 
Konseling Kristen yang Efektif
Penerbit: 
Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1998

Komentar