Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Aborsi: Masalah Etis Rohani

Edisi C3I: e-Konsel 109 - Aborsi

ABORSI: MASALAH ETIS ROHANI

Masalah aborsi merupakan persoalan kontroversial yang mesti dicermati dengan lemah lembut dan penuh kehati-hatian. Penyajian informasi yang tidak berimbang juga sering mengundang reaksi keras, seakan-akan semua pelaku aborsi bayi dalam janin adalah para pembunuh berdarah dingin. Bagi para wanita muda yang hamil di luar pernikahan, pilihan aborsi acap kali merupakan keputusan yang diambil dengan penuh kebingungan, ketakutan, dan keputusasaan - jauh berbeda dengan profil seorang pembunuh berdarah dingin. Bagi mereka dan bagi banyak wanita lain, aborsi merupakan suatu jalan keluar yang menyakitkan dan memang demikianlah seharusnya karena ada hal- hal dalam hidup ini yang tak akan terselesaikan melalui proses rasionalisasi yang seberapa canggihnya pun. Aborsi harus ditatap dengan hati nurani, bukan rasio!

Masalah Etis-Rohani, Bukan Medis

Karena praktik aborsi pada umumnya terjadi dalam suatu perawatan medis dan mengikutsertakan tenaga medis, maka ada yang beranggapan bahwa aborsi merupakan fenomena atau tindakan medis semata. Suatu asumsi yang keliru karena dilandasi dasar pemikiran yang keliru. Sebagai perbandingan saya akan memaparkan suatu kejadian yang melibatkan tenaga medis, namun sama sekali tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan medis. Dalam upayanya memerangi obat-obatan terlarang yang masuk melalui pintu selatan, Amerika Serikat menyelundupkan salah seorang polisinya masuk menjadi salah seorang anggota kelompok pengedar obat terlarang di Meksiko. Malang tak dapat ditolak, penyamaran polisi ini terkuak dan akhirnya ia pun dibunuh secara kejam. Sebelum ia mati, ternyata polisi ini mengalami penyiksaan yang sangat biadab dan setiap kali ia pingsan kesakitan, ia menerima suntikan dari seorang dokter agar cepat siuman. Tujuan intervensi medis ini jelas, yakni supaya polisi tersebut mencicipi setiap siksaan dan penderitaan yang ditimpakan kepadanya dalam kesadaran penuh.

Saya yakin ada di antara Saudara yang akan berseru bahwa dalam contoh di atas tindakan dokter itu tidak dapat disebut perawatan medis. Betul sekali! Sesuai dengan sumpah Hipokrates, perawatan medis selalu berorientasi pada pelestarian hidup, bukan penyiksaan, apalagi penghentian hidup. Tindakan dokter tersebut bukanlah perawatan medis melainkan intervensi medis yang tujuannya bertolak belakang dengan penyembuhan, apalagi pelestarian hidup. Demikian pula dengan praktik aborsi di kalangan wanita yang hamil di luar nikah. Tindakan medis yang terlibat dalam proses aborsi seperti itu tidaklah dapat dikategorikan sebagai perawatan medis karena tidak bertujuan untuk pelestarian atau pemulihan hidup. Sebaliknya, yang terjadi adalah penghentian hidup. Nah, sekarang mungkin ada di antara Saudara yang berkeberatan dengan istilah, "hidup" seperti yang saya gunakan di atas. Saudara mungkin mempertanyakan, apakah janin yang masih belum lengkap dapat dikategorikan hidup. Sebagai perbandingan saya akan menggunakan peristiwa menggemparkan yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ternyata manusia menemukan bahwa ada tanda-tanda kehidupan di planet Mars dan penemuan ini tentu menyenangkan hati para ilmuwan. Tetapi sebelum kita terlalu bersenang hati dengan penemuan itu, coba kita perhatikan terlebih dahulu apa yang mereka maksudkan dengan "kehidupan" di Mars. Ternyata yang disebut kehidupan di Mars tidak lain dan tidak bukan adalah tumbuhan-tumbuhan sejenis lumut yang hidup di sana - masih terlalu jauh untuk dapat dikategorikan sebagai kehidupan yang lengkap, apalagi jika dibandingkan dengan kemungkinan adanya makhluk hidup seperti manusia. Sungguh pun demikian para ilmuwan memanggilnya "kehidupan". Di pihak lain, janin yang sudah mempunyai sebagian anggota tubuh dan bisa ada karena ibu yang mengandungnya hidup, disebut gumpalan.

Aborsi tidaklah dapat dilihat sebagai prosedur medis belaka karena masih ada kriteria medis itu sendiri yang belum terpenuhi oleh tuntutan aborsi. Aborsi tak dapat digumpalkan menjadi suatu terminologi medis yang hampa nilai etis-rohani, bak menghilangkan kutil dari kulit. Aborsi sarat dengan muatan etis-rohani sebab memang itulah aborsi.

Masalah Etis-Rohani, Bukan Hak Asasi

Ada hukum yang melembagakan hak asasi ibu di atas hak asasi bayi selama bayi itu belum berumur 3 bulan. Dengan kata lain, aborsi bebas dilakukan secara legal pada trimester pertama kehamilan. Dasar pertimbangan ini adalah sebelum 4 bulan, bayi dianggap belum menjadi manusia; jadi, tidak mempunyai hak asasi tersendiri. Akibatnya, hak asasi ibu melampaui hak asasi janin itu. Itulah sebabnya gerakan pendukung aborsi di Amerika Serikat memanggil dirinya Pro-Choice. Wanita bebas menentukan pilihannya sebab keputusan aborsi menyangkut tubuhnya sendiri. Sudah tentu apabila kita mengukur manusia dari segi pertumbuhan jasmaninya saja, pada usia 4 bulan ia belumlah memiliki kematangan fungsi jasmani secanggih usia 4 tahun. Masalah akan timbul jika kita menilik dengan teliti hukum yang berlaku di Amerika Serikat pasca Roe vs Wade ini. Pada trimester terakhir aborsi menjadi ilegal dan ini yang menarik, pengguguran kandungan pada bayi di atas 6 bulan merupakan tindakan pidana. Saya masih teringat akan satu kasus yang terjadi beberapa tahun yang lalu di mana ada sepasang remaja yang membuang bayi mereka dan mereka didakwa dengan delik pembunuhan. Dalam selang beberapa bulan, makhluk yang sama (bayi itu) menerima pelabelan yang berbeda dan mendapatkan penganugerahan hak asasi pula.

Gerakan yang menentang aborsi di Amerika Serikat menyebut dirinya Pro-Life dan kelompok ini berusaha memperjuangkan hak asasi bayi yang belum mampu menyuarakan haknya untuk hidup. Mohon perhatikan istilah-istilah legal yang digunakan. Pada usia 4 bulan seorang bayi diaborsi sedangkan pada usia 6 bulan, ia dibunuh. Saya kira pendefinisian hidup seperti ini sangat dangkal. Ironisnya, untuk lumut di Mars para ilmuwan menggembar-gemborkan, "Ada kehidupan di Mars!" Sedangkan bagi bayi yang berusia 4 bulan, ia tidak lebih dari gumpalan daging dan darah - sama sekali bukan kehidupan - yang tidak memiliki hak asasi. Saya kuatir dasar pertimbangan aborsi seperti ini lebih dititikberatkan pada peribahasa "Out of sight, out of mind" (Tak terlihat, maka tak dipikirkan).

Masalah Etis-Rohani, Bukan Psikologis

Pertimbangan memilih aborsi atau tidak kadang dialasi atas dasar psikologis. Aborsi dianggap dapat mengganggu kesehatan jiwa pelakunya atau kebalikannya, tidak memilih aborsi justru diidentikkan dengan stres pada si calon ibu. Menurut saya, pertimbangan psikologis tidaklah seharusnya menjadi faktor penentu dalam pertimbangan aborsi. Muatan psikologis dari aborsi sangat bergantung pada kematangan jiwa si pelaku dan terutama, nilai rohaninya. Walaupun aborsi sering kali membuahkan dampak psikologis yang berkepanjangan, namun masalah intinya tetaplah etis-rohani.

Mungkin ada di antara Saudara yang menanyakan, bukankah aborsi justru merupakan alternatif yang lebih baik bagi seorang remaja putri daripada menanggung malu mengandung seorang bayi. Apalagi jika pacarnya menolak untuk bertanggung jawab. Mungkin ada pula yang meragukan kesiapan mental seorang remaja putri melahirkan seorang bayi di luar pernikahan. Semua ini adalah seruan keprihatinan yang sah dan sudah seharusnyalah kita memikirkan dampak-dampak ini. Keputusan untuk tidak aborsi harus mengikutsertakan faktor-faktor psikologis seperti ini. Tetapi untuk sejenak marilah kita melihat masalah ini dari sudut yang berbeda. Salah satu ketakutan orang tua adalah hancurnya masa depan si remaja putri apabila ia dibiarkan memelihara bayi dalam rahimnya itu. Namun, apakah ketakutan itu berdasar? Apakah masa depannya sungguh akan hancur bila ia melewati 9 bulan masa kehamilan? Apakah jiwanya sungguh akan mengalami guncangan berat yang tak terbendung? Belum pasti. Yang lebih pasti adalah 9 bulan di depannya akan menjadi kurun yang sulit dan ia memerlukan bantuan untuk bisa melaluinya. Jadi, pertanyaan yang timbul ialah, apakah perbuatan menghilangkan hidup si bayi dapat dibenarkan guna memudahkan hidup si remaja putri selama 9 bulan mendatang? Mana yang lebih penting, pergumulan psikologis atau hidup seorang anak manusia?

Kesimpulan

Aborsi mengandung unsur etis-rohani sebab segala keputusan yang menyangkut mati hidupnya manusia berkaitan dengan pertanyaan- pertanyaan berikut ini.

Siapakah yang menciptakan manusia dalam rahim ibunya? Firman Tuhan berkata, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku." (Mazmur 139:13) Tuhanlah yang menciptakan manusia dalam rahim ibunya. Dengan kata lain, Tuhan tidak berhenti mencipta sejak Ia menciptakan Adam. Ia terus mencipta dan senantiasa terlibat dalam proses penciptaan setiap manusia yang dibuahkan oleh pria dan wanita. Alkitab terjemahan New International Version menggunakan istilah "my inmost being" sebagai ganti kata "buah pinggangku" yang menandakan bahwa Tuhan menciptakan bagian- bagian terdalam dari diri manusia.

Di ayat berikutnya (14) pemazmur melantunkan pujiannya, "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat." Ayat ini menyatakan bahwa Tuhan membuatnya secara dahsyat dan ajaib. Menurut keterangan The Defender`s Study Bible, istilah "ajaib" sesungguhnya merujuk pada makna "unik". Dengan kata lain, Tuhan membuat manusia secara unik, tidak ada yang persis sama. Tuhan tidak memproduksi manusia secara massal; Tuhan menenun setiap bayi secara khusus.

Selanjutnya, pemazmur menegaskan bahwa, "Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu..." (ayat 15). The Defender`s Study Bible menjelaskan bahwa istilah "tulang-tulangku" mengacu pada kerangka manusia, sebagaimana diterjemahkan oleh Alkitab New International Version, "frame".

Saya kira firman Tuhan bersikap tegas dalam hal penciptaan manusia. Tuhanlah yang membuat setiap manusia mulai dari kandungan dan semua ciptaan telah Ia ciptakan secara khusus, baik itu bagian dalam tubuh maupun kerangka tulangnya. Semua adalah karya tangan-Nya sendiri.

Sejak kapankah manusia menjadi manusia yang hidup? Injil Lukas 1 mencatat dua peristiwa kelahiran, yaitu kelahiran Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus. Pada pertemuan antara Maria, ibu Yesus dan Elisabet, ibu Yohanes, terjadilah sesuatu yang penting, yang dicatat di ayat 41-44.

    "Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan."

Perhatikan bahwa Elisabet yang sedang mengandung 6 bulan (ayat 36) memanggil kandungannya, "anak" dan anak itu melonjak kegirangan menyambut kehadiran Maria. Juga, Elisabet menyebut Maria, "ibu Tuhanku." (yang sedang mengandung muda). Sebagai mana dijelaskan oleh The Defender`s Study Bible, Elisabet pun sudah menyebut "buah rahim" Maria sebagai "Tuhan." Jadi, semua ayat ini menegaskan bahwa bayi dalam kandungan sudah merupakan manusia yang hidup dan wanita yang mengandungnya disebut "ibu." Pada usia 6 bulan dalam rahim, Yohanes sudah melonjak kegirangan dan bayi Yesus dalam kandungan sudah dipanggil, "Tuhan."

Jawaban dari pertanyaan, "Siapakah yang menciptakan manusia dari rahim ibunya?" adalah, Tuhanlah yang menciptakan setiap manusia. Implikasinya jelas, yakni apa yang kita perbuat kepada manusia - bahkan yang masih berada dalam kandungan sekalipun - harus tunduk pada nilai etis-rohani sebab Dialah pencipta kita. Tuhanlah yang berhak dan telah mengatur hubungan antar manusia, tidak terkecuali manusia yang masih tersimpan di dalam rahim ibunya.

Jawaban untuk pertanyaan, "Sejak kapankah manusia menjadi manusia yang hidup" adalah, sejak ia berada dalam rahim ibunya. Dan, jawaban ini mempunyai dampak yang penting sebab apa pun yang kita perbuat terhadap manusia yang hidup haruslah kita pertanggungjawabkan kepada penciptanya, yakni Tuhan sendiri. Kesimpulannya nampak jelas; masalah aborsi bayi adalah masalah etis-rohani karena bertalian langsung dengan Sang Penciptanya. Tinggal ada dua pilihan; menutup mata atau dengan air mata berlinang mengakui fakta rohani ini.

Sumber
Halaman: 
1 - 8
Judul Artikel: 
Seri Psikologi Praktis: Aborsi: Masalah Etis-Rohani
Penerbit: 
Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001

Published in e-Konsel, 03 April 2006, Volume 2006, No. 109


aborsi...

apakah masih layak...kalau kita pernah melakukan itu...

layak untuk apa? kalau

layak untuk apa?
kalau seseorang bertobat dan meminta ampun sungguh2 pada Tuhan dan hidup baru dalam jalanNya, saya yakin dia masih layak di hadapanNya. Allah kita Allah yang penuh kasih dan maha pengampun.
jika yang Anda maksud layak bagi manusia, saya yakin dia juga layak.
saya seorang pria yang bisa menerima wanita yang sudah pernah aborsi, asalkan dia bertobat, dan hidup benar sesuai dengan firman Allah. kalau saya bisa menerima, saya yakin saya tidak sendiri. pasti ada pria2 lain yang berprinsip sama. so jgn kuatir, carilah dahulu kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.

Komentar