Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Sarang yang Kosong

Di dalam bukunya, "Turning Hearts Toward Home" sebuah biografi
tentang kehidupan dan pelayanan Dr. James Dobson, Rolf Zettersten
menuliskan perjumpaannya dengan Dr. Dobson yang sedang terduduk
dengan mata merah dan pipi yang basah dengan air mata. Sehari
sebelumnya, Dr. Dobson baru saja melepas putra bungsunya, Ryan,
untuk pergi berkuliah ke tempat yang jauh, kepergian yang mengawali
fase "sarang yang kosong" di keluarga Dr. Dobson. Di dalam surat
yang ditulisnya sendiri untuk melukiskan perasaan kehilangannya itu,
Dr. Dobson menggambarkan rumahnya setelah ditinggal oleh putra-
putrinya bak "biara - rumah makam - museum". Secara lebih grafik Dr.
Dobson menggambarkan masa "sarang yang kosong" itu sebagai waktu di
mana "ban sepeda akan kempes, skateboard menjadi bengkok dan
tergeletak begitu saja di garasi, ayunan terdiam sunyi, dan ranjang
kosong ditinggal penghuninya."

Sarang yang kosong merupakan istilah yang melukiskan periode dimana
orangtua akan tinggal sendiri lagi tanpa anak yang telah akil
balig. Ibarat induk burung yang membesarkan anaknya dalam sarang,
pada suatu ketika ia harus membiarkan anaknya terbang meninggalkan
sarang ... untuk selamanya. Saya belum memasuki fase itu dan tidak
bisa berkata banyak tentang masa yang belum saya lalui. Namun, dalam
kurun 3 tahun, jika Tuhan kehendaki, saya dan istri saya akan mulai
harus melepas anak pertama kami. Kadang, meski belum mengalaminya
secara langsung, pemikiran bahwa saya akan berpisah dengan anak-anak
sudah cukup meresahkan dan membawa kesedihan yang dalam.

Seperti keluarga lainnya, setiap hari kami melakukan hal-hal yang
rutin, bangun tidur, menyediakan air untuk mandi anak-anak, istri
saya menyiapkan sarapan untuk kami semua, anak-anak pergi ke sekolah
dan akhirnya pulang dari sekolah menonton kartun, belajar, latihan
piano, menonton televisi lagi, saat teduh, dan tidur. Namun dalam
kerutinan itulah terletak 'bonding' ikatan batiniah dan
'familiarity' pengenalan dan keterbiasaan.

Gordon Allport mengemukakan bahwa diri manusia terbangun dari
kepingan-kepingan psikofisik yang disatukan oleh intensi tujuan atau
arah hidup. Psikofisik menandakan bahwa pribadi manusia merupakan
kombinasi dari pengalaman atau bentukan yang bersifat psikologis dan
bawaan yang berkodrat biologis. Semua itu bercampur menjadi diri dan
diri itu menjadi utuh oleh karena adanya tujuan hidup yang mengarah
ke masa depan.

Kehadiran anak dan pengalaman hidup bersamanya hari lepas hari sudah
tentu merupakan kontribusi terhadap diri kita pula kontribusi yang
membentuk diri kita. Keberadaan anak juga merupakan bagian dari
intensi tujuan dan arah hidup yang membuat kita melangkah ke depan
dalam kepastian. Kepergian anak menuntut kita untuk menciptakan
ulang intensi atau tujuan dan arah hidup kita. Anak-anak yang telah
menjadi bagian diri kita sekarang dan arah hidup di masa mendatang
akan terbang meninggalkan sarangnya dan sesuatu pada diri kita akan
turut terbang pula bersamanya. Ikatan itu akan lepas, segalanya yang
begitu dikenal dan terbiasa akan berubah menjadi asing, ban
sepedanya kempes, ayunannya terdiam sunyi, ranjangnya kosong.
Kepingan psikofisik kita tidak utuh lagi dan intensi kita goyang.

Saya tidak sedang membicarakan pengalaman pribadi melewati sarang
yang kosong itu sebab saya belum mencapainya. Sebetulnya saya tengah
membagikan pengalaman saya sekarang yang sedang dibayang-bayangi
oleh gambaran terbangnya anak kami satu per satu. Buat sebagian
saudara, saya mungkin terlalu sentimental; buat saya sendiri, saya
hancur dan sedih melewati batas sentimental. Berbelasan tahun saya
membagi hidup dengan mereka dan sekarang kepergian yang tadinya nun
jauh di sana mulai tampak. Bagaimanakah saya dapat hidup tanpa
mendengar derai tawanya, memegang tangannya, mengecup pipinya
sebelum tidur, dan memeluk tubuhnya?

Beberapa waktu yang lalu di tengah malam buta, kami dikejutkan oleh
suara panggilan salah seorang anak kami. Rupanya ia terjaga karena
sakit kepala dan saya langsung memapahnya ke kamar mandi serta
menolongnya untuk muntah. Setelah itu istri saya membawakan minyak
kayu putih yang langsung saya oleskan pada tubuhnya. Dalam waktu
sekejap, ia pun terlelap kembali. Malam itu saya tidur di sampingnya
dan untuk sejenak saya merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi.
"I want to be there when you throw up." Itulah kata-kata yang keluar
dari hati saya sewaktu saya memandanginya tidur dengan pulas. "I
want to be there when you throw up."

Saya ingin bersamanya sewaktu ia muntah, sebuah permintaan yang
musykil dan lebih merupakan sebuah protes terhadap kodrat alamiah
yang telah Tuhan tetapkan. Kepingan itu harus lepas dengan bebas;
tatapan ke masa depan itu mesti berganti arah walau dengan berat
hati. Saya tidak boleh turut terbang meninggalkan sarang yang kosong
itu. Sarang yang kosong itu untuk saya.

Sayup-sayup saya mendengar, "Ada waktu untuk memeluk, ada waktu
untuk menahan diri dari memeluk." ... betapa susahnya ...!

Sumber
Halaman: 
3 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo Volume VIII/ April-Juni 2001
Penerbit: 
Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia, Jakarta

Komentar