Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Konseling bagi Para Pemuda

Edisi C3I: e-Konsel 148 - Kesaksian Natal

Jurnal-jurnal profesional sering kali menyertakan artikel-artikel mengenai masalah-masalah konseling dengan para mahasiswa (hal ini mungkin karena sebagian besar artikel-artikel dalam jurnal itu ditulis oleh para profesor di universitas), tetapi sangat sedikit penerbit yang mendiskusikan konseling bagi para pemuda usia mahasiswa (kuliah). Sering kali konseli (mahasiswa) ini menghadapi masalah-masalah depresi, ketidakpastian karier, kecemasan, konflik interpersonal, atau masalah-masalah lain yang tidak terbatas pada satu kelompok usia mana pun. Dalam menghadapi masalah ini dan masalah-masalah lainnya, konselor sering kali merasa sangat puas karena bisa bekerja sama dengan para pemuda ini. Bila dibandingkan dengan orang yang lebih tua, para pemuda sering kali lebih fleksibel, antusias, mau untuk berubah, dan tidak terlalu takut pada konseling.

Sama seperti para konseli pada umumnya, para pemuda sering kali menunjukkan kemajuan yang pesat saat mereka bekerja sama dengan seorang konselor yang mau menjalin hubungan dengan mereka yang mau memahami kebutuhan dan perjuangan yang unik dari kelompok usia ini, dan yang mau untuk melayani, setidaknya sebagai seorang mentor. Sering kali, konseli perlu diyakinkan kembali bahwa masalah-masalah mereka adalah masalah yang umum terjadi dan tidak terbukti sebagai penyakit mental. Tak jarang ada suatu kebutuhan untuk membimbing mereka dalam membuat keputusan, membantu memilih suatu karier atau membentuk suatu identitas, mendukung dan memberi semangat selama menjalani masa-masa sulit atau tidak menentu, memberi konseling untuk memecahkan konflik interpersonal atau membangun keakraban/keintiman, menolong dalam menghadapi masalah-masalah seksual, termasuk perjuangan dan ketakutan terhadap homoseksualitas, atau mendampingi mereka dalam menghadapi stres, kemarahan, perasaan gagal, depresi, atau pikiran-pikiran untuk bunuh diri.

Selain pentingnya masalah-masalah ini, mungkin tantangan terbesar bagi para konselor pemuda ini adalah mengajarkan keterampilan hidup yang akan membantu orang lain untuk berubah. Meskipun terkadang Tuhan bekerja dengan cara yang misterius untuk mewujudkan tujuan-tujuan-Nya dan membuat perubahan, Alkitab menunjukkan bahwa sering kali Tuhan menggunakan manusia untuk mencapai tujuan-Nya. Konselor Kristen harus bisa memampukan diri mereka menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan dan membuat orang lain bertumbuh. Tak jarang penyembuhan ini terjadi ketika konseli dibantu untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang akan membantu mereka mengubah diri mereka sendiri dan/atau lingkungan mereka.

Tiga pendekatan untuk menolong orang lain agar berubah yang dibuat oleh konselor pastoral William Miller dan Kathleen Jackson dapat diterapkan dalam konseling dengan para pemuda ini. Pendekatan pertama adalah harus ada kesadaran. Konseli tidak akan mau berubah bila mereka belum memiliki kesadaran penuh atas masalah yang ada. Tidak banyak orang yang mau mempelajari keterampilan baru dalam hidupnya sampai mereka melihat kebutuhan atas pengembangan keterampilan. Dengan demikian, konselor dan konseli terlebih dahulu bersama-sama berusaha untuk menemukan masalahnya, memahami lebih jauh lagi apakah perilaku konselilah yang menjadi penyebab masalah dan kemudian tentukan tujuan sementara atau tujuan untuk perubahan.

Selanjutnya adalah mencari jalan keluar saat berusaha menjawab pertanyaan: "Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat perubahan?" Selama beberapa waktu, mereka perlu mencari dan membangun berbagai ide dan solusi lain (kadang-kadang diperlukan untuk mencatatnya) tanpa perlu mengoreksinya terlebih dahulu. Kemudian, lihatlah kembali daftar itu bersama-sama. Apa yang sudah dikerjakan dan apa yang tidak perlu dikerjakan? Apa yang baru dan apa yang perlu dikerjakan? Bagaimana kemampuan-kemampuan ini bisa dipelajari dan dipraktikkan? Akhirnya, tentu saja setelah didoakan selama beberapa waktu, akan ada satu atau dua strategi pilihan yang dapat dicoba dan kemudian dievaluasi secara mendalam.

Melalui semuanya ini, akan muncul kebutuhan yang menekankan penerimaan. Konseli sering kali gagal dan jatuh saat mereka mempelajari keterampilan hidup. Hal ini bisa memicu rasa menghukum diri sendiri dan meningkatkan kefrustasian. Adanya pertolongan dan hubungan mentoring tentu memudahkan konselor menunjukkan penerimaan, empati, pengertian, dorongan semangat, dan dukungan yang dibutuhkan konseli saat mereka belajar keterampilan baru dan membuat perubahan, tentu saja dengan pertolongan Tuhan.

Sindrom Terjebak (The Stuck Syndrome)

Sebagai contoh, perhatikan pemuda yang merasa terjebak dalam suatu pekerjaan, situasi hidup, daerah geografis, relasi, atau kewajiban lain yang tidak diinginkan. Semakin lama kita menemukannya, semakin sulit pula untuk diubah; risikonya mungkin lebih besar dan konsekuensi yang muncul bersamaan dengan kegagalan mungkin lebih sulit untuk diperbaiki. Namun, kesempatan lebih mudah didapat pada saat masih muda. Sebagai contoh, pada saat sebagai mahasiswa, saya merasa terjebak di kampung halaman tempat saya bersekolah. Lalu saya bersekolah di Inggris tanpa persediaan dana yang cukup untuk hidup atau untuk kembali ke Atlantik. Bila saya melakukannya sekarang, keluarga saya bisa menderita, pajak hipotek saya tidak akan terbayar, dan orang-orang mungkin akan kurang menghargai orang asing daripada mereka sendiri saat saya berusia 23 tahun.

Saat seseorang menyadari bahwa dia terjebak dalam suatu situasi yang harus diubah, akan sangat membantu bila ia memerhatikan perilaku apa yang menyebabkan masalah itu tidak bisa lagi ditoleransi dan apa yang perlu diubah. Dengan pertolongan konselor, individu itu bisa mempertimbangkan jalan keluarnya. Keterampilan apa yang diperlukan supaya tidak terjebak? Tindakan apa yang bisa dilakukan? Rencana apa yang bisa dikerjakan untuk memecahkan masalah? Jika diperlukan perubahan yang besar -- misalnya, pindah ke tempat yang baru atau kembali ke sekolah -- buatlah rencana sebaik mungkin, buatlah catatan apa saja yang perlu dikerjakan dan kapan mengerjakannya.

Konselor bisa memberikan penerimaan, dukungan dan, tuntunan atas perubahan-perubahan yang diinginkan dan diterapkan. Namun, ingatlah bahwa beberapa bisa saja memilih untuk tidak berubah dan tetap sama seperti mereka adanya. Bahkan kadang-kadang para pemuda telah melalui berbagai perubahan hidup sehingga mereka kehilangan tenaga atau keberanian untuk melakukan perubahan lainnya. Tekankan bahwa menunggu beberapa saat tidaklah menjadi masalah. Namun, semakin lama kita menunggu dan menunda membuat keputusan, semakin berkurang pula usaha kita untuk berubah atau untuk berhasil. (t/Ratri)

Sumber
Halaman: 
192 -- 193
Judul Artikel: 
Christian Counseling, a Comprehensive Guide
Penerbit: 
Word Publishing, U.S.A 1998

Komentar