Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kejenuhan dalam Pelayanan Konseling Kristen

KEJENUHAN DALAM PELAYANAN KONSELING KRISTEN

Alkitab mengingatkan kita untuk, "tidak jemu-jemu berbuat baik", dan menjanjikan bahwa, "pada masanya kita akan menuai hasilnya jikalau kita tidak menjadi lemah" (Galatia 6:9). Tentu saja Paulus sangat memahami apa arti menjadi jenuh dalam pelayanan menolong sesama. Konselor yang berpengalaman sekali pun dapat menjadi jenuh dan kehilangan gairah bila menangani banyak orang yang bermasalah. Seperti api yang menyala dengan segala daya tariknya untuk sementara waktu dan kemudian padam dan cuma meninggalkan abu dengan sisa-sisa kehangatannya saja.

Bagaimana kita dapat menjadi konselor yang efektif dan penuh kasih tanpa menjadi jenuh? Ada beberapa nasihat yang dapat dipertimbangkan. Masing-masing berhubungan dengan kemampuan konselor itu sendiri dalam menangani tekanan-tekanan dalam hidupnya.

  1. Kita membutuhkan kekuatan rohani.

    Seperti nyala api yang padam pada saat kehabisan minyak atau oksigen, demikian juga kita seringkali melemah dalam perjuangan melawan kuasa kegelapan. Efesus 6 sekali lagi menjadi bagian yang sangat penting. Setan selalu berusaha melemahkan dan kalau mungkin memadamkan semangat pelayanan kita. Kita tidak mungkin dapat berjuang dengan kekuatan sendiri. Kekuatan rohani adalah kunci dari kemenangan perjuangan orang percaya. Ketekunan dalam meditasi dan pemahaman firman Tuhan merupakan hal yang sangat utama bagi mereka yang menginginkan efektivitas pelayanan terhadap sesama. Meluangkan waktu secara khusus dalam doa memohon penerangan Roh Kudus adalah hal yang sama sekali tidak boleh diabaikan.

  2. Tuhan Yesus adalah contoh yang paling nyata. Walapun Ia sangat sibuk dengan pelayanan-Nya, Ia selalu mengadakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa-Nya (Markus 1:35). Karena kehidupan doa-Nyalah Ia selalu dapat menjaga keseimbangan dari pelayanan-Nya yang begitu padat. Persekutuan dengan Tuhan secara pribadi, adalah hal yang menentukan efektivitas pelayanan pada sesama yang sebagian besar membutuhkan pengorbanan dan perhatian khusus.

  3. Kita perlu menyadari keterbatasan kita.

    Banyak konselor yang cenderung memaksakan diri melebihi kemampuan pelayanan mereka. Penting sekali untuk selalu diingat, bahwa Tuhan Yesus tidak pernah mengharapkan satu orang untuk dapat mengubah dan memperbarui seluruh dunia, sekaligus dapat mengerjakan semua pekerjaan pelayanan pada sesama manusia. Anehnya ada orang-orang yang tidak menyadari hal ini. Beberapa di antaranya selalu mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa mereka memiliki kemampuan lebih dari yang Tuhan berikan. Sikap ini mendorong mereka untuk selalu bersaing dengan mereka-mereka yang sudah lebih berhasil dan meremehkan pentingnya waktu untuk beristirahat.

  4. Setiap konselor perlu menyadari keterbatasan diri sendiri yang tak dapat dilampaui tanpa akibat kelelahan jasmani maupun emosi. Seringkali orang lain dapat menolong mengingatkan sejauh mana kita masih dapat memaksakan diri sendiri.

  5. Kita membutuhkan dukungan dari saudara-saudara seiman.

    Sebenarnya tidak pernah ada pelayanan Kristen yang dapat dilakukan sendiri. Kekristenan adalah kehidupan yang dibangun dengan beralaskan Tuhan Yesus Kristus dan berciri-khaskan ikatan kasih antarsaudara seiman. Kita membutuhkan saudara- saudara yang berdoa untuk dan bersama kita. Kita membutuhkan saudara-saudara seiman dan rekan-rekan sepelayanan yang benar- benar menerima kita dalam kasih, mendukung dan mendorong kita, yaitu mereka-mereka yang juga membutuhkan dukungan dan kasih kita dalam pelayanan. Kita semua membutuhkan satu atau dua orang yang dapat menjadi teman berdoa, teman yang terbuka dan jujur mengakui kesalahan, yang dapat memberikan kebebasan dari perasaan tertekan, dan yang betul-betul menginginkan kemajuan pelayanan kita. Setiap kita membutuhkan seorang sahabat yang pada saat-saat tertentu tanpa ragu-ragu kita dapat menangis, tidak merasa malu untuk mengutarakan perasaan kita yang sebenarnya, teman tempat meminta pengertian, dan yang dapat menyimpan rahasia-rahasia pribadi.

  6. Bagaimana kita dapat menemukan orang seperti itu? Lihatlah di sekitar kita. Kita pasti akan menemukan orang-orang Kristen yang seperti kita, yang dengan tulus sedang mencari saudara- saudara seiman yang demikian. Barangkali dia terdapat dalam keluarga kita sendiri. Barangkali pula dia saudara seiman di gereja kita. Memang Tuhan tidak menyediakan begitu saja orang- orang yang kita butuhkan. Karena itu, hal menemukan saudara seiman yang kita butuhkan bukanlah hal yang sederhana.

  7. Kita membutuhkan waktu untuk diri kita sendiri.

    Waktu untuk menyendiri guna memperbaharui semangat pelayanan seringkali memang sulit ditemukan. Bahkan sebagian dari konselor merasa bersalah pada saat mereka mengambil waktu beberapa menit untuk rileks, meskipun mereka mengetahui bahwa Tuhan menghendaki hal tersebut. Allah sendiri telah memberikan contoh pada saat Dia beristirahat setelah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya. Tuhan Yesus juga menyediakan waktu khusus, menyingkir dari orang banyak untuk berdoa, beristirahat, bahkan rileks.

  8. Tidaklah benar kalau keberhasilan bergantung kepada kerja berat tanpa istirahat. Kita akan segera menemukan bahwa setelah jangka waktu tertentu, efisiensi kerja kita mulai menurun. Jelas kita tak mungkin dapat menjadi konselor yang efektif kalau kita tidak secara teratur menyediakan waktu untuk memperbaharui kekuatan fisik, mental, sosial, dan spiritual -- walaupun untuk itu kita harus meninggalkan orang-orang yang "membutuhkan" pertolongan kita.

    Masa istirahat memberikan perspektif yang baru yang sebelumnya tidak kita sadari, sekaligus menjernihkan pikiran buntu yang disebabkan oleh masalah-masalah konseling yang tidak habis- habisnya. Dengan memberi waktu untuk diri sendiri seringkali kita menemukan inspirasi yang baru dalam pelayanan kita, bagaimana mengatur waktu dan memilih prioritas di tengah seribu satu macam tawaran pelayanan. Tidak mengherankan kalau waktu untuk diri sendiri memberikan semangat yang baru dan kesegaran pelayanan pada konselor.

  9. Kita perlu membagi tugas dan tanggung jawab.

    Memang hal yang termudah untuk mencapai kepuasan dalam penyelesaian tugas adalah dengan mengerjakannya sendiri. Prinsip seperti ini barangkali mempengaruhi tingkah laku kita dalam pelayanan. Meskipun tanpa kita sadari Allah sendiri tidak bekerja dengan cara seperti itu. Ia yang sempurna dan Maha Kuasa ternyata memakai manusia-manusia yang tidak sempurna untuk menyelesaikan tujuan yang dikehendaki-Nya. Tuhan Yesus dengan segala ke-Maha Kuasaan-Nya sebenarnya tidak membutuhkan murid-murid. Ia pasti dapat mencapai pemberitaan Injil-Nya ke seluruh dunia dengan jalan yang lain. Mengherankan bahwa Dia melatih murid-murid, mendelegasikan tanggung jawab dengan resiko kegagalan dalam pekerjaan tersebut.

  10. Tidak semua orang Kristen adalah konselor, tetapi setiap orang Kristen telah dipanggil untuk dapat memikul beban sesama (baca: Galatia 6:2). Kita hidup untuk saling melayani. Oleh sebab itu, konselor yang efektif pasti melibatkan orang-orang lain dalam pelayanannya pada sesama.

Sumber
Halaman: 
189 - 192
Judul Artikel: 
Konseling Kristen yang Efektif
Penerbit: 
Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1998

Komentar