Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Orang Tua Tunggal

Ringkasan tanya jawab bersama Pdt. Paul Gunadi, Ph.D. berikut ini, kami harapkan bisa semakin melengkapi sajian edisi kali ini yang mengangkat topik tentang Orang Tua Tunggal.

ORANG TUA TUNGGAL

T : Sebenarnya apa saja yang menyebabkan terjadinya orang tua tunggal?

J : Ada 3 di antaranya, yaitu: PERTAMA adalah jikalau pasangan hidup kita meninggal dunia, otomatis itu akan menjadikan kita sebagai orang tua tunggal. KEDUA adalah pasangan hidup kita meninggalkan kita untuk waktu yang sementara, namun dalam kurun yang panjang. Misalnya suami yang harus pergi ke pulau atau ke kota lain guna mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Atau anak yang dikirim di kota lain atau bahkan ke negara lain dimana akhirnya si ibu pergi menemani si anak untuk belajar dan si ayah tetap di kotanya. Atau mungkin yang lebih bersifat tragedis, jikalau seorang pria misalkan ditangkap dan dipenjarakan, dan istrinya terpaksa harus diam di rumah dan membesarkan anak-anak mereka. KETIGA adalah yang lebih umum, yakni perceraian. Saat ini lebih banyak orang tua tunggal yang muncul dari kategori yang ketiga ini.


T : Kalau dalam satu keluarga mempunyai orang tua tunggal, apa akibatnya?

J : Ada beberapa akibat langsung, namun pada dasarnya kehilangan figur ayah atau ibu dalam rumah tangga pasti membawa akibat pada pertumbuhan anak-anak dan juga pada yang ditinggalkannya. Misalnya yang harus pergi adalah ayah dan yang tinggal adalah ibu, dampaknya juga akan mempengaruhi si ibu yang ada di rumah. Pertama, bisa sekali terjadi hilangnya interaksi langsung dari orang tua tersebut, waktu si ayah tidak ada otomatis anak-anak hanya akan berinteraksi dengan ibu. Ini akan mempengaruhi pertumbuhan si anak karena anak itu sebetulnya sangat memerlukan pembicaraan, tukar pikiran, dialog dengan ayah pula. Dia juga harus mendapatkan banyak informasi tentang bagaimana menjadi seseorang, dalam hal ini seorang pria, dari figur si ayah tersebut. Tatkala figur ayah tidak ada lagi dalam rumah, terjadilah kepincangan di sini. Kedua, hilangnya kesempatan untuk meneladani perilaku atau sikap orang tua yang tidak ada lagi itu. Anak belajar bukan saja dari pembicaraan yang dilakukannya dengan orang tua, tapi anak belajar terutama dari apa yang dilihatnya, bagaimana orang tua mengerjakan sesuatu, bagaimana orang tua bergerak, bersikap, mengekspresikan kejengkelan, menghadapi kesedihan, atau mengatasi pertengkaran di antara mereka. Bagaimana orang tua mendisiplin si anak adalah aspek-aspek dalam kehidupan yang tidak bisa diberikan melalui buku pelajaran. Itu adalah aspek- aspek dalam kehidupan yang riil, yang hanya bisa dipelajari melalui pengalaman langsung.


T : Dari ketiga kasus kemungkinan terjadinya orang tua tunggal, sebenarnya mana yang paling berdampak?

J : Kalau secara negatif, perceraian itu berdampak paling negatif dan yang kedua adalah kalau salah seorang dari orang tua itu harus mendekam di penjara. Orang tua (misalkan ayahnya) yang mendekam di penjara berdampak negatif bagi si anak karena si ibu ini suatu kali harus menjelaskan mengapa si ayah mendekam di penjara. Kecenderungannya adalah ibu-ibu ini tidak akan menjelaskan kepada anak, namun kalau ibu ini terus-menerus menutupi, si anak lama-kelamaan akan mencurigainya sebab semua penjelasan itu tidak akan lagi masuk akal. Pada titik inilah si ibu harus mengatakan terus terang bahwa si ayah memang mendekam di penjara. Sedikit yang positif dalam kasus si ayah yang sangat berperilaku negatif, dia sangat merusakkan keluarga tersebut. Contohnya, setiap kali di rumah dia berkelahi dengan istrinya, memukuli istrinya, mengancam anaknya, mau membunuh anaknya, itu kasus- kasus yang kadang kala terjadi. Nah kepergiannya akan membawa kelegaan. Dalam peristiwa itu kepergian si ayah justru akan membawa dampak positif pada si anak.


T : Memang hal itu sulit diperkirakan lebih dulu tetapi kalau kita menyadari bahwa hal itu bisa terjadi sewaktu-waktu, apa yang bisa dilakukan orang tua dalam hal mempersiapkan anak sementara mereka masih bersama-sama?

J : Yang penting jangan terlalu sering membicarakannya karena akan menimbulkan rasa takut yang berlebihan pada si anak. Sehingga anak senantiasa bertanya-tanya kapankah ayahnya atau ibunya akan diambil pergi oleh Tuhan.

Yang perlu disampaikan adalah bahwa hidup ini tidak hanya di bumi, kita juga akan hidup bersama Tuhan di Surga. Yang harus kita tekankan adalah bahwa kita hidup bersama di Surga adalah hidup yang jauh lebih baik dari hidup di masa sekarang ini di bumi. Kita juga harus menekankan bahwa Tuhan ialah Tuhan yang baik, Tuhan yang mencintai kita, memelihara kita, dan sebagai bukti cinta-Nya untuk kita Dia rela mati untuk dosa kita. Ini perlu ditekankan, sebab anak-anak perlu mempunyai konsep yang betul tentang kematian, tentang orang tua dipanggil Tuhan. Kalau tidak, dia akan mengembangkan konsep yang negatif terhadap Tuhan. Berikutnya kita juga harus menekankan bahwa hidup ini sementara, bahwa kita tidak akan selalu bersama dia, dan kita tidak mengetahui kapan kita akan meninggalkan mereka. Dan sebaliknya kita juga bisa tunjukkan kepada mereka bahwa suatu hari kelak mereka pun akan meninggalkan kita atau meninggalkan bumi ini. Jadi perlahan-lahan konsep itu bisa kita sampaikan, namun kita sampaikan tidak sekaligus. Sekali-sekali secara berkala waktu topiknya muncul dalam saat teduh bersama itu kita munculkan, sehingga mereka akhirnya dibuat lebih realistik dalam hidup ini. Nah dengan cara itulah saya kira anak akan lebih bersiap hati jikalau memang benar-benar harus meninggalkan mereka.


T : Adakah firman Tuhan yang bisa disampaikan untuk memberikan saran pada anak atau orang tua yang tunggal ini?

J : Lukas 18:7,8. "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya dan adakah Dia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka. Aku berkata kepadamu Ia akan segera membenarkan mereka akan tetapi jika anak manusia datang adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Yang ditekankan di sini adalah Allah akan membenarkan orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya, dan Allah tidak akan mengulur-ulur waktu untuk menolong mereka. Bagi orang tua tunggal memang bebannya sangat besar tapi kita mesti mengingat firman Tuhan ini bahwa Allah akan membenarkan orang tua tunggal, bahwa Allah juga akan menolong mereka dan tidak akan mengulur-ulur waktu, sebab Allah memperhatikan mereka dengan beban yang mereka pikul itu.


Sumber : Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #057A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)xc.org> atau: < TELAGA(at)sabda.org > ]]

Sumber

Komentar