Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Melakukan Kehendak Allah

Nats:
1 Yohanes 2:15-17;
Yohanes 4:34; 6:38;
Lukas 22:42;
Kisah Para Rasul 13:22,36

Pendahuluan

Kita akan membahas tema mengenai "kehendak Allah". Ini merupakan suatu tema yang besar dan begitu penting dalam hidup kita. John Calvin mengatakan, "Nothing is greater than the will of God except God Himself (Tidak ada yang lebih besar daripada kehendak Allah selain Allah sendiri)." Dalam perenungan yang singkat ini, kita akan berfokus kepada hal melakukan kehendak Allah sebagai filsafat hidup.

  1. Melakukan kehendak Allah sebagai filsafat hidup orang Kristen.

    Jika filsafat hidup kita salah, makna dan tujuan hidup kita juga akan salah, akibatnya hidup kita pun akan bermasalah. Menurut pengamatan saya, filsafat hidup kebanyakan orang ialah untuk mencari kebahagiaan. Banyak orang yang hidup dengan harapan mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah mereka dapatkan. Karena kebahagiaan bukanlah sasaran yang harus kita kejar, maka orang yang mencari kebahagiaan itu terperangkap dalam kehidupan yang tidak bahagia. Seperti mengejar bayangan; makin dikejar justru semakin menjauh. Orang Kristen seharusnya telah belajar untuk mengarahkan tujuan hidupnya pada sasaran yang lebih sejati, yaitu melakukan kehendak Allah. Kebahagiaan adalah buah dari hidup yang melakukan kehendak Allah (bdk. Matius 6:33).

    Menurut para pencari kebahagiaan, bagaimanakah mereka dapat memeroleh kebahagian itu? Mereka berpikir akan berbahagia jika hidup mereka nyaman, bebas dari kesulitan, dan keinginan mereka terpenuhi. Orang yang demikian pasti akan selalu dalam keadaan labil dan tidak puas. Karena bukankah jika situasi hidup mereka tidak sesuai dengan yang mereka harapkan atau penuh kesulitan, itu berarti mereka sudah tidak dapat berbahagia? Dan jika kini mereka hidup dalam kenyamanan, apakah ada jaminan keadaan itu tidak berubah? Bukankah dunia ini penuh dengan perubahan dan ketidakpastian? Ketika perubahan tiba, mereka pasti akan menjadi tidak bahagia. Bahkan pikiran mengenai kesulitan sudah akan membuat mereka tidak dapat merasa bahagia ketika berada di dalam kenyamanan hidup mereka. Filsafat hidup yang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama adalah salah, menipu diri sendiri, dan merusak; karena membutakan orang untuk melihat anugerah Tuhan yang berlimpah dalam setiap situasi kehidupannya.

    Tuhan yang menjanjikan hidup yang berkelimpahan dan berkemenangan tidak pernah menjanjikan hidup yang tanpa masalah. Sebaliknya, Ia memperingatkan kita untuk mengantisipasi datangnya kesulitan dan penderitaan, namun dengan menjanjikan bahwa dalam semua itu kita dapat menjadi orang yang berkemenangan. Yesus Kristus, manusia yang penuh dengan kesengsaraan itu, justru memiliki hidup yang berkemenangan dan berkelimpahan, sehingga bukan saja Ia menjadi orang yang bahagia, tetapi dapat memberikan damai sejahtera dan sukacita-Nya kepada kita. Inilah salah satu ciri yang menjadikan kekristenan Yesus Kristus bersifat ilahi dan melampaui keagamaan alamiah; kehidupan yang berkelimpahan dan penuh sukacita sejati di tengah segala beratnya kesulitan yang menimpa-Nya.

    Sungguh ironis, orang yang paling bersukacita sering kali bukanlah yang hidupnya lancar, tetapi justru mereka yang mengalami banyak penderitaan dan kesulitan, namun menyikapinya dengan benar sehingga mereka muncul sebagai orang yang hidupnya paling berkelimpahan dan penuh sukacita. Kehidupan Richard Baxter menyaksikan kebenaran ini. Walaupun menghadapi banyak kesulitan, seperti dipenjara dan kematian istri, namun ia menemukan kesukaan terbesar di dalam Allah. Rahasia rohani ini diungkapkan Rasul Paulus ketika ia berkata, "... aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan ... baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 4:11-13).

  2. Mengapa kita harus menjadi pelaku kehendak Allah?

    1. Melakukan kehendak Allah merupakan esensi kehidupan manusia.

      Manusia diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu, kewajiban kita ialah melakukan kehendak Allah. Adam adalah manusia pertama yang mengalami kegagalan. Akibatnya, kita pun hidup dalam kegagalan bersamanya sebagai pemberontak kehendak Allah. Yesus Kristus telah membalikkan keadaan ini. Dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, Yesus Kristus telah menjalani seluruh kehendak Allah. Dialah satu-satunya manusia yang menjalani kehidupan-Nya dengan begitu sempurna sehingga mengenai Dia, Bapa berkata, "Inilah Anak-Ku yang kekasih, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Matius 3:16). Dia telah memberikan kesempurnaan hidup-Nya sebagai kebenaran sehingga kita dapat diampuni dan diterima oleh Allah.

      Allah menghendaki kita, yang telah menerima penebusan Kristus, menjadi penurut-penurut Allah. Kita patut mengikuti teladan Kristus, yang melakukan seluruh kehendak Bapa. Yesus Kristus telah memberikan paradigma baru bagi kehidupan yang benar: "Not my will, but Thy will be done!" Dasar penilaian atas kehidupan kita bukanlah karena pernah hidup enak, jenius, dan berkuasa, tetapi apakah kita melakukan kehendak Allah atau tidak. Alasan orang-orang yang merasa mengikuti dan melayani Tuhan, namun akhirnya justru dibuang Tuhan ialah karena mereka bukan pelaku kehendak Allah (Matius 7:21). Kerinduan terbesar orang Kristen ialah supaya kehendak Allah diberlakukan di dalam dunia ini melalui kehidupan dan pelayanan kita. Itulah sebabnya, kita selalu berdoa, "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Matius 6:10).

      Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud; Saul menolak kehendak Allah dalam hidupnya dan mendukakan hati Allah sehingga ia ditolak oleh Allah. Sebaliknya, Daud adalah "seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku" (Kisah Para Rasul 13:22). Tetapi tokoh rohani terbesar yang harus menjadi teladan kita ialah Yesus Kristus, yang menjadikan ketaatan kepada kehendak Allah sebagai inti hidupnya dan esensi pelayanan-Nya. Menjadi orang Kristen yang tidak melakukan kehendak Allah adalah hal yang tak terbayangkan.

    2. Melakukan kehendak Allah adalah kuasa transenden untuk mengatasi keremehan dan kefanaan menuju makna dan kekekalan.

      Manusia hidup dengan segala aktivitas dan kesibukannya, tapi apakah semua itu membuat kita bahagia? Kitab Pengkhotbah mengajarkan bahwa semua yang kita lakukan itu merupakan hal yang sia-sia. Mungkin banyak orang yang ingin hidup seperti Salomo: terkenal, berkuasa, kaya raya, dan berlimpah dengan kenikmatan. Keberhasilan kita mungkin membuat orang lain mengagumi kita, tetapi semua itu sia-sia jika Tuhan menolak dan menganggap kita miskin dan bodoh, seperti orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus (Lukas 12:13-21). Ia dikecam bukan karena ia kaya, tetapi karena hatinya bodoh dan jiwanya miskin di hadapan Allah.

      Dalam perspektif Alkitab, kesuksesan manusia mungkin merupakan penghalang dan kutuk karena membuat kita berpuas diri, tenggelam dalam kenikmatan dunia, dan mengalihkan perhatian kita dari Tuhan dan kehendak-Nya. Seperti diungkapkan oleh Blaise Pascal, kebodohan manusia tampak dalam sikapnya yang meremehkan hal terpenting bagi jiwanya yang kekal, untuk mengejar hal-hal yang sekunder dan remeh. Itulah sebabnya, pengalaman kehancuran atau berada di tepi jurang kematian telah menolong banyak orang untuk menyadari esensi hidup mereka yang sesungguhnya. Hidup di dunia hanya sementara, jadi janganlah sia-siakan hidupmu selama di dunia!

      Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan konsep kekal (Pengkhotbah 3:11). Oleh karena itu walaupun hidupnya singkat, ia ingin mengatasi kesementaraan dan mengarahkan dirinya pada kekekalan. Satu-satunya jalan supaya kita tidak ditelan oleh waktu dan kefanaan ialah melakukan kehendak Allah. Waktu dan masa berlalu dan kerajaan Mesir yang pernah begitu megah dan mulia kini hanya tinggal prasasti dan piramida. Begitu juga para Firaun itu kini hanya tinggal mumi yang diawetkan, tetapi Musa meninggalkan segala kemuliaan Mesir demi melakukan kehendak Allah yang tidak dapat disapu oleh kesementaraan waktu. Sebaliknya, dia berdiri tegak untuk memberikan makna bagi pergerakan sejarah umat manusia di sepanjang masa. "Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1 Yohanes 2:17).

      Manusia tidak rela digeser oleh waktu, mereka ingin selalu diingat sehingga mereka mendirikan monumen sebagai peringatan akan dirinya. Tetapi berhati-hatilah, kalau bukan atas kehendak Allah, maka monumen yang kita dirikan bukannya mendatangkan kebanggaan, sebaliknya justru menjadi peringatan tentang dosa dan kehancuran kita.

      Sejarah dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dalam pengertian yang mendasar, benang merah sejati dari sejarah ialah kehendak Allah. Ada saatnya gereja atau kita berada di dalam posisi yang dimarginalkan, pihak yang disingkirkan, dianiaya, dibunuh, atau sebaliknya berada di posisi puncak dan terhormat, tetapi semua itu tidak ada artinya. Hal yang menentukan ialah apakah mereka menjaga dirinya agar terus berada di garis benang merah kehendak Allah, setelah itu baru mereka memiliki signifikansi dalam sejarah.

      Hidup akan terus berjalan dan waktu pun akan berlalu. Semua talenta, harta, dan kesempatan yang kita miliki akan hilang atau menjadi tidak berarti. Biarlah semua yang kita kerjakan di dunia ini kita lakukan dalam ketaatan kepada kehendak Allah, sehingga semua itu memunyai nilai kekal, memuliakan Tuhan, dan menghasilkan buah. Jangan sia-siakan karunia yang telah Tuhan berikan kepada Anda; pakailah talenta yang Tuhan berikan itu untuk melakukan kehendak Allah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Seperti kata Bunda Teresa, "Biarlah setiap orang yang datang kepada kita tidak kita biarkan pergi tanpa merasakan hidupnya lebih berarti dan dikasihi Tuhan." Ingat peribahasa ini: "Bukan karena berkelimpahan maka kita memberi, tetapi ketika memberi kita menjadi limpah."

    3. Melakukan kehendak Allah adalah kuasa transformasi yang mengubah kelemahan dan penderitaan menjadi kemenangan dan hidup yang berkelimpahan.

      Situasi kehidupan ada saatnya menjadi terasa begitu berat untuk dijalani. Kesusahan, pencobaan, penderitaan, dan kesedihan melanda hidup kita. Dalam keadaan demikian, sebagian orang mungkin menjadi goncang dan mempertanyakan kebaikan Allah. Tetapi orang yang percaya pada providensia Allah, berusaha mencari maksud dan kehendak Allah di dalam situasi hidup mereka. Ketika mengetahui bahwa kesulitan yang ia alami itu adalah bagian dari kehendak Allah, kesulitan itu tidak lagi menjadi terlalu berat, apalagi jika melalui kesulitan itu Tuhan mengerjakan perkara yang mulia, mereka akan menyambutnya dengan sukacita. Penderitaan menjadi ringan ketika Rasul Paulus mengetahui maksud baik Allah yang terkandung di dalamnya (2 Korintus 4:17).

      Apakah di tengah penderitaan yang kita alami, kita tetap setia atau mulai mengeluh, bersungut-sungut, dan mendukakan hati Tuhan? Tuhan tidak akan memberikan pencobaan yang melampaui kekuatan kita, dan waktu kita dicobai, Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar (1 Korintus 10:13). Ia berkuasa mengubah pengalaman suram kita menjadi pengalaman indah bersama Tuhan. Paulus mengatakan umat Allah mengalahkan dunia, "We are more than conquerors", kita lebih daripada pemenang karena kuasa transformasi yang Tuhan berikan.

      Orang-orang yang percaya pada pimpinan dan anugerah Tuhan akan memanfaatkan setiap kesulitan dan malapetaka yang menimpa hidupnya itu untuk mendatangkan kebaikan. Ketika kita mentransformasi kesulitan menjadi berkemenangan, kesulitan justru tidak menjadi batu sandungan, tapi batu loncatan. Namun, bagaimana hal itu dapat terjadi? Mereka menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak Allah, mereka memilih untuk melakukan kehendak Allah. Walaupun Fanny Crosby mengalami kebutaan sejak bayi, ia tidak pernah mengeluh, bahkan menyatakan kebaikan di dalam situasinya itu. Banyak hal indah yang ia alami dan hasilkan karena ia mencari kehendak Allah di dalam situasi hidupnya. Hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang melalui syair lagu yang digubahnya. Begitu juga dengan Joni Eareckson Tada, wanita abad ke-20, yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan. Setelah ia dapat menerima kehendak Allah di dalam kelumpuhannya itu, kelumpuhannya ditransformasi menjadi berkat bagi jiwanya, dan dari situlah hidupnya dapat menjadi berkat bagi jutaan orang.

      Orang yang menerima kehendak Allah di dalam hidupnya akan mentransformasi semua kelemahan, kesulitan, dan penderitaan yang ia alami itu menjadi berkat, kekuatan, dan kemenangan. Kerohanian yang terbaik, karya terbaik, dihasilkan melalui pengalaman kesulitan yang ditransformasi karena menyerahkan hidup mereka kepada kehendak Allah. Setelah pergumulan rohani yang penuh kepahitan itu diubahkan, barulah Asaf dapat berkata, "Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya" (Mazmur 73:26). Orang yang menyerahkan hidupnya untuk taat kepada kehendak Allah akan melihat bagaimana kelemahan kita itu diubah menjadi kekuatan; kesedihan kita diubah menjadi kesukaan; pengalaman pahit kita diubah menjadi pengalaman terindah bersama Tuhan.

      Saya sampai pada kesimpulan: lebih baik kita menderita asal melakukan kehendak Allah daripada hidup bahagia, tetapi di luar kehendak Allah. Apakah kita mau bertekad melakukan kehendak Allah meski tantangan besar menghadang di depan kita? Jangan takut, Tuhan pasti akan memberikan kekuatan sehingga kita dapat melaluinya dan kita akan beroleh kemenangan dan hidup yang berlimpah. Amin.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Gereja Reformed Injili Indonesia Surabaya-Andhika
Penerbit: 
--

Komentar