Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Tidak Menuruti Rencana Allah, Berarti Tidak Memiliki Hidup dengan Berkelimpahan

Edisi C3I: e-Konsel 152 - Patah Hati

Allah menghendaki supaya umat-Nya menikmati kehidupan dengan berkelimpahan. Tuhan Yesus telah berkata: "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yohanes 10:10). Banyak yang dikatakan Tuhan yang sejalan dengan pikiran ini:

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu" (Yohanes 14:27).
"Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak" (Yohanes 15:5).
"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku" (Yohanes 15:7-8).
"Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh" (Yohanes 15:11).
"Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya, sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yohanes 4:14).
"Barangsiapa yang percaya kepada-Ku seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci; dari dalamnya akan mengalir aliran air hidup" (Yohanes 7:38).

Daud memberi gambaran yang hampir sama di dalam Mazmur 23.

"Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku, Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghiburku, ... pialaku penuh melimpah."

Bukankah ayat-ayat Alkitab ini dan ayat-ayat yang lain menjanjikan dan menunjukkan suatu kehidupan berlimpah-limpah untuk umat Allah? Di dalamnya dapat terlihat hidup yang berkelimpahan, sejahtera yang sempurna dan abadi, kesuburan, kemuliaan kepada Allah, sukacita yang bercahaya dan kekal, kepuasan jiwa dan batin, pengalaman yang melimpahkan berkat seperti yang dilukiskan oleh Daud, piala yang membumbung, untuk hidup ini sampai selama-lamanya. Hidup yang demikian adalah warisan dan milik yang mungkin dialami oleh tiap-tiap anak Tuhan. Allah sudah menyediakannya bagi kita dan sudah menjanjikannya kepada kita, dan rindu sekali supaya kita memilikinya. Kalau begitu, apakah sebabnya begitu sedikit orang Kristen yang benar-benar mengalami hidup yang berkelimpahan ini? Apakah sebabnya begitu banyak orang Kristen seolah-olah merangkak di dalam debu, dan tidak pernah mendapat kepuasan yang penuh di dalam Kristus? Apakah sebabnya begitu sedikit orang Kristen menikmati pergaulan dengan Tuhan? Dalam kata lain, apakah sebabnya ada orang beriman yang masih belum mengalami kehidupan yang berkelimpahan di dalam Kristus yang sebenarnya begitu sering disebut dalam Alkitab dan dalam kesaksian Kristen? Jawabannya adalah karena mereka tidak hidup di dalam atau menurut kehendak Allah yang sempurna.

Apabila seorang Kristen tidak menuruti kehendak Allah yang sempurna, entah karena kelemahannya, entah ketidaktaatan yang sengaja, entah pula karena kurang pengetahuan akan kehendak itu, maka ia tidak mengenal sukacita dari kehidupan yang berkelimpahan itu. Dapatkah seorang istri yang tidak setia kepada perjanjian pernikahannya dan kepada kerinduan cinta suaminya yang tulus ikhlas, menikmati persekutuan yang mesra dan sempurna dengan suaminya? Dapatkah seorang anak laki-laki yang tidak taat dan melanggar kehendak ayahnya memunyai persekutuan yang bahagia dan sempurna dengan ayahnya? Dapatkah seorang usahawan memunyai hubungan yang sempurna dan persekutuan yang betul dengan rekannya jikalau ia selalu mengabaikan dan melanggar kehendak dan keinginannya itu? Dapatkah seorang bersekutu dengan sahabatnya, bilamana yang satu tidak menghiraukan kehendak yang lain atau dengan sengaja melanggar keinginannya yang pribadi? Tentu saja seorang Kristen yang tidak hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah bagi hidupnya, tidak dapat mengalami berkat dan sukacita yang berkelimpahan. Hal ini tidak dapat dibantah.

Jika dipandang dari sudut hak-hak yang luar biasa dan dari sudut kehendak ilahi yang sempurna, sekurang-kurangnya kehidupan Kristen akan meliputi tiga perkara.

  1. Kehidupan Kristen dalam kehendak Allah akan memuaskan segala keinginan batin hati sendiri. Mazmur 23:5; 63:6-7; 107:9, Yohanes 4:13-14; 7:37-38; 14:27, dan seterusnya.

  2. Kehidupan Kristen dalam kehendak Allah akan mempermuliakan Allah -- bagi Allah. Yohanes 15:8, Matius 5:10, 1 Korintus 6:20, Efesus 1:6.

  3. Kehidupan Kristen dalam kehendak Allah akan menghasilkan keselamatan, kebangunan, dan berkat bagi orang lain -- bagi manusia. Kisah Para Rasul 4:13; 9:15, 1 Korintus 4:9, 2 Korintus 4:10-11, Galatia 1:16; 6:10, Filipi 1:20, Lukas 24:47-48, dan seterusnya.

Semakin banyak kita menaklukkan diri dan menyesuaikan diri dengan kehendak Allah, semakin nyata ketiga perkara ini di dalam dan melalui kehidupan kita. Semakin kurang kita menyesuaikan diri dengan kehendak itu, semakin kurang nyata juga hal-hal itu. Ini dapat dimengerti dengan mudah.

Sumber
Halaman: 
21 -- 24
Judul Artikel: 
Pedoman Mencari Kehendak Allah
Penerbit: 
YAKIN, Surabaya

Komentar