Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengenai Persahabatan: Sebuah Wawancara dengan Madeleine L'Engle

Apa artinya persahabatan?

Persahabatan bisa merupakan sebuah cermin yang di dalamnya saya bisa melihat diri saya sendiri dan mengetahui, melalui pemusatan perhatian pada sahabat saya, apa yang perlu saya lakukan agar saya menjadi lebih manusiawi. Bagi saya persahabatanlah yang membuat dunia berputar. Saya menghargai kawan-kawan saya; saya tahu mereka akan menerima saya sebagaimana adanya dengan segala kesalahan dan kekurangan dan semangat saya--tetapi saya pun menerima mereka dengan kasih yang sama. Yang saya maksudkan bukan penerimaan yang sifatnya membolehkan segala sesuatu sehingga saya tidak akan pernah menunjukkan apa yang sebenarnya salah. Ada rasa tanggung jawab tertentu di dalam persahabatan seperti dalam hubungan-hubungan yang lain. Misalnya, ada tanggung jawab penyunting saya untuk menunjukkan apa yang perlu saya lakukan guna mengubah tulisan saya sehingga menghasilkan buku yang lebih baik. Di sinilah kawan bisa atau seharusnya berfungsi sebagai sebuah cermin.

Dua hal nampak sangat penting dalam persahabatan; pertama adalah kenal sejak lama -- fakta bahwa Saudara telah mengenal seseorang sejak lama, memperhatikan dia bertumbuh dan berkembang, dan selama jalan hidup Saudara tidak memisahkan Saudara untuk waktu sangat lama, Saudara sama-sama merasakan sejarah masa lampau. Saudara tidak perlu mempunyai persamaan dalam segala hal. Saya memiliki beberapa kawan yang saya kenal sejak remaja dan ada banyak hal dalam hidup kami yang benar-benar berbeda, tetapi kami telah saling mengenal keluarga kami dan telah tumbuh dewasa dengan bersama-sama merasakan banyak hal dalam hidup ini. Dasar kedua bagi persahabatan adalah kecocokan: menertawakan hal yang sama, menangisi hal-hal yang sama, suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan hebat bersama-sama -- pertanyaan tentang alam semesta. Saya mempunyai seorang sahabat baik sekali selama beberapa tahun saja. Ia juga seorang penulis, dan kami tidak pernah berkumpul tanpa berbicara mengenai Tuhan. Hal itu merupakan dasar paling baik bagi persahabatan, persoalan mengenai Pencipta kita.

Sejauh manakah hubungan seseorang dengan Tuhan mempengaruhi persahabatannya?

Jika ada perbedaan besar dalam konsepsi dua orang mengenai Tuhan, saya rasa persahabatan, yang mendalam dan menyenangkan tidak mungkin bertumbuh -- karena pengertian kita tentang sifat Allah mempengaruhi cara berpikir kita mengenai diri kita sendiri dan segala hal lain di dunia ini. Jikalau seseorang memandang Tuhan sebagai hakim yang suka marah dan penuh dendam, orang itu tidak mungkin mau bersahabat erat dengan saya. Hal ini dikarenakan saya melihat Tuhan dalam Alkitab sebagai Tuhan yang penuh kasih dan suka mengampuni. Di antara orang Kristen pun ada penekanan yang berbeda-beda, dan saya mempunyai kawan-kawan yang melihat Tuhan secara berbeda dengan saya. Tetapi saya bisa mendengar mereka dan mereka mendengarkan saya; kami tidak saling menutup diri.

Bagaimana sahabat memperkaya kita?

Kebanyakan teman-teman saya adalah orang-orang yang betul-betul kreatif dalam banyak hal. Kawan terlama dan terdekat saya -- sejak saya remaja -- adalah seorang dokter yang cemerlang. Walaupun saya penulis buku fiksi dan ia menekuni sains, kami mempunyai tanggapan yang sama persis waktu berjalan melintasi pemandangan alam yang indah dan tiba-tiba melihat tanaman yang jarang ada. Kami memberi tanggapan dengan cara yang sama terhadap keindahan yang ditunjukkan oleh Sang Pencipta dalam karya-Nya. Ada juga pengalaman saya yang merupakan contoh kontras, yaitu dengan seorang kawan lain semasa saya masih di Sekolah Dasar dulu. Saya masih ingat waktu kami saling berteriak ketika menafsirkan drama Shakespeare atau puisi Browning, dan orang berkata, "Putuslah persahabatan mereka." Lalu setengah jam kemudian kami akan berjalan bersama bergandengan tangan, tidak hanya bersahabat saja, tetapi malahan sangat harmonis. Namun kami sangat menyadari bahwa kami tidak bisa tinggal sekamar.

Bagaimana tentang persahabatan yang menghancurkan? Bagaimana jika memutuskan persahabatan dirasa sebagai jalan yang terbaik?

Jikalau persahabatan kita sama sekali tidak bermanfaat, atau jika kita merasa bahwa orang lain itu berusaha mengubah diri kita, barangkali untuk sementara kita mundur dulu. Saya rasa kita tidak perlu memutuskan suatu persahabatan untuk selamanya. Sewaktu saya mula-mula keluar dari perguruan tinggi dan bekerja di teater di New York, saya melibatkan diri dengan sekelompok aktor dan aktris muda yang sangat berbakat. Lalu perlahan-lahan saya menyadari bahwa mereka mempunyai gaya hidup yang agak kacau. Mereka menjalani semacam kehidupan yang saya anggap tidak cocok dengan kehidupan saya, sebagai seseorang yang sedang berusaha melayani Tuhan. Oleh sebab itu saya menarik diri dengan cara yang saya harap dapat dilihat sebagai suatu pernyataan, tetapi seramah mungkin. Saya menyadari bahwa kalau saya tetap terlibat dengan kelompok itu maka ada kemungkinan malah ditarik ke dalam kehidupan mereka dan ini tentu akan sangat merusak hidup saya.

Bagaimanakah memulai suatu persahabatan?

Persahabatan yang sungguh-sungguh rupanya dimulai pada masa remaja; saat itulah kita secara sadar bisa membangun hubungan. Pada saat itu kaum muda mulai mengerti prinsip persahabatan dan sanggup mengadakan pilihan. Saya ingat ketika saya berjalan-jalan dengan seorang pemuda, saya tahu bahwa persahabatan ini dapat berlangsung apabila kami sepakat berbicara tentang Tuhan dan mendiskusikan ide-ide kami. Saya biasanya bisa bercerita dengan cepat ketika bertemu seseorang kalau saya memiliki suatu dasar bagi persahabatan dengannya. Jika percakapan tetap berkisar pada hal-hal yang tak karuan, maka saya menyadari bahwa saya tidak akan menjadikannya seorang sahabat tetap.

Di samping kedangkalan, apa lagi yang harus kita waspadai dalam persahabatan ini?

Sangat sulit bersahabat dengan orang yang menganggap dirinya selalu paling tahu -- karena itu adalah semacam manipulasi. Kadang-kadang keadaan itu tidak jahat, tetapi toh bersifat merusak. Akar manipulasi adalah kesombongan -- menganggap dirinya sama dengan Tuhan, mengetahui segala sesuatu, dan merasa mempunyai hak untuk mengendalikan orang lain. Manipulasi bukan merupakan dasar bagi persahabatan atau bagi pengertian yang sesungguhnya tentang kodrat manusia. Kita semua adalah anak Tuhan, yang memiliki gambaran Allah di dalam diri kita (yang kadang-kadang sangat tersembunyi), yang merupakan tanda tentang penciptaan yang tidak pernah berhenti. Saya hanya tidak setuju dengan ide bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan berkata, "Oh, baik, sudah selesai." Ia tidak mengatakan sudah selesai sampai Ia berada di kayu salib. Pada waktu Allah menciptakan segala sesuatu, Ia berkata, "Ciptaan ini baik, sangat baik." Ketika saya melihat cucu saya yang baru lahir, saya menimang bayi yang mungil, lengkap dan sempurna -- tetapi belum selesai! Demikian pula saya yakin kita sebagai manusia dipanggil untuk menciptakan bersama- sama dengan Pencipta kita -- untuk saling menolong menuju kedatangan Kerajaan. Itu benar-benar lawan dari manipulasi.

Sifat-sifat sahabat yang bagaimanakah yang selalu Saudara ingat?

Ada satu kata Perancis, "disponible", yang berarti siap kapan saja, tidak peduli bagaimanapun keadaannya termasuk yang tidak menyenangkan. Saya mempunyai kawan-kawan yang menarik, menyenangkan, dan lucu. Tetapi saya mengetahui bahwa jikalau saya benar-benar dalam keadaan terjepit saya tidak akan menghubungi mereka jam 2 pagi. Ada teman-teman lain yang saya tahu dapat saya hubungi kapan saja -- bukan untuk hal-hal yang remeh -- jika ada alasan yang akan mereka disponible. Saya mencoba hidup menurut standar ini juga.

Apakah persahabatan seharusnya diadakan di antara orang-orang yang mempunyai persamaan?

Sudah tentu harus ada tingkat hubungan timbal balik yang tinggi dalam persahabatan. Kita tidak pernah sama persis dengan sahabat kita. Tetapi ada rasa saling bergantung yang Saudara ciptakan, yang di dalamnya masing-masing Saudara memberikan pemberian yang berbeda. Jikalau Saudara terlalu bergantung pada persahabatan maka Saudara cenderung mendewakan sahabat itu, dan Saudara akan meminta sesuatu dari sahabat itu yang seharusnya hanya Saudara minta dari Tuhan. Ada saat-saatnya dalam persahabatan ketika kebutuhan seorang lebih besar daripada kebutuhan orang yang lain, tetapi kemudian keadaan berbalik dan kebutuhan orang lain itulah yang lebih besar. Itu yang disebut hubungan timbal balik dan itulah yang membuat persahabatan tetap berlangsung. Hubungan timbal balik bisa terjadi antara orang-orang yang sangat berbeda usia dan sifatnya. Sepanjang hidup saya, saya memiliki sahabat-sahabat dari segala usia. Pada waktu saya masih muda, banyak dari kawan saya yang jauh lebih tua usianya; dan sekarang ketika saya menjadi semakin tua saya mempunyai kawan-kawan yang agak lebih muda umurnya tetapi saya juga mempunyai banyak sahabat yang seusia dengan saya. Tetapi walaupun berbeda usia, sering kali ada kecocokan ide dan kesamaan pikiran tentang banyak persoalan.

Apa yang kita ketahui tentang proses pembentukan persahabatan? Nah, satu hal penting adalah bahwa persahabatan itu memerlukan waktu. Saudara mungkin bertemu seseorang dan segera berhubungan. Tetapi sebelum hubungan itu bisa tumbuh menjadi persahabatan yang sungguh, Saudara harus saling mengenal selama suatu jangka waktu. Beberapa orang yang saya temui membuat saya berpikir apakah ini adalah benih yang mungkin akan menumbuhkan suatu persahabatan yang indah? Seringkali dugaan itu terpenuhi, tetapi kadang-kadang tidak. Seperti apa saja yang perlu tumbuh dengan baik, benih pertama itu memerlukan kesetiaan; pengairan, persiapan dan berbunga pada waktunya. Persahabatan mencakup disiplin dan juga keindahan. Diperlukan waktu untuk bertemu secara tetap; perlu usaha untuk duduk dan menulis surat, karena kita semua hidup dengan sangat sibuk, dan kita akan mudah tidak mempedulikan hal-hal ini. Tetapi seperti di dalam perkawinan dan dalam setiap hubungan yang kuat, kita membinanya agar bisa menikmati kebebasan kasih kita.

Persahabatan jangan seluruhnya bergantung pada perasaan. Perasaan memang penting, tetapi jengkel atau kecewa terhadap seseorang jangan sampai merusak hubungan itu. Kita hendaknya tidak membuang atau mematikan persahabatan hanya karena ternyata tidak semuanya menyenangkan. Kadang-kadang kita sebagai kawan harus menunggu sampai orang yang lain itu bisa menanggapi kembali. Biarkan persahabatan itu tidur sampai suatu saat bisa berbunga dan berkembang lagi.

Sumber
Halaman: 
975 - 978
Judul Artikel: 
Pola Hidup Kristen -- Penerapan Praktis
Penerbit: 
Yayasan Penerbit Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup, Lembaga Literatur Baptis, YAKIN, 2002

Published in e-Konsel, 01 June 2004, Volume 2004, No. 64


Komentar