Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Penyalahgunaan Obat Bius

Edisi C3I: e-Konsel 083 - Bebas dari Obat Terlarang

AYAT ALKITAB

Yohanes 8:36    1Petrus 4:3
Roma 6:11-13    Yakobus 1:14,15
Lukas 4:18,21,36    

LATAR BELAKANG

Obat bius adalah zat-zat kimia tertentu yang menghasilkan perubahan- perubahan jasmani, mental, dan psikologis pada pemakainya. Sejak dulu kala, manusia telah melakukan berbagai percobaan dengan obat- obatan, dalam usahanya melarikan diri dari kenyataan. Kini, ratusan juta manusia terlibat dalam penyalahgunaan obat, khususnya obat bius, dari taraf kecanduan ringan seperti kafein, sampai pada kecanduan berat dan ilegal seperti heroin dan kokain.

Siapa pun dapat mengalami kecanduan, baik fisik maupun jiwa pada obat macam apa pun, jika digunakan dalam dosis tinggi dalam jangka waktu cukup lama.

Pecandu obat bisa berasal dari segala lapangan hidup. Kebanyakan akar penyebab ketergantungan berpangkal pada kegelisahan, ketakutan, rasa bersalah, kekecewaan, pelanggaran susila, penyimpangan kehidupan seks, frustrasi, stress, tekanan kelompok dan persaingan sengit seperti dalam olahraga profesional, dan sebagainya. Tambahkan pada urutan tadi, kekosongan rohani yang besar yang mengakibatkan tumbangnya patokan-patokan moral, kehancuran rumah tangga, peperangan-peperangan besar, dan banjir obat yang memungkinkan orang dari segala lapisan usia, termasuk anak-anak kecil, mempergunakannya.

Ketergantungan pada obat adalah masalah pribadi seutuhnya -- rohani, jasmani, emosi, dan sosial. Sekali kecanduan, orang bersangkutan hidup dalam alam khayal, ditandai oleh lumpuhnya perasaan dan tanggapan emosional, penolakan mental dan berkhayal, pengasingan sosial dan hampa rohani. Untuk sebagian orang, keadaan ini tanpa harapan dan pertolongan, suatu keadaan tanpa kemungkinan untuk kembali.

Bagi mereka yang mencari kelepasan, penarikan diri dari masyarakat dapat berakibat pedih, baik jasmani maupun rohani. Penarikan diri ini, bila tidak diikuti perkembangannya, bisa berbahaya! Kelepasan dari ketergantungan dan kemudian pemulihannya, biasanya merupakan suatu proses panjang. Diperlukan suatu sistem pertolongan yang kuat yang melibatkan unsur rohani, emosional, mental, dan jasmani.

Untuk memperoleh pertolongan rohani, pecandu obat harus memiliki keinginan untuk ditolong dan harus mengambil langkah mencari bantuan itu. Di sinilah peran pembimbing Kristen dimulai. Kita harus mengusahakan agar dia menyerahkan diri kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhannya. Langkah awal ini seharusnya membawa dia pada sudut pandang dan motivasi hidup baru yang kemudian, mudah- mudahan, membawanya pada pemulihan hidup seutuhnya.

Bahkan sesudah penyerahan diri kepada Kristus pun, seringkali dibutuhkan penyorotan terhadap masalah-masalah pribadinya, seperti citra diri rendah, kegelisahan, hubungan seks dengan sesama anggota keluarga, homoseks, pelanggaran susila, takut, rasa bersalah, dan sebagainya.

STRATEGI BIMBINGAN

Dapat kita bagi dalam tiga hal:

  • Menolongnya secara rohani dengan menganjurkannya menyerahkan diri kepada Kristus.
  • Mengusahakan hubungan dengan kelompok bantuan pada ketergantungan obat, yang di dalamnya ia dapat mengasingkan diri dan mengalami pemulihan.
  • Temani dia dan berilah dukungan dan kekuatan, sampai dia memiliki pengertian lebih dalam tentang penyerahan dirinya kepada Kristus serta akibat-akibatnya.
  1. Jangan memoralisasi tentang kejahatan obat atau obat bius atau kecanduannya. Pakailah ayat-ayat Alkitab untuk menunjukkan dosa, hanya bila secara wajar Anda butuhkan dalam menyampaikan Injil kepadanya.

  2. Bersikaplah ramah dan penuh kasih. Berilah dia kekuatan dengan menyatakan bahwa Anda bersimpati dan bersedia mendengar serta membimbingnya.

  3. Dengarkanlah baik-baik. Berilah dia cukup kesempatan untuk mengungkapkan semua perasaan dan pandangannya. Yakinkan dia tentang kasih Allah. Kasih karunia Allah cukup mampu menjawab segala kebutuhan hidupnya. (Arti kasih karunia ialah: Allah mengasihi kita tanpa ada sedikit pun kelayakan dalam diri kita untuk menerimanya).

  4. Dia perlu diperhadapkan pada tanggung jawabnya akan kecanduannya. Dia yang pada satu titik tertentu, secara sadar memilih untuk menjadi candu jika dia berusaha mengelak dengan menyalahkan keadaan, orang lain, masyarakat, dan sebagainya, usahakan dengan lembut untuk mengembalikan dia pada tanggung jawab pribadi dan moralnya. "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya (Yakobus 1:14)".

  5. Pada saat yang menguntungkan, jelaskan "Damai dengan Allah", [["Damai dengan Allah" -- Traktat untuk menolong/menuntun orang non-Kristen agar dapat menerima Kristus (dari LPMI/PPA); atau Buku Pegangan Pelayanan, halaman 5; CD-SABDA: Topik 17750.]]

  6. Bila nampaknya positif, lanjutkan dengan langkah-langkah tindak lanjut: Mulai membaca dan mempelajari Alkitab. Belajar berdoa. Mulai bersekutu dalam suatu gereja yang berlandaskan Alkitab.

  7. Orang yang kecanduan itu harus menyingkirkan orang dan lingkungan yang melibatkannya pada candu. Dia harus berhenti menggunakan segala jenis obat-obatan. Ada baiknya itu dilaksanakan di suatu lembaga pengobatan ketergantungan obat, supaya pengasingan diri dan pemulihannya dapat diikuti terus. Biasanya perlu diadakan pengawasan penuh sepanjang hari.

    CATATAN:

    Pembimbing seringkali harus memprakarsai orang yang kecanduan untuk mendapatkan lembaga pertolongan, mendaftarkan diri, atau menganjurkan pihak keluarganya melakukan itu. Orang yang kecanduan itu sendiri, tidak bisa diandalkan untuk melakukan itu. Janjinya, biasanya tak akan ditepati.

    Selama dan sesudah pengobatan, pembimbing harus terus mendukungnya. Sering-seringlah mengunjungi, bantu dia memulai penelaahan Firman dan doa. Jika mungkin, tolong dia untuk mendapatkan kontak dengan kelompok Kristen eks pecandu untuk mendukungnya. Libatkanlah dia dalam kehidupan suatu gereja yang mementingkan Firman dan memperhatikan dia. Ajaklah dia berhubungan dengan bimbingan Kristen atau kelompok yang berpengalaman menangani kasus kecanduan. Dia masih harus ditolong dalam masalah-masalah pribadi yang menjadi pangkal sebab keterlibatannya dalam kecanduan.

  8. Pembimbing boleh menyatakan bahwa dia akan berusaha menolong orang yang dilayaninya untuk mendapatkan pusat pertolongan pada masalah ketergantungan obat dan menolong orang yang tinggal di daerah tempat tinggalnya.

    PERINGATAN: Jangan menjanjikan bahwa Anda pasti mampu menolong. Katakan bahwa Anda akan berusaha menolong sedapat mungkin.
  9. Berdoalah dengan orang yang kecanduan itu, agar dia mendapatkan kekuatan, penyerahan, dan kuasa Roh Kudus yang membebaskan hidupnya. Semua ini sangat diperlukan dalam proses pelepasannya. "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2Timotius 1:7)."

Sumber
Halaman: 
216 - 218
Judul Artikel: 
Buku Pegangan Pelayanan
Penerbit: 
Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA)

Komentar