Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kemarahan

Edisi C3I: e-Konsel 62 - Kemarahan

Kemarahan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Bagaimana caranya supaya kemarahan kita itu tidak membuahkan dosa? Alkitab cukup banyak memberikan pedoman bagi kita untuk mengatasi kemarahan dan juga untuk bisa mengendalikan diri dari kemarahan itu. Simak ringkasan diskusi tentang Kemarahan bersama Pdt. Paul Gunadi berikut ini.

T :

Kemarahan itu sudah menjadi bagian di dalam kehidupan kita ini dan saya percaya kita pasti pernah marah. Ada yang marahnya disimpan atau diungkapkan secara meledak-ledak tetapi satu hal yang kita tahu dia sedang marah atau kita sedang marah. Di dalam Alkitab sendiri kita juga pernah membaca bagian yang mengatakan Tuhan Yesus juga pernah marah, tetapi kita juga tahu bahwa kemarahan itu bisa menjadi suatu dosa yang Tuhan tidak kehendaki. Nah, bagaimana sebenarnya pandangan kita sebagai orang Kristen tentang kemarahan?

J :

Kita perlu menyadari bahwa kemarahan itu sendiri adalah suatu reaksi emosional dan tidak harus identik dengan dosa. Cara kita melampiaskan kemarahan bisa akhirnya membuahkan dosa. Jadi sekali lagi kemarahan itu sendiri belum tentu mengandung unsur dosa, namun pelampiasannya atau pengekspresiannya yang bisa akhirnya membuahkan dosa.

T :

Bagaimana contoh ekspresi kemarahan yang bisa disebut dosa dan kemarahan yang tidak disebut dosa?

J :

Di Efesus 4:26, Firman Tuhan berkata: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa." Kemarahan bisa menjadi dosa sewaktu kemarahan yang kita ekspresikan akhirnya benar-benar menghina orang, menjatuhkan, dan merusakkan orang. Kita menghancurkan orang dengan kemarahan kita.

T :

Nah, justru yang sering terjadi adalah pada saat marah, kita tidak bisa mengontrol diri.

J :

Hal itu betul. Seringkali kemarahan ini diidentikkan dengan tingkat kematangan rohani. Kita seolah-olah beranggapan bahwa orang yang mudah marah adalah orang yang tidak dewasa secara rohani. Namun sebenarnya tidak sesederhana itu. Saya ingin mengajak kita semua untuk melihat masalah marah ini dari berbagai sudut dan melihatnya sebagai suatu fenomena yang kompleks. Kita perlu mengerti alasan mengapa sebagian orang lebih mudah marah dibandingkan yang lainnya atau mengapa sebagian orang lebih susah marah dibandingkan orang yang lainnya. Hal ini tidak selalu ditentukan oleh tingkat kedewasaan rohani seseorang.

Alasan-alasannya antara lain:

  1. Adanya pengaruh dari faktor biologis atau faktor fisik. Ada orang-orang tertentu yang memang mempunyai daya reaksi yang sangat cepat. Orang-orang yang reaktif seperti ini juga mudah memberikan reaksi emosional termasuk kemarahan. Hal ini memang sudah dibawa sejak lahir. Orang-orang yang biasa disebut high strong (gampang marah) ini memang secara biologis adalah orang-orang yang kelihatannya hangat. Temperamen mereka memang sepertinya bergelora. Ada juga orang-orang yang termasuk tipe plegmatik -- tipe yang memang santai, tidak terlalu terlibat di dalam dunia atau dalam kontak dengan orang lain. Nah orang yang bertipe plegmatik ini akan lebih mudah menguasai kemarahannya, karena dia memang tidak terlalu terlibat dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

  2. Faktor bentukan lingkungan. Kalau kita melihat orangtua menyatakan ketidaksetujuannya melalui kemarahan dan kita menyaksikan ini berulang-ulang kali, kemungkinan besar metode penyampaian ketidaksetujuan itu yakni dengan kemarahan akan terekam dalam benak kita dan akan menjadi satu dengan sistem kita. Karena kita terus-menerus menyaksikan orangtua mengumbar kemarahan tatkala mereka tidak setuju dengan apa yang sedang dikerjakan dan akhirnya hal itu membekas dalam benak kita. Setelah dewasa kita pun cenderung untuk marah ketika kita tidak setuju atau tidak sepakat atau merasa tidak nyaman.

  3. Situasi kehidupan sekarang ini pun bisa membuat kita menjadi seorang yang pemarah. Contohnya adalah keadaan yang sekarang sedang kita alami yaitu krisis ekonomi, keadaan politik yang begitu tidak menentu. Krisis-krisis ini sangat menekan kita. Kebanyakan dari kita bisa menanggung tekanan atau stres untuk suatu jangka waktu tertentu. Tatkala melewati batas itu hidup kita mulai tergoncang, keseimbangan kita mulai terganggu dan kita pun mudah marah.

T :

Apakah ada bagian Alkitab yang mengingatkan kita supaya kita tidak mudah marah?

J :

Di Efesus 4:26, dengan langsung Alkitab mengatakan bahwa kita akan marah, karena marah adalah bagian kehidupan manusiawi kita, tidak perlu kita ingkari. Ayat ini memberi kita 3 pedoman. Pertama, jangan berdosa, artinya jangan kita merobek-robek orang karena kemarahan kita. Kedua, jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu, artinya jangan menyimpan dendam, bereskan masalahnya secepat mungkin meskipun belum tentu akan segera selesai. Ketiga, jangan berikan kesempatan kepada iblis. Jangan sampai kita dibisiki oleh iblis untuk melakukan hal-hal yang salah dan berdosa di hadapan Tuhan.

Sumber :
[[Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #27A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
-- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-Mail,
silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel@xc.org > atau: < TELAGA@sabda.org > ]]

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T027A (e-Konsel Edisi 062)
Penerbit: 
--

Komentar