Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Marah: Kemarahan

Edisi C3I: e-Konsel 062 - Kemarahan

AYAT ALKITAB

  1. Amsal 15:1
  2. Kolose 3:8
  3. Amsal 29:1
  4. Yakobus 1:19,20
  5. Efesus 4:21-24

LATAR BELAKANG

Kemarahan adalah suatu emosi, suatu reaksi tak disengaja terhadap suatu situasi atau kejadian yang tidak menyenangkan. Selama kemarahan terbatas pada emosi yang muncul tak disengaja ini, ia bisa dianggap reaksi wajar. Baru ketika kita menanggapinya secara salah, ketika kita tak dapat lagi mengekang diri (melampiaskan kemarahan) atau ketika kita memendamnya sampai timbul kepahitan, dendam dan permusuhan -- kita masuk dalam bahaya. Di sinilah Alkitab menuntut pertanggungan jawab kita.

Dalam pendekatan kita terhadap masalah kemarahan, kita perlu ingat bahwa tidak semua kemarahan adalah salah. Bila Alkitab menyorotinya, ia menekankan pada beberapa bentuk emosi. Misalnya:

  1. "Maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu." (Keluaran 32:19)

  2. Ketika menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya dikatakan bahwa Yesus "berdukacita karena kedegilan mereka, dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya ...." (Markus 3:5)

  3. Walau tidak dinyatakan secara langsung, jelas terlibat kemarahan dalam sikap dan tindakan-Nya ketika Dia mengusir para penyedot keuntungan dari Rumah Allah (Markus 11:15,17).

  4. Kemarahan sedikit banyak terlibat dalam sikap dan perlakuan kita terhadap dosa. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa." (Efesus 4:26)

Mengontrol Kemarahan adalah Rohani:

"Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya." (Amsal 29:11). Dalam usaha mengontrol kemarahan, kita harus menyadari bahwa tiap orang berhak memiliki pendapatnya sendiri dan hidupnya harus ditandai oleh kehormatan dirinya. Bersamaan dengan itu, supaya seimbang, jangan lupa pula bahwa jika Yesus menuntut "hak-Nya", Dia tidak akan sampai di salib. Ada garis perbedaan di sini. Yang harus kita ingat ialah, bahwa orang Kristen harus berhati-hati dengan respon-responnya, sambil mengingat bahwa posisi kita bisa benar tetapi sikap kita salah.

Kemarahan melampaui batas atau tak terkendali jika:

  1. Dia meluap dalam bentuk sikap dan atau ucapan jelek.

  2. Dia menimbulkan kepahitan, kebencian, dan permusuhan.

  3. Dia menyebabkan kelemahan rohani, kekacauan batin, menghilangkan kedamaian hatinya. Adakah perasaan dalamku bahwa aku sedang mendukakan Allah atau memberi kesempatan bagi si Iblis (Efesus 4:27)?

  4. Dia membawa akibat buruk pada orang lain. Adakah ia merusakkan kesaksian hidupku? Adakah orang yang menjadi korban respon- responku?

Bagaimana mengendalikan luapan kemarahan?

  1. Berusahalah untuk tidak menafsirkan segala hal sebagai sesuatu gangguan, kekhilafan, dan luka terhadap diri Anda. Usahakan juga untuk menemukan penyebab luapan marah Anda.

  2. Jadikan sikap dan respon Anda sebagai hal yang perlu untuk didoakan dengan sungguh-sungguh. Kita harus pula mendoakan sikap orang yang menganggu Anda pada Tuhan, sambil mengingat bahwa Allah memakai orang dan keadaan untuk membentuk watak kita. Bagian-bagian watak yang masih kasar perlu digosok, dihaluskan.

  3. Biasakan mengakui luapan kemarahan sebagai dosa. Pentingnya bertindak segera dalam kasus ini, tegas terdengar dalam nasihat Rasul Paulus, "janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu." (Efesus 4:26). Belajarlah untuk menyelesaikan baik- baik sebelum hari berakhir.

  4. Sadari bahwa seorang Kristen harus belajar mengatasi dua sifat yang masing-masing saling melawan ingin menang. Kita harus belajar mempraktekkan prinsip "tanggalkan dan kenakan" dari Efesus 4:22-24.

    1. "Tanggalkan" manusia lama kita yang dirusak oleh keinginan- keinginan salah (Efesus 4:22).
    2. "Kenakan" manusia baru kita, yang telah Allah ciptakan seturut kebenaran dan kekudusan-Nya (Efesus 4:24).
    3. Akibat mempraktekkan prinsip "tanggalkan dan kenakan" tadi, kita akan "dibaharui di dalam roh dan pikiran" (Efesus 4:23). Inilah cara mewujudkan 2Korintus 5:17.
  5. Berusahalah mengalihkan kemarahan Anda dari diri ke masalah yang menyebabkannya.

  6. Serahkan diri tiap hari pada Roh Kudus. "Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging." (Galatia 5:16)

  7. Izinkan Firman Allah meresapi hidup Anda melalui pembacaan, perenungan dan penghafalan Firman. "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain ...." (Kolose 3:16)

STRATEGI BIMBINGAN

  1. Persekutuan pribadi dengan Yesus Kristus adalah dasar jalan keluar bagi masalah rohani. Tanyakan orang itu, apakah dia sudah masuk dalam persekutuan tersebut. Jelaskan "Damai dengan Allah" [["Damai dengan Allah" -- Traktat untuk menolong/menuntun orang non-Kristen agar dapat menerima Kristus (dari LPMI/PPA); atau Buku Pegangan Pelayanan, halaman 5; CD-SABDA: Topik 17750.]]

  2. Lontarkan pertanyaan-pertanyaan kepadanya, untuk mengetahui dalam tahap kemarahan bagaimanakah dia berada. Jelaskan pembahasan di Latar Belakang kepadanya, sambil menekankan pentingnya sikap- sikap Kristen yang benar, pengakuan tiap hari dan prinsip "tanggalkan dan kenakan." Minta dia mencatat pokok-pokok pemikiran yang kelak dapat ditelaahnya ulang.

  3. Berdoalah bersamanya. Berdoalah agar dia memiliki "hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia", dan iman untuk memperoleh kemenangan berketerusan.

Kutipan

Menurut Billy Graham:

"Alkitab tidak melarang kita untuk tidak senang, asal dibatasi oleh dua hal. Pertama, menjaga kemarahan kita bersih dari kepahitan, permusuhan, dan kebencian. Kedua, setiap hari memeriksa diri, apakah kita sudah menangani perasaan-perasaan jelek kita. Pepatah Latin berkata: "Orang yang tidur membawa kemarahan, tidur dengan Iblis." Tentu saja, hidup akan penuh dengan gangguan. Hal-hal itu bisa dimanfaatkan Iblis untuk membangkitkan nafsu-nafsu jahat kita."

Sumber
Halaman: 
137 - 139
Judul Artikel: 
Buku Pegangan Pelayanan
Penerbit: 
Persekutuan Pembaca Alkitab, 1993

Published in e-Konsel, 01 May 2004, Volume 2004, No. 62


Komentar