Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kehidupan Yesus

Edisi C3I: e-Konsel 051 - Dekat dengan Allah

Ada keyakinan yang besar bahwa kehidupan Yesus merupakan kehidupan yang sangat sibuk. Dia sangat sibuk mengajar murid-murid-Nya, berkhotbah kepada orang banyak, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari musuh-musuh maupun sahabat-sahabat-Nya, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Yesus begitu sibuk dalam berbagai macam aktivitas sehingga hal itu menyulitkan bagi-Nya untuk bisa menyendiri. Kisah yang tertulis dalam Markus 1:32-39 memberikan gambaran kepada kita tentang hal itu.

"Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan."

Dari kisah tersebut sangatlah jelas bahwa Yesus memiliki kehidupan yang sangat penuh dengan berbagai macam kegiatan. Sepertinya Ia tidak pernah atau sulit sekali untuk bisa sendirian, tanpa ada orang yang mengikuti Dia. Bahkan bagi kita, Ia tampak seperti orang fanatik yang dipaksa untuk memberitakan Injil dalam segala keadaan tanpa memikirkan resiko yang dihadapi-Nya. Akan tetapi, kenyataan atau keadaan yang sebenarnya tidaklah demikian. Semakin dalam kita mempelajari kitab Injil yang menceritakan tentang kehidupan-Nya, semakin kita tahu bahwa Yesus bukanlah seorang fanatik yang berusaha mengerjakan banyak hal yang beraneka macam untuk mencapai suatu tujuan yang dibebankan pada diri-Nya sendiri. Sebaliknya, segala sesuatu yang kita ketahui tentang Yesus menunjukkan bahwa Ia hanya memusatkan perhatian-Nya pada satu hal saja, yaitu untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Dalam kitab Injil tak ada sesuatu yang lebih mengesankan daripada ketaatan Yesus yang tulus ikhlas terhadap Bapa- Nya. Dari perkataan-Nya yang dicatat pertama kali ketika Ia berada di Bait Allah, "Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Lukas 2:49) hingga perkataan-Nya yang terakhir pada saat Ia tergantung di atas kayu salib, "Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: `Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.`" (Lukas 23:46a), membuktikan bahwa perhatian Yesus hanyalah untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Ketaatan-Nya itu berarti suatu sikap dengar- dengaran yang sepenuhnya, bukannya karena rasa takut, kepada Bapa- Nya yang sangat mengasihi-Nya.

Sumber
Halaman: 
40 - 41
Judul Artikel: 
Kepemimpinan, Volume 6, Tahun II
Penerbit: 
Yayasan ANDI, Yogyakarta, 1981

Komentar