Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Disiplin Rohani dan Konselor Alkitabiah

Edisi C3I: e-Konsel 074 - Kerohanian Seorang Konselor

Apabila kita mendengar bahwa seorang konselor terlibat dalam dosa seksual dengan seorang konselinya, maka kita bertanya-tanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana sebenarnya hal itu dapat dicegah?" Dengan mudah sekali kita menimpali, "Hal tersebut tidak akan terjadi pada saya!"

Mungkin kita mengenal seorang konselor yang luar biasa kelebihan berat badan, tetapi ia melakukan pekerjaan konseling dengan baik sekali. Sekali lagi sebuah pertanyaan melintas dalam pikiran kita, "Bagaimana orang ini mampu membantu konseli-konselinya mengembangkan disiplin hidup apabila ia sendiri jelas tidak disiplin?"

Pertanyaan-pertanyaan di atas membuat kita memikirkan keharusan utama dalam kehidupan seorang konselor, yaitu disiplin rohani. Ini memang benar, terutama mengingat peringatan Paulus kepada mereka yang berusaha memperbaiki orang lain, supaya berhati-hati agar tidak terperangkap dalam dosa si pelanggar. Hubungan konselor Alkitabiah dengan Tuhan harus terus berkembang, pengetahuan tentang Firman Tuhan, serta ketaatan terhadap Firman Tuhan harus terus ditingkatkan, selain harus menyadari potensi untuk berbuat dosa sendiri.

Hubungan Konselor dengan Tuhan

Tentu saja, seorang konselor Alkitabiah harus lahir kembali; karena bagaimana para konselor dapat menggunakan Firman Tuhan dengan benar, apabila dalam diri mereka tidak berdiam Roh-Nya? Dan bagaimana para konselor dapat mendorong orang lain supaya berubah dan bertumbuh dalam hubungan mereka dengan Tuhan, apabila mereka bukan merupakan panutan yang bertumbuh dari kekuatan Injil untuk mengubah mereka sendiri? Dalam pembahasan berikut, ada delapan unsur penting untuk mempertahankan agar hubungan dengan Yesus Kristus terus bertumbuh.

  1. Membaca Firman Tuhan

    Supaya dapat menerapkan Firman Tuhan dengan benar pada saat konseling, kita harus mengenal serta mentaati Firman-Nya. Sebelum dapat menggunakan secara efektif dalam ruang konseling, kita harus dapat menerapkan firman itu dalam kehidupan kita. Kita sendiri harus membaca dan mempelajarinya.

  2. Menghafalkan Isi Alkitab

    Menghafalkan Alkitab merupakan bagian penting dari hubungan seorang konselor dengan Tuhan, selain itu juga merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuannya pribadi akan Firman tersebut yang selanjutnya digunakan untuk sesama. Apabila konselor menerapkan bacaan-bacaan yang telah dihafalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka ia akan mampu menolong konseli untuk menggunakannya secara efektif juga. Alkitab adalah pedang Roh Kudus dan konselor harus memiliki pedang yang telah tersedia. Selain itu, ia juga harus siap menggunakannya setiap saat, tidak hanya dalam praktik pribadi, namun juga dalam acara-acara konseling.

  3. Doa

    Konseli sering memiliki pendapat yang keliru tentang doa. Untuk menolong mereka memahami doa, seorang konselor harus mempunyai pemahaman yang benar tentang doa, dan juga perlu mempraktikkan doa tersebut.

    Mengapa kita perlu berdoa? Alkitab memberikan banyak alasan, namun ada tiga alasan khusus yang penting. Pertama, Tuhan memerintahkannya (Kolose 4:2; 1Timotius 5:17). Kedua, Kristus memberi kita contoh sebuah doa (Markus 1:35; Lukas 6:12). Apabila Ia yang sempurna tanpa dosa saja berdoa, berapa banyak lagi kita seharusnya berdoa? Ketiga, Kristus mengajar kita supaya berdoa, kita dapat berasumsi bahwa Ia menginginkan kita berdoa. Doa adalah tindakan yang menunjukan ketaatan serta penyembahan kita kepada Tuhan (Matius 6:5-9).

    Pada dasarnya, doa adalah komunikasi satu arah dengan Tuhan. Kita tidak mengharapkan Tuhan berbicara kepada kita secara gaib dalam doa, karena Ia telah berbicara melalui firman-Nya. Apabila kita ingin mendengar-Nya, kita harus "mencari Alkitab".

    Kita harus mengingatkan diri sendiri (dan seringkali konseli- konseli kita) bahwa Tuhan menjawab doa-doa dengan jawaban-jawaban lain ketimbang langsung menjawab "ya". Misalnya, dalam Kisah Para Rasul, Paulus meminta agar ia diperkenankan pergi ke Roma sebagai pengkhotbah, permintaan ini dijawab Tuhan dengan cara lain. Ia pergi sebagai seorang tahanan, dengan semua pengeluaran dibayar oleh pemerintah Roma! Adakalanya jawaban doa kita ditunda. George Muller berdoa untuk seorang pria sepanjang hidupnya dan tidak pernah merasakan doanya itu terjawab. Beberapa tahun setelah meninggalnya Muller, pria itu terselamatkan.

    Untuk membiasakan diri berdoa, membuat waktu khusus untuk berdoa adalah bermanfaat. Ketika berdoa, gunakan waktu Anda secara efisien dengan memilih salah satu doa dari daftar doa. Beberapa hal dalam daftar tersebut, mungkin perlu Anda prioritaskan untuk doa harian, sedangkan hal-hal lain Anda jadwalkan untuk doa mingguan. Berdoa secara teratur lebih penting daripada berdoa setiap hari untuk suatu kebutuhan. Dan ketahuilah, waktu doa yang panjang tidak memberikan keuntungan karena doanya yang panjang. Pada hari-hari tertentu, di saat krisis dan kewajiban-kewajiban lain mengambil alih jadwal Anda, waktu doa yang sudah Anda atur mungkin berkurang karena Anda terburu-buru. Namun, di hari-hari lain, Anda kembali pada jadwal doa Anda yang biasanya.

  4. Menjalin Hubungan dengan Gereja Setempat

    Menjalin hubungan dengan jemaat setempat adalah bagian penting dari hubungan konselor dengan Tuhan. Menjalin hubungan semacam ini juga diamanatkan dalam Alkitab. Dari kurang lebih 110 acuan tentang gereja dalam Perjanjian Baru, lebih dari 90 acuan mengacu pada jemaat setempat.

    Dalam Perjanjian Baru, kaum beriman cepat bersatu dengan persekutuan jemaat setempat (Kisah Para Rasul 2:41,47). Jadi, apabila kita berusaha memberikan pelayanan terpisah dari gereja setempat, berarti kita mengabaikan pandangan Tuhan mengenai gereja dan tujuan Tuhan untuk gereja.

    Ada banyak keuntungan yang didapatkan seorang konselor dari membina hubungan dengan jemaat setempat. Salah satu diantaranya, yaitu pewartaan Firman-Nya. Di situlah, konselor mendapatkan masukan lain, di samping pendalaman yang dilakukannya. Tidak seorang beriman pun yang merasa dirinya telah lebih dari cukup dalam hal Firman sehingga tidak membutuhkan pewartaan Firman lagi. Hubungan dengan jemaat setempat yang tidak teratur akan menghambat pertumbuhan spiritual seorang konselor, juga pelayanan konselingnya. Keuntungan lain dari menjalin hubungan erat dengan jemaat setempat, yakni hubungan ini menciptakan suatu keadaan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam kedisiplinan, pertobatan dan pemulihan. Seorang konselor yang menjadi anggota jemaat gereja setempat akan mendapat perlindungan ini, serta akan menyatakan ketaatannya terhadap berbagai prinsip Alkitab di semua aspek kehidupannya.

    Tunduk pada kekuasaan para pemimpin gereja lain juga penting, terutama bagi para konselor. Dengan cara ini, mereka memberikan teladan kepada para konseli dalam hal tunduk kepada Firman Tuhan serta kepada kepemimpinan yang tidak sempurna; karena konseli juga perlu didorong supaya mau tunduk kepada kekuasaan yang tidak sempurna. Mereka yang menolak menerima kepemimpinan gereja setempat akan kehilangan semua karunia yang dijanjikan Tuhan untuk penyerahan diri yang alkitabiah; selain itu, konselor juga tidak akan menemukan jawaban yang diperlukan oleh konseli dalam situasi serupa yang datang kepadanya untuk meminta nasihat.

  5. Ibadah

    Ibadah diamanatkan kepada orang beriman; oleh sebab itu, ibadah merupakan bagian penting dari kehidupan seorang konselor. Ibadah bukanlah suatu pengalaman ataupun perasaan yang hangat, melainkan merupakan kekaguman kognitif serta penghormatan kepada Allah yang kudus yang difokuskan kepada-Nya. Tanpa ibadah, orang lebih mudah mengecilkan arti dosa dan ia akan gagal dalam pertumbuhan rohani yang menyenangkan Tuhan. Ibadah menyadarkan kita akan kebutuhan spritual kita sendiri.

    Gereja adalah tempat untuk melakukan ibadah bersama menurut Alkitab. Musik, tata cara ibadah, serta semua yang dilakukan harus difokuskan pada khotbah; karena khotbah dirancang untuk menolong para pendengarnya mencapai tindakan ibadah yang paling tinggi, yaitu: ketaatan dalam kehidupan sehari-hari kepada Tuhan.

    Ibadah mencakup pujian serta ucapan syukur atas segala yang telah dilakukan Tuhan dalam kehidupan konselor dan para konseli. Pujian serta ucapan syukur dapat membantu mencegah orang berkecil hati sewaktu menghadapi masalah sulit. Jadi, masalah-masalah semacam ini merupakan peluang untuk memuji Tuhan atas segala yang telah dilakukan-Nya dan dapat dilakukan-Nya.

  6. Benar Menurut Teologi

    Mengingat hampir semua masalah konseling berdasar pada masalah doktrin, maka pemahaman teologis yang benar perlu sekali bagi konselor alkitabiah. Tidak berarti bahwa kita dapat menemukan jawaban bagi berbagai buku masalah konseling dalam buku pegangan teologi. Alkitab adalah buku pegangan kita, dan apabila kita memahami Alkitab dengan benar, berarti kita mengikuti teologi yang benar.

    Memahami teologi yang benar tentang dosa itu penting, terutama bagi para konselor konseling alkitabiah. Karena banyak sekali masalah konseling yang merupakan akibat langsung dari dosa; sementara itu, para konseli seringkali mengecilkan arti dosa; mereka tidak memahami doktrin tentang dosa, tentang betapa buruknya dosa, serta tentang betapa merembesnya dosa, tentang apa pendapat Tuhan mengenai dosa, atau apa yang harus mereka lakukan untuk itu. Teologi yang benar juga sangat diperlukan dalam situasi-situasi konseling lainnya. Misalnya, bilamana suami tidak mengasihi istrinya sebagaimana mestinya, itu karena ia tidak memahami doktrin tentang Kristus: kasih-Nya bagi gereja-Nya, ungkapan-ungkapan kasih-Nya untuk itu, serta keinginan untuk mendorong-Nya untuk menaati Bapa. Dalam semua masalah konseling yang melibatkan konflik dengan orang lain, terbukti orang tersebut gagal dalam hubungannya dengan Tuhan.

    Benar secara teologis juga sangat dibutuhkan untuk memahami konseling alkitabiah yang bertolak belakang dengan bentuk-bentuk dan filsafat-filsafat konseling lainnya, seperti para konselor yang mencoba memanipulasi orang lain -- bahkan Tuhan -- dengan menggunakan Alkitab, ataupun mereka yang menyatakan bahwa Alkitab itu tidak memadai serta bahwa para konselor modern harus menambah hikmat mereka sendiri kepada Alkitab. Pengertian yang benar tentang teologi Alkitab membantu konselor memilah-milah semua ini.

  7. Tujuan Menjadi Lebih Menyerupai Kristus

    Roma 8:28-29 mengajarkan bahwa tujuan semua orang Kristen adalah menjadi lebih menyerupai Kristus. Semua yang terjadi dalam kehidupan seseorang disusun secara ilahi untuk membantu orang tersebut lebih menyerupai Putra Allah. Tentu saja, ini harus merupakan prioritas utama dalam kehidupan konselor.

  8. Penatalayanan

    Kaum beriman adalah penatalayanan semua yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Segala sesuatu yang kita miliki diberikan dan dipercayakan kepada kita oleh Tuhan agar kita gunakan untuk memuliakan-Nya. Semua ini mencakup pasangan, anak, segala kemampuan, segala yang dimiliki, serta pelayanan kita. Dalam mempercayakan semua itu kepada kita, Tuhan berharap agar kita selalu menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

  9. Sumber
    Halaman: 
    179 - 185
    Judul Artikel: 
    Pengantar Konseling Alkitabiah
    Penerbit: 
    Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2002

    Published in e-Konsel, 01 November 2004, Volume 2004, No. 74


Komentar