Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Komunikasi dalam Pernikahan

Edisi C3I: e-Konsel 145 - Tanggung Jawab dalam Keluarga

Meskipun kita sudah menyatukan hati dengan suami atau istri, tidak berarti dalam berkomunikasi pun kita bisa selalu klop. Oleh sebab itulah, kita harus selalu belajar bagaimana kita bisa menciptakan komunikasi yang baik dengan pasangan kita. Ringkasan tanya-jawab dengan Ibu Esther Tjahja, S.Psi. dan Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D. berikut ini kiranya bisa menjawab pertanyaan kita di atas. Selamat menyimak.

T : Masalah komunikasi dalam pernikahan menjadi suatu masalah yang
sering kali timbul. Sebenarnya, seberapa penting komunikasi itu
di dalam hubungan pernikahan?
J : Sangat penting sekali. Komunikasi adalah denyut pernikahan. Kita
tahu bahwa dalam pernikahan yang bermasalah, komunikasi menjadi
bermasalah.
T : Dalam pengertian ini, apakah komunikasi itu hanya apabila kita
berbicara satu dengan yang lain? Bukankah bertengkar pun bisa
disebut komunikasi?
J : Komunikasi terbagi dalam dua jenis. Pertama, komunikasi verbal,
yakni kata-kata yang kita ucapkan. Yang kedua, komunikasi
non-verbal, yaitu bukan melalui kata-kata yang kita ucapkan,
melainkan melalui bahasa tubuh. Komunikasi non-verbal, misalnya,
kita menunjukkan mimik muka tidak suka sewaktu istri kita
mengutarakan pendapatnya. Sewaktu kita menunjukkan mimik wajah
yang berubah itu, ia sudah mendapatkan jawabannya, misalnya,
kita tidak suka dengan pendapatnya, namun yang keluar dari mulut
kita adalah: "Ya silakan kalau kamu mau jalani." Mungkin kita
berpikir dengan berkata seperti itu kita sudah berusaha mencapai
titik netral. Kita tidak menghalangi istri kita, juga tidak
mendorong, kita hanya berkata "silakan". Tetapi setelah kita
berkata "silakan", yang terjadi adalah reaksi keras dari istri
kita dan ia berkata, "Mengapa kamu tidak suka kalau saya hendak
melakukan ini dan itu?" Kita mungkin menjawab: "Saya tidak
bilang tidak suka, saya bilang `silakan`." Yang bisa saja
langsung direspons istri kita, "Tapi saya tahu kalau kamu tidak
suka." Yang terjadi adalah istri membaca bahasa tubuh kita.
Bahasa tubuh kita sudah mengomunikasikan ketidaksetujuan pada
pendapatnya itu, meskipun yang muncul dari mulut kita akhirnya
adalah "silakan". Hal ini cukup memicu terjadinya pertengkaran.
T : Sepertinya bahasa non-verbal lebih besar pengaruhnya; lebih
kuat memberi makna di dalam komunikasi?
J : Memang demikian, sebetulnya bahasa non-verbal jauh lebih
berpengaruh, lebih memunyai dampak dibandingkan bahasa verbal.
Kita menafsir makna dari apa yang dikatakan oleh orang tidak
berdasarkan ucapannya, tetapi berdasarkan bahasa tubuhnya.
Bahasa tubuh bisa berupa sikap kita secara langsung, misalnya
tidak melihat/menoleh atau kita mengerjakan tugas yang lain
sewaktu suami sedang berbicara. Itulah yang biasanya menjadi
pertengkaran di rumah kita.
T : Tetapi bisa saja orang itu salah membaca bahasa tubuh
partnernya?
J : Betul, kadang-kadang memang terjadi kesalahan menafsir bahasa
tubuh. Tapi yang lebih sering terjadi sebetulnya bahasa tubuh
dan bahasa ucapan tidak sama, tidak klop, seperti contoh di
atas. Kita melihat dari contoh tadi, si istri mendasari
kesimpulannya bukan atas bahasa ucapan, melainkan atas bahasa
tubuh. Jadi memang, yang sering kali menjadi masalah ialah kalau
bahasa ucapan tidak sinkron dengan bahasa tubuh dan kalau tidak
sinkron, sering kali kita mendasari kesimpulan kita atas bahasa
tubuh, bahasa ucapan kita kesampingkan.
T : Bagaimana kalau ada yang lebih pandai lagi di dalam mengemukakan
pendapatnya sehingga kelihatannya sinkron antara kata-kata dan
bahasa tubuhnya, tapi sebenarnya dalam lubuk hatinya ada faktor
yang bertentangan?
J : Ini salah satu masalah dalam komunikasi. Ada orang yang bisa
menyatakan setuju dan bahasa tubuhnya juga menunjukkan oke,
setuju. Masalahnya, ia termasuk orang yang tidak bereaksi
dengan cepat, apalagi terhadap ketidaksetujuan. Ia perlu waktu
lebih lama untuk kembali memikirkan apa yang telah ia dengarkan
tadi. Hal ini juga sering terjadi: sinkron, tapi kesinkronannya
tidak merefleksikan isi hati.
T : Kalau begitu, bagaimana komunikasi yang baik dan benar itu?
J : Ada satu istilah yang ditemukan oleh para pakar komunikasi,
yaitu berkomunikasi secara asertif. Bahasa Inggrisnya
"assertive" yang muncul dengan arti kata "to assert", artinya
menyatakan pendapat. Jadi, asertif berarti mengutarakan isi hati
dengan tepat dan tidak agresif, kira-kira itu definisi umumnya.
Kira-kira ada lima hal tentang komunikasi asertif, yang pertama
adalah orang yang mengutarakan perasaannya. Dalam contoh-contoh
yang telah kita bahas, kita sudah melihat bahwa orang atau
pasangan kita menafsir tindakan, perbuatan, dan bahasa tubuh
kita, baru menyimpulkan artinya. Jadi, kata-kata yang kita
ucapkan itu dinomorduakan. Apa yang ditafsir sewaktu bahasa
tubuh itu yang ditangkap? Ternyata perasaan. Dengan kata lain,
perasaan memegang peranan yang besar sekali dalam komunikasi.
Lawan bicara kita akan ingin tahu perasaan kita saat kita
mengutarakan pandangan atau pendapat kita. Kalau suami kita
melihat kita memang sudah punya perasaan tidak suka dengan yang
ia tuturkan, itu akan cenderung mewarnai komunikasinya. Jadi,
orang yang berkomunikasi dengan asertif, pertama-tama harus
jelas dulu dengan perasaan hatinya karena itulah yang ia
komunikasikan kepada pasangannya.
T : Tapi tidak semua orang bisa menerima keterusterangan kita. Kalau
mengutarakan kemarahan atau kejengkelan kita apa adanya, belum
tentu pasangan bisa menerima.
J : Ini perlu dilatih sebab kita memang tidak dikondisikan untuk
mengutarakan (perasaan pada) pasangan kita dengan jelas. Kita
menjadi orang yang sering kali bingung dengan perasaan kita.
Kalau kita saja bingung dengan perasaan kita, apalagi orang
lain. Contoh klasik yang sering kali terjadi, misalnya, seorang
istri menunggu suaminya yang berjanji pulang pukul 18.00, tapi
ternyata baru pulang pukul 21.00 dan tidak menelepon dulu.
Begitu pulang, apa yang akan terlontar dari mulut si istri?
Kemarahan. Sebetulnya, dalam waktu tiga jam sembari menantikan
si suami itu. Ia cemas, takut kalau-kalau suaminya mengalami
kecelakaan. Tapi begitu suaminya pulang yang muncul adalah
perasaan marah. Yang terjadi di sini kadang-kadang kita enggan
mengatakan "Saya takut kehilangan kamu"; lebih nyaman bila
langsung memaki-maki pasangan kita. Sekali lagi inilah yang akan
menjadikan komunikasi kita bermasalah -- kita tidak jelas dengan
perasaan kita. Kita bisa bayangkan betapa mulusnya komunikasi
itu kalau si istri, misalnya, langsung berkata: "Tiga jam kamu
tidak memberikan kabar kepada saya, saya menunggu dalam
ketegangan dan ketakutan, saya khawatir kamu mengalami
kecelakaan." Ketegangan itu pun bisa langsung diselesaikan.
T : Selain perasaan, apa yang penting di dalam komunikasi?
J : Menyampaikan permintaan atau harapan kita. Hindarilah peluang
bagi pasangan kita untuk mereka-reka maksud kita. Misalnya,
kalau kita mengharapkan pasangan kita berubah dalam hal
tertentu, sampaikanlah dengan jelas, jangan bicara
berputar-putar. Kalau kita memang tidak mau mengkritiknya secara
kasar, tapi tidak tahu bagaimana memilih kata-katanya, kita bisa
berkata, "Mungkin yang saya sampaikan ini tidak tepat karena
saya tidak tahu memilih kata-kata yang pas, jadi maaf kalau
kata-kata saya terlampau menyakiti hati kamu." Jelaskan tujuan
kita. Sering kali masalah dalam komunikasi timbul karena
pasangan kita harus mereka-reka maksud kita. Padahal
maksud-maksud yang ditangkap itu belum tentu benar dan orang
akan bereaksi sewaktu membaca maksud-maksud tersebut.
T : Adakah unsur lain dalam berkomunikasi?
J : Unsur lain adalah membagikan pengamatan kita. Waktu kita
berbicara, apalagi dalam hubungan suami-istri, jangan menuduh
orang dengan cepat dan hindarkan penggunaan kata-kata "kamu".
Sebaiknya katakan, "Saya merasa kecewa karena ...." Cobalah
memaparkan peristiwa dan faktanya secara objektif; kesampingkan
kesimpulan dan jangan tergesa-gesa menyimpulkan tindakan orang.
T : Kadang-kadang di dalam komunikasi itu kita melihat bahwa
pasangan kita meragukan apa yang kita katakan. Apakah bisa kita
balik bertanya, "Kamu mengerti yang saya katakan?"
J : Itu saran yang baik sekali. Ini membawa kita kepada butir
berikutnya dalam komunikasi dengan asertif, yaitu silakan atau
bersedialah mengecek ulang pengamatan kita. Sebab yang kita
katakan belum tentu memang dilakukan dengan sengaja oleh
pasangan kita dan maksudnya pun mungkin sekali berbeda dari yang
kita sudah duga. Jadi bersedialah mengecek ulang: benar atau
tidak yang kita katakan, yang kita amati, dan yang kita lihat.
Biarkan pasangan kita memberikan masukan.
T : Bagaimana kita berusaha sebaik mungkin menguasai diri, baik di
dalam kata-kata maupun di dalam bahasa tubuh, waktu kita
bertengkar?
J : Salah satu prinsipnya membawa kita kepada butir terakhir.
Meskipun kita telah melakukan keempat butir di atas, tidak
tertutup kemungkinan kita akan bertengkar. Kalau sampai terjadi,
jangan gunakan kata-kata yang kasar. Apa yang harus kita lakukan
setelah pertengkaran? Setelah pertengkaran jangan lupa untuk
menyampaikan penghargaan. Mengapa? Orang memang berkata
pertengkaran adalah bumbu, tapi bumbu yang kebanyakan selalu
membuat sakit perut. Jadi, pertengkaran yang kebanyakan juga
akan merusak pernikahan. Meskipun pertengkaran tidak banyak,
semua orang akan bisa setuju bila satu pertengkaran cukup berat
untuk kita tanggung, pertengkaran itu seolah-olah mengikis
kemesraan atau perasaan positif pada pasangan kita. Kalau sering
terjadi pertengkaran, lama-lama perasaan mesra atau yang positif
itu akhirnya punah. Jadi, kita perlu memikirkan hal-hal yang
baik, yang positif, kata-kata yang membangun atau menghargai
disampaikan setelah pertengkaran itu reda. Kita perlu menambal
lubang-lubang yang telah kita ciptakan karena pertengkaran itu.
T : Bagaimana dengan orang yang temperamental, kalau marah
memaki-maki sesudah itu meminta maaf, tetapi ia lupa bahwa
makiannya tadi sebenarnya lebih menyakitkan daripada permintaan
maaf yang ia sampaikan?
J : Lama-lama memang tidak dihiraukan lagi. Tapi permintaan maaf
tidaklah identik dengan penghargaan. Permintaan maaf karena kita
bersalah adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan dan sebetulnya
tidak ada nilai tambah. Tapi mengucapkan kata-kata yang
menghargai itu memunyai nilai positif. Itu adalah tambalan, dan
memang kalau lubangnya terlalu besar, menambalnya pun lebih
susah.
T : Dalam hal ini firman Tuhan berbicara apa?
J : Efesus 4:29, "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu,
tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana
perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."
Kata-kata yang membangun, bukan kata-kata yang kotor; itulah
permintaan Tuhan pada kita semua. Mengapa kata-kata yang
membangun? Karena firman Tuhan berkata bahwa orang yang
mendengar beroleh kasih karunia. Itulah yang harus kita ingat.
Kita adalah pemberi kasih karunia Tuhan kepada pasangan kita.
Jangan sampai pasangan kita tidak menerima kasih karunia, tapi
(malah menerima) kutukan-kutukan kita. Gunakan kata-kata
membangun, hindarkan kata-kata kasar apalagi kotor.
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T100B
Penerbit: 
--

Komentar