Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Melarikan Diri Atau Menggenapi?

Edisi C3I: e-Konsel 134 - Bertekun Melalui Tragedi

Pada waktu Tuhan Yesus ditangkap di Taman Getsemani, Petrus mencoba melindungi Dia dengan pedang. Tuhan Yesus menegur dia dan berkata kepada Petrus, "Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?" (Mat. 26:53). Dalam pernyataan ini Yesus menyatakan kepada kita bahwa ada dua cara untuk menghadapi berbagai krisis kehidupan: menghindari atau menggenapi. Di antara dua pendekatan ini, mana yang Anda tempuh?

Sudah pasti seluruh tentara surga akan senang sekali untuk mempercepat jalan ke Getsemani dan melepaskan Anak Allah dari orang-orang berdosa. Apa yang perlu dilakukan oleh Tuhan Yesus hanya mengatakan firman-Nya. Seandainya Petrus yang bertanggung jawab untuk itu, boleh jadi ia telah memanggil penghulu malaikat dan mengancurkan Yerusalem! Tetapi Tuhan Yesus tidak menempuh jalan itu. Dia dapat melarikan diri, tetapi hal itu bukan kehendak Allah. Tuhan Yesus bukan menghadapi krisis-Nya dengan falsafah melarikan diri, tetapi dengan sikap menggenapi.

Kita tidak dapat menghindari satu krisis dalam kehidupan kita. Semakin kita menjadi tua, kehidupan pun menjadi makin serius. Sebab, satu hal yang kita sadari, keputusan kita akan memengaruhi orang lain. Dan kita juga menyadari bahwa waktu berlalu dengan cepat -- kita tidak dapat membuat terlalu banyak kesalahan. Jadi, saat-saat krisis pasti datang pada kita. Tetapi bagaimana kita harus menghadapinya? Sikap apa yang harus kita ambil bila landasan mulai digoyangkan dan tembok-tembok sekeliling kita mulai runtuh?

Banyak orang mengambil sikap seperti Petrus di Taman Getsemani -- sikap menghindar. Petrus menghunus pedangnya dan mencoba melindungi Tuhan Yesus. Itu suatu perbuatan yang baik, tetapi Petrus salah dalam pikirannya. Pertama, Tuhan Yesus tidak memerlukan pedang untuk perlindungan. Dia dapat memanggil tentara malaikat untuk melindungi Dia bila Dia ingin berbuat demikian. Tetapi, kesalahan besar yang telah Petrus lakukan adalah dia menghalangi Tuhan Yesus untuk melakukan tujuan khusus kedatangan-Nya ke dunia ini. Perbuatan Petrus adalah semangat tanpa pengetahuan. Dia bertahan pada saat semestinya dia menyerah.

Sebelum kita terlalu banyak mengecam Petrus, mari kita periksa kehidupan kita sendiri. Berapa kali kita mencoba melarikan diri ketika kita seharusnya berserah pada kehendak Allah? Apakah kita tidak memiliki luka-luka dari peperangan yang sebenarnya tidak dilakukan? Tentu kita semua mempunyai itu. Mencoba melarikan diri dari satu krisis memang perbuatan yang biasa dilakukan, tetapi hal ini tidak membenarkan perbuatan kita. Akhirnya, sebagai orang Kristen kita hidup dalam kapal terbang yang lebih tinggi -- kita hidup karena iman, bukan karena penglihatan.

Tiap kehidupan memiliki pengalaman Getsemani. Ada waktu-waktu di mana kekuatan kejahatan seolah-olah terjun menimpa dan menangkap kita. Semua rencana kita berantakan. Beban-beban hampir tidak dapat dipikul lagi. Kita bertanya, kemudian apa lagi yang akan terjadi? Dalam jam-jam krisis ini ingatlah apa yang telah diperbuat oleh Tuhan Yesus. Dia menyerahkan dan memperkenankan Bapa-Nya dalam surga untuk mengerjakan rencana-Nya. Tuhan Yesus tidak memilih jalan melarikan diri, Dia memilih penggenapan kewajiban-Nya.

Berkenaan dengan hal ini, mungkin Anda berkata, "Semua yang Anda katakan memang benar, tetapi kehidupan Tuhan Yesus Kristus lain dari kehidupan kita. Dia datang untuk melakukan satu tujuan tertentu, sebab itu mudah sekali bagi-Nya untuk berserah pada kehendak Bapa. Apakah hal ini juga berlaku buat kita?" Ya, prinsip untuk melakukan kewajiban juga berlaku bagi Anda dan bagi saya. Tuhan mempunyai rencana yang tetap bagi kehidupan kita. Paulus menyatakan itu dalam Efesus 2:10, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Bila Anda menyerah pada Kristus, hidup Anda bukan merupakan sekadar satu rangkaian kejadian. Itu merupakan rangkaian penetapan.

Bahwa Allah mempunyai rencana bagi Anda adalah sangat penting. Bila Allah tidak mempunyai rencana, kehidupan tidak mempunyai arti. Penderitaan adalah sia-sia; pengorbanan adalah percuma. Bila tidak ada rencana untuk hidup kita, tidak ada satu hal yang perlu dikerjakan dan hal yang secara logis perlu dilakukan adalah melarikan diri. Tetapi ada rencana surgawi. Kehendak Allah bagi Anda adalah menyatakan kasih-Nya untuk Anda. Ini menerangkan janji yang indah dalam Roma 8:28, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."

Bukan melarikan diri, tetapi memenuhi kewajiban. Itulah pelajaran yang Tuhan Yesus berikan pada kita di Taman Getsemani. Dia dapat memerintahkan tentara surga untuk melepaskan Dia, tetapi sebaliknya Dia menyerah pada kehendak Allah supaya tujuan Bapa-Nya dapat dilaksanakan. Dan Dia mengetahui bahwa bila Dia menyerah, itu akan berarti ejekan, penderitaan, dan kematian. Dengan menyerahkan diri dalam tangan orang-orang berdosa, Dia sebenarnya meminta penderitaan. Tetapi itulah kehendak Allah dan itulah yang terpenting.

Akhirnya, apakah hasilnya? Kebangkitan kembali dan kemuliaan! Salib bukan tujuan akhir; kubur kosong adalah penggenapan akhir. Ia menggenapi kehendak dan masuk dalam kemuliaan!

Kita seharusnya tidak akan pernah melihat prosesnya sebagai hasil. Apabila Anda tidak melarikan diri, tetapi tetap menghadapi krisis dalam kehendak Allah, pasti ada penderitaan; tetapi ini harus merupakan proses, Allah tidak berhenti dengan proses saja. Dia ingin menciptakan hasil yang akhir. Penderitaan membawa kepada kemuliaan; ejekan menjadi kehormatan; kelemahan membawa pada kekuatan. Inilah cara Tuhan melakukan segala perkara. Manusia berbuat yang paling jelek, tetapi Tuhan akan memberikan yang terbaik. Tuhan Yesus menyerahkan diri dalam tangan orang jahat supaya Dia dapat melakukan tujuan Allah -- dan tujuan itu digenapi. Dia telah membayar harganya untuk keselamatan kita dan sekarang setiap orang berdosa dapat menghadap Allah melalui iman di dalam Kristus dan diselamatkan dari dosa.

Saya tidak mengetahui krisis apa yang Anda hadapi sekarang ini, tetapi saya tahu ini: Anda akan dicobai untuk melarikan diri. Kita semua telah berbuat demikian. Kita telah berdoa dan minta supaya Allah mengirim malaikat-Nya untuk melepaskan kita. Bila melarikan diri adalah cara Anda menghadapi kehidupan, Anda akan kehilangan semua berkat yang Allah sediakan. Satu hal yang perlu diingat, orang-orang yang melarikan diri tidak sungguh-sungguh menjadi dewasa. Anda tidak dapat bertumbuh dalam iman dan kesabaran bila melarikan diri. Dan orang-orang yang sedemikian tidak pernah memuliakan Tuhan. Menyembunyikan terang Anda di bawah tempat lindungan bukan merupakan jalan untuk memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus.

Melarikan diri pada satu waktu kelihatannya menjadi jalan yang termudah, tetapi pada akhirnya itu menjadi jalan yang paling sukar. Saya punya seorang sahabat yang selalu menunda untuk pergi ke dokter sebab takut kalau harus dioperasi. Ketika pada akhirnya dia menghadapi operasi, ia telah terlambat. Pengalaman krisis di dalam hidup adalah seperti operasi itu -- para dokter menyakiti kita, tetapi mereka tidak membahayakan kita. Prosesnya mungkin disertai rasa sakit, tetapi hasilnya sukacita.

Anda dan saya telah menyerahkan hidup kita pada Tuhan Yesus Kristus; Dialah Juru Selamat dan Tuhan kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan atau membiarkan kita. Dia tidak berjanji mengeluarkan kita dari semua krisis, tetapi Dia berjanji membawa kita keluar dari krisis itu. Dia ingin supaya kita mempraktikkan memenuhi kewajiban dan bukan melarikan diri dan Dia telah memberi contoh untuk itu. Dalam Dia kita melihat bahwa kehendak Allah merupakan satu-satunya hal terbaik. Bukannya melarikan diri, melainkan lari ke tangan Bapa surgawi yang penuh kasih itu, dan membiarkan Dia melakukan tujuan-Nya yang mengherankan itu dalam hidup Anda sekarang.

Sumber
Halaman: 
53 -- 58
Judul Artikel: 
Kekuatan untuk Menghadapi Masa Sukar
Penerbit: 
Yayasan Andi, Yogyakarta 1986

Komentar