Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Masalah-Masalah Sekitar Cacat Tubuh

Edisi C3I: e-Konsel 144 - Komunikasi dalam Keluarga

Belas kasihan dari Tuhan Yesus sering kali dinyatakan kepada mereka yang menderita cacat tubuh. Ia disaksikan melayani dan menyembuhkan orang-orang buta, bisu, tuli, lumpuh, dan sebagainya. Pada zaman modern ini, kita sebagai orang-orang Kristen jarang sekali menaruh perhatian untuk melayani dan menolong mereka.

Orang-orang yang cacat tubuhnya adalah mereka yang tubuhnya tidak normal sehingga sebagian besar kemampuannya untuk berfungsi di masyarakat terhambat. Orang-orang lumpuh kaki misalnya, terpaksa duduk terus di kursi roda. Meskipun mereka lumpuh, kita tidak boleh lupa bahwa mereka masih dapat berpikir normal, memakai tangan mereka, melihat, mendengar, dan sebagainya. Jadi, sementara ada bagian-bagian tertentu yang tidak sanggup mereka lakukan, ada juga bagian-bagian lain yang masih sanggup mereka lakukan. Ini hal yang penting sekali diingat pada saat kita melayani mereka.

Memang sangat menyakitkan memunyai tubuh yang cacat, tetapi perlu diingat bahwa beberapa dari mereka tidak merasakan seperti yang kita duga karena mungkin sejak lahir mereka sudah cacat, sehingga mereka tidak pernah mengalami hidup dengan tubuh yang normal.

Tidak diragukan lagi bahwa situasi akan sangat berbeda jikalau seseorang mengalami cacat tubuh, misalnya karena kecelakaan. Sering kali mereka melewati empat fase pergumulan yang sulit sekali.

  1. "Shock" pada saat pertama kali cacat tersebut disadari.
  2. Menyembunyikan diri di balik mekanisme-mekanisme pertahanannya. Ini memungkinkan dirinya untuk mampu melupakan akibat-akibat yang sesungguhnya dari cacat tersebut untuk sementara.
  3. Menerima realita tersebut di mana seseorang mulai berani memikirkan akibat-akibat yang sesungguhnya dari cacat yang dialaminya.
  4. Menyesuaikan diri dengan keadaannya yang cacat.

Kadang-kadang reaksi emosi ini disebutkan dengan istilah "three D-A Clusters", berupa hal-hal berikut.

  1. Depresi, kemarahan dan rasa kecewa yang mendalam disertai dengan kedengkian dan permusuhan. Orang tersebut begitu susah dan frustasi atas cacat yang dialami.
  2. Penyangkalan dan penerimaan, atau suatu keadaan emosi yang mencerminkan suatu pergumulan yang diakhiri dengan penyerahan. Ada saat-saat di mana individu tersebut menolak untuk mengakui realita cacat yang telah terjadi meskipun lambat laun ia akan menerimanya.
  3. Meminta dan menolak belas kasihan dari sesama. Ini adalah fase di mana individu tersebut mencoba menyesuaikan diri untuk dapat hidup dengan kondisinya yang sekarang. Ada saat-saat ia ingin tidak bergantung, ada saat-saat ia betul-betul membutuhkan bantuan sesamanya. Keseimbangan ini kadang-kadang sulit dicapai.

Individu-individu yang mengalami cacat tubuh biasanya harus dapat mencapai penyesuaian-penyesuaian mental yang tidak pernah dihadapi oleh mereka yang normal. Misalnya, penyesuaian dalam hubungan dengan sikap orang-orang lain terhadap dirinya. Anak-anak kecil melihat mereka dengan pandangan yang penuh perhatian, sedangkan orang-orang dewasa mengekspresikannya secara lebih tersembunyi dengan menghindarkan diri dari keterlibatan dengan mereka. Seperti halnya dengan orang-orang yang lain, para penderita cacat tubuh ingin diperlakukan dengan baik, merasakan dirinya berharga. Hal ini merupakan sasaran yang sulit dicapai dalam pelayanan bagi mereka. Coba perhatikan, dengan keterbatasan dalam kemampuan fisiknya, terdapat kegiatan dan pekerjaan yang tertutup baginya. Sekalipun ia telah mendapatkan pekerjaan, belum tentu ia akan dipekerjakan karena banyak hal yang tidak mungkin dapat dilakukannya, misalnya turun-naik tangga. Begitu juga dengan hal-hal lain seperti dalam hubungan dengan kebutuhan seksnya, di mana dengan kebutuhan yang normal, kesempatan untuk mendapatkan penyaluran yang wajar, terhambat. Sulit baginya untuk dapat berpacaran dan membina hubungan sampai dengan jenjang pernikahan.

Pelayanan Konseling pada Penderita Cacat Tubuh

Tugas utama dalam pelayanan konseling bagi para penderita cacat tubuh adalah membina hubungan baik dan kepercayaan terhadap diri konselor. Untuk itu, kita harus memperlakukan mereka sebagai individu yang berharga dengan bakat-bakat yang dihargai, dengan keunikan perasaan yang dapat diekspresikan, dengan kebutuhan-kebutuhan pribadi yang patut dipenuhi, dan dengan perasaan frustasi yang dapat diatasi. Sikap ini tidaklah cukup hanya dengan menjabat tangan mereka setelah kebaktian dengan segala basa-basinya. Kalau konselor sulit untuk menerimanya sebagai individu yang berharga, pertama-tama konselor sendirilah yang harus memeriksa diri sendiri. Tuhan Yesus begitu memerhatikan dan menghargai mereka, kita pun tentunya juga demikian.

Di samping itu, konselor juga harus menolong mereka untuk dapat menerima dirinya sendiri, secara realistis mengevaluasi kelemahan-kelemahannya sendiri dan belajar mengatasinya sehingga dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupannya. Mereka harus ditolong untuk menyadari bahwa bagaimanapun keadaan mereka, mereka adalah individu-individu yang dikasihi Allah dan untuk mereka juga Tuhan Yesus datang. Kita harus membimbing mereka dalam pertumbuhan rohani mereka dan dalam melaksanakan apa yang dikehendaki Allah atas mereka. Di samping itu, kita harus berani membicarakan pertanyaan hidup mereka yang utama, yaitu "mengapa?" dan menolong mereka dapat menerima keadaan dan kesulitan-kesulitan hidup yang ada secara realistis.

Menarik sekali bahwa rupanya konselor-konselor Kristen bukanlah satu-satunya yang tertarik dalam menolong penderita cacat tubuh. Orang tua (yang membutuhkan pengertian dan dukungan dalam pergumulan-pergumulan, baik dengan perasaannya sendiri maupun dengan tuntutan pelayanan dari anaknya yang cacat), dokter, guru, ahli ilmu jiwa, spesialis dalam rehabilitasi, dan sebagainya, semua dapat bekerja sama dalam tugas pelayanan bagi para penderita cacat tubuh ini. Begitu juga, anggota-anggota jemaat mereka dapat dilibatkan dalam pelayanan bagi penderita cacat, dalam menerima mereka sebagai manusia seutuhnya, menolong mereka untuk dapat ikut berbakti di gereja, bahkan menolong mereka dalam pertumbuhan rohani, emosi, dan kehidupan sosial mereka.

Sumber
Halaman: 
173 -- 176
Judul Artikel: 
Pengantar Pelayanan Konseling Kristen yang Efektif
Penerbit: 
Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 1998

Komentar