Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Aku Jual "Segalanya" Demi Sepotong Cinta

Aku teramat mencintainya, dia laki-laki pertama yang mengisi relung hatiku. Apapun aku lakukan untuk mempertahankan hubungan kami, walau kenyataan yang aku hadapi setelah menjadi kekasihnya adalah kehilangan banyak sahabat, itu karena mereka tidak menyetujui hubungan kami.

"Dia itu play boy cap Gayung!", kata Vivi dengan geram, saat tahu aku menerima Melvine sebagai kekasihku.

"Dia tidak hanya kurang ajar, tapi laki-laki yang tidak punya perasaan", Cindy pun tak kalah emosi dan ikutan memberikan komentar.

Aku sama sekali tidak menggubris omongan sahabat-sahabatku, itu karena aku begitu mencintainya. Waktu aku menyampaikan apa komentar teman-temanku, dengan tenang dia menjawab, "Sayang, kamu harus percaya aku, mereka itu cemburu karena aku memilih kamu, bukan memilih mereka! Karena buat aku, kamu tidak hanya cantik tapi juga gadis yang sangat baik."

Hidungku kembang-kempis mendengar kata-katanya dan aku larut dalam rayuannya. Pikirku apa yang Melvine katakan ada benarnya, kekasihku tidak hanya ganteng tapi juga anak orang kaya! Aku yakin 75% wanita di kampus bermimpi bisa menjadi kekasihnya.

Bukan hanya Vivi dan Cindy yang memperingatkanku, tapi Bernard, lelaki yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri meminta aku untuk berpikir lagi sebelum menerima Melvin sebagai kekasihku. Menurutnya, Melvine bukan laki-laki yang baik untukku.

Tahi gigi terasa Silver Queen! Itulah yang aku rasakan saat ini, walau awalnya berat tapi aku rela kehilangan sahabat-sahabatku dibanding harus kehilangan Melvineku. Dia begitu manis, begitu lembut, romantis dan yang paling penting dia memanjakanku dengan barang-barang yang mahal, yang tidak mungkin bisa aku beli dengan uangku sendiri.

Aku si Putri Abu, ketiban berkat yang luar biasa. Selama ini kalau ada mata kuliah pagi dan sore, sering kali aku terpaksa berpuasa dan hanya makan kalau ditraktir oleh teman-teman. Kehidupan kami selama ini hanya mengandalkan bengkel kecil milik ayahku. Untuk membayar uang kuliah, aku memberikan kursus matematika untuk anak SD dan SMP di malam hari. Tadi pagi Melvine memintaku untuk berhenti mengajar supaya kami punya banyak waktu untuk bersama dan dia berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku

Satu bulan pertama, hubunganku seperti di dunia dongeng, aku begitu bahagia! Bayangkan... setiap ada baju model yang terbaru aku pasti dibelikan, plus sepatu baru dan tas baru. Aku tidak perlu rendah diri terhadap teman-teman yang ada di kampus. Setiap minggu aku pergi ke salon untuk facial, spa, creambath. Kata Melvin, semua itu bagus untuk kecantikan dan kesehatan kulitku.

Aku si Putri Abu, seperti kacang lupa kulitnya. Kuliahku mulai berantakan, aku lebih memilih jalan-jalan dengan kekasihku dibanding kuliah. Pikirku, tidak ada gunanya sekolah tinggi-tinggi karena tanpa bekerjapun harta mertuaku tidak habis sampai dua belas turunan.

Suatu hari, Melvine mengajakku ke vila orang tuanya di puncak dan inilah awal kehancuran si Putri Abu. Malam itu kami harus menginap dengan alasan Melvine terlalu letih mengendarai mobil dari puncak ke Jakarta. Aku si Putri Abu, terbuai dengan rayuannya. Dia berhasil merayuku dan meyakinkanku bahwa dia begitu mencintaiku dan akhirnya kami melakukan hal yang tidak sepantasnya kami lakukan. Aku menyerahkan kehormatanku padanya.

Awalnya aku menangis dengan kejadian di Puncak itu. Lambat laun aku tidak lagi menyesali atas kehilangan kegadisanku, pikirku nanti juga kami akan menjadi suami istri. Aku berkhayal suatu saat akan tinggal di rumah mewah, punya mobil sendiri dan kalau liburan pergi keluar negeri. Khayalanku melambung tinggi.

Aku yang bodoh terlilit oleh khayalanku sendiri. Mimpi itu buyar saat tahu aku hamil 2 bulan! Pikirku Melvine akan bahagia dengan kabar ini tapi ternyata dia memaki-makiku mengatakan aku bodoh karena teledor. Dia menuduhku sengaja tidak meminum pil anti hamil agar dia menikahiku, dia memaksaku untuk menggugurkan bayi itu.

Hatiku hancur saat mengetahui kekasihku seorang monster yang berwajah manis, begitu teganya dia memintaku membunuh anaknya sendiri.

Aku tidak tahu harus cerita kemana. Ke orang tuaku? tidak mungkin, itu sama saja membunuh ibu yang punya sakit jantung. Aku kalut, aku bingung dan yang terlintas di benakku adalah bunuh diri! Tapi itu artinya aku melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. Dengan hamil di luar nikah saja sudah dosa besar apalagi kalau ditambah dengan bunuh diri, artinya aku tidak hanya membunuh diriku sendiri tapi juga bayi yang ada di kandunganku.

Aku tidak akan menggugurkan bayi yang ada di kandunganku, apapun yang terjadi dia harus lahir ke dunia. Bayi ini tidak salah, yang salah adalah papa dan mamanya yang tidak bertanggung jawab.

Aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa?

Berhari-hari aku mencari Melvin tapi dia hilang begitu saja. Aku bertanya kepada temannya dan dengan sinis dia berkata, "Kamu tidak tahu kalau Melvine dua hari yang lalu sudah pindah ke Amerika? Udah deh... ikuti saja permintaan dia untuk menggugurkan kandungan kamu dan masalah akan selesai!"

"Duh, Tuhan... maafkan aku yang telah melangkah jauh dari-Mu", aku manangis sepanjang jalan koridor kampus.

Sebenarnya aku ragu mendatangi orang tua Melvine, aku takut kedua orang tuanya akan menghina, tapi aku juga tidak bisa diam karena bayi yang dikandungannku semakin hari akan semakin besar.

Aku berharap mereka senang saat mengetahui kalau di perutku ada cucu mereka, tapi ternyata mereka justru menuduhku menipu untuk mendapatkan uang. Saat aku hendak meninggalkan rumah mereka, mama Melvine menyodorkan sebuah amplop dengan syarat lupakan anaknya karena mereka tidak sudi punya menantu orang miskin.

Aku berharap ada mujizat dalam hidupku, Melvin menyesali perbuatannya dan meminta maaf padaku! Aku tahu itu hanya mimpi dan tidak akan mungkin terjadi.

Aku tidak punya semangat hidup lagi, aku sudah mengecewakan keluargaku! Hamil di luar nikah dan aku gagal menjadi sarjana! Nilai mata kuliahku hancur dan kalau aku tidak bangkit, aku pasti drop out.

"Oh Tuhan... apa yang harus aku lakukan?", batinku menjerit. Apapun yang terjadi aku tidak akan menggugurkan anak yang aku kandung, aku harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku perbuat. Dengan hamil di luar nikah saja aku sudah mendukakan Tuhan Yesus, apalagi kalau aku sampai membunuh!

Saat kandunganku sudah jalan 3 bulan, aku putuskan mengaku pada ayah dan ibu kalau aku sudah salah jalan. Aku sudah siap kalau ayah akan menamparku atau bahkan mengusir, tapi semua di luar dugaanku. Sesaat mereka diam seribu bahasa. Dengan lembut ayah memelukku bersamaan dengan ibu, dan aku menangis pedih meminta ampun karena telah mengecewakan mereka.

Malam itu, aku sampaikan bahwa aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Anak ini tidak akan aku gugurkan, aku akan melahirkan dan membesarkannya.

Bagaimanapun perjalanan hidupku masih panjang. Saran ayah, aku harus melanjutkan kuliahku tapi sambil menunggu bayi ini lahir aku akan mengambil cuti akademis satu tahun.

Aku diungsikan ke kampung nenek, sampai bayi yang di kandunganku lahir dan setelah itu aku akan melanjutkan kuliahku. Aku tahu tidak mudah menjalani semuanya tapi aku yakin Tuhan tidak pernah menolak permintaan maaf dari anak-Nya.

Selama menanti kelahiran anakku, aku banyak merenung. Tidak ada lagi yang perlu disesali karena semua sudah terjadi, setidaknya apa yang aku alami saat ini suatu saat bisa menjadi kesaksian dan peringatan bagi anak-anak muda untuk berhati-hati menjalani masa mudanya! Jangan silau dengan harta, dan akhirnya larut dan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup mereka.

Aku juga belajar untuk tidak mempunyai akar kepahitan pada orang yang melukaiku karena aku tahu pasti, masih ada masa depan yang indah yang Tuhan sediakan bagiku jika aku berbalik pada-Nya.

"Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya. (Yesaya 42:3,4)

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
--
Penerbit: 
--

Komentar