Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menangani Stres

Edisi C3I: e-Konsel 025 - Stres

Jalan keluar ini adalah untuk mengembangkan filsafat Alkitabiah terhadap hidup. Bagaimana hal ini dapat dilaksanakan? Dengan menemukan dan menerapkan Firman Tuhan secara praktis dalam hidup seseorang. Stres muncul karena pilihan-pilihan yang kita buat dan karena sikap kita terhadap berbagai keadaan hidup ini.

Lihat Yakobus 1:2-3, "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan."

Kata 'anggaplah' kadang-kadang diartikan berkenaan dengan suatu sikap hati atau pikiran yang mengizinkan pencobaan-pencobaan dan keadaan-keadaan hidup mempengaruhi seseorang, secara merugikan ataupun secara menguntungkan. Dapat juga diartikan, "Bulatkanlah hati untuk menganggap kemalangan itu sesuatu yang patut disambut atau yang menggembirakan". Kita mempunyai kuasa untuk menentukan sikap. Kita dapat menghadapi suatu situasi dan berkata, "Ini buruk sekali. Hal ini sungguh-sungguh membingungkan. Ini merupakan hal yang paling tidak saya inginkan dalam kehidupan saya. Mengapa menimpa saya dan mengapa sekarang?" Atau kita dapat mengatakan, "Ini tidak saya inginkan atau harapkan, tetapi ini terjadi. Akan ada waktu-waktu yang sulit, tetapi bagaimana saya dapat berbuat sebaik-baiknya dengan hal-hal ini? Apa yang dapat saya pelajari dan bagaimana saya dapat bertumbuh melalui hal ini?"

Bahkan Rasul Paulus mengalami situasi-situasi yang dapat menimbulkan stres. Ia mengatakan di dalam 2Korintus 11:24-28,

"Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak-pihak orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara- saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat- jemaat."

Paulus juga mempunyai "duri dalam daging" dan tiga kali meminta kepada Allah untuk mengangkat duri itu. Tetapi ketika duri itu bertahan, Paulus menyimpulkan bahwa hal itu adalah untuk membuat dia tetap rendah hati dan untuk memampukan dia bertumbuh secara rohani (2Korintus 12:7-10).

Jika kita melihat ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain, kesan kita ialah bahwa Paulus berusaha melihat segi positif dari situasi-situasi penyebab stres itu dan menggunakannya sebagai pengalaman-pengalaman untuk bertumbuh.

"Dari segala penjuru kami ditimpa oleh kesulitan, tetapi kami tidak hancur luluh. Kami bingung, karena kami tidak tahu mengapa hal-hal itu terjadi, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan kami. Kami dihempaskan, tetapi kami bangun lagi dan terus maju. Tubuh kami ini senantiasa menghadapi ancaman maut, seperti halnya dengan Yesus. Jadi jelaslah bagi kami semua bahwa hanya Kristus yang hidup di dalam kamilah yang memelihara keselamatan kami. Ya, kami terus-menerus menghadapi bahaya maut, sebab kami melayani Tuhan. Tetapi hal ini pulalah yang senantiasa memberi kesempatan kepada kami untuk menyatakan kuasa Yesus Kristus di dalam tubuh kami yang fana ini. Karena memberitakan Injil, kami menghadapi maut; tetapi pemberitaan kami telah mendatangkan hidup kekal bagi saudara sekalian." (2Korintus 4:8-12, Firman Allah yang Hidup.)

Paulus cukup realistis. Dia tahu bahwa ia dapat mengatasi stresnya, tetapi dia juga sadar bahwa orang lain mungkin lebih sulit menghadapi stres mereka. Stres menyebabkan Yohanes Markus meninggalkan pelayanannya, dan Demas meninggalkan imannya karena dia lebih mencintai dunia. Paulus bergumul dengan perasaan kesepian, seperti yang terungkap dalam surat terakhirnya kepada Timotius.

Apabila seseorang mengalami stres, hal ini dapat mempunyai satu atau dua pengaruh terhadap hubungannya dengan Allah. Stres dapat membawa orang itu semakin dekat kepada Allah, atau menyebabkan orang itu meninggalkan Allah dalam kepahitan dan kekecewaannya. Yesaya 43:2 sangat realistis tentang stres:

"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau."
Kita tidak dijanjikan suatu kehidupan yang bebas dari situasi- situasi yang sulit, tetapi kita memang dijanjikan bahwa kita tidak sendiri ketika situasi-situasi itu timbul.

Stabilitas kita berasal dari Kristus sendiri. Tuhanlah kekuatan kita ketika kita memberikan konseling kepada seseorang yang dalam stres dan krisis, dan Tuhan adalah kekuatan mereka juga.

Ayat Alkitab
Roma 16:25; Nehemia 8:11; Yesaya 33:6

Sumber
Halaman: 
263 - 265
Judul Artikel: 
Konseling Krisis
Penerbit: 
Gandum Mas, Malang, Jawa Timur, 1996

Komentar