Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengapa Orang Selalu Merasa Tidak Puas?

Apakah Anda pernah mengenal seorang kawan yang terus menerus bekerja, dan tidak pernah puas dengan apa yang dicapainya, tahu - tahu sakit keras lalu meninggal dunia? Saya pernah. Namanya Pak Sampurna. Ia menguasai lima bahasa secara sempurna. Punya anak-anak yang semuanya sarjana. Tinggal di pusat ibu kota dengan rumah milik sendiri. Ia menerima gaji yang tinggi. Dan ketika bercakap-cakap dengan saya pada suatu hari, ia dalam keadaan sakit, jantung lemah, tubuh loyo, dan selalu mengeluh. Ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang pernah ia capai. Ia membenci orang lain, dan selalu mempersalahkan dirinya sendiri. Ia diliputi dengan penyesalan sampai, ia meninggal dunia.

Manusia mana di dunia ini yang pantang mengejar prestasi atau sukses? Tidak ada. Kalaupun ada, itu kita golongkan pada kasus istimewa. Semua manusia normal selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang menjadi keinginannya. Begitu ia menyelesaikan yang satu, ia pun berpindah kepada yang lain. Tak henti-hentinya ia menetapkan tujuan-tujuan dalam hidupnya. Dan herannya, ia sendiri tak merasa puas dengan apa yang sudah dicapainya. Ia tak pernah puas dengan hidup ini.

Memang di satu pihak rasa ketidakpuasan, bisa mendorong seorang untuk berprestasi. Tetapi kalau sampai rasa ketidakpuasan itu berlebihan sampai membuat seorang itu depresi, ini masalah yang besar. Dan kita akan mengalami nasib yang sama dengan Pak Sampurna.

Ketidakpuasan Terhadap Orang Lain

Ketidakpuasan manusia tidak hanya terbatas pada kepemilikan materi, tetapi juga dalam hubungan dengan orang lain. Kebanyakan kita sering merasa jengkel terhadap orang lain. Kita marah akan sikap dan tingkah laku mereka: pendek kata kita tidak puas dengan orang lain.

Ketidakpuasan terhadap orang lain dapat merupakan sumber kebencian dan permusuhan. Saya sering mendengarkan ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut seseorang: "Saya tidak suka dengan orang itu." Kalau ditanya mengapa ia tidak suka dengan orang itu, maka jawabannya: "Pokoknya, saya tidak suka!"

Di dunia ini tidak ada manusia yang diciptakan persis sama. Dua orang bisa saja memiliki kemiripan yang sulit dibedakan tetapi tidak mungkin sama sekali. Tetap ada perbedaan walau sedikit di antara keduanya.

Perbedaan-perbedaan yang ada di antara maeusia itu mencakup berbagai faktor:

  1. Fisik: ada yang tinggi, pendek, gemuk, kurus.
  2. Temperamen: ada yang kolerik, sanguin, melankolik dan ada yang flekmatik.
  3. Budaya dan suku
  4. Agama
  5. Pendidikan
  6. Umur

Perbedaan-perbedaan tersebut di atas bisa menjadi sumber, ketidakpuasan satu terhadap yang lain. Sebab manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadikan orang sesuai dengan keinginan dan latar belakangnya. Katakanlah si Binyo yang berasal dari Minahasa mempunyai masakan kesukaan bubur Manado. Ia akan merasa puas kalau kawannya dari Tapanuli, si Bonar bersama dengannya ke rumah makan Manado dan mau makan bubur Manado kesukaan si Binyo itu.

Begitu pula halnya dengan temperamen. Si Sanguin misalnya pada suatu hari menjadi MC di sebuah acara persekutuan muda-mudi. Maka dia akan merasa senang kalau semua yang hadir ikut bersorak sorai memuji Tuhan. Dan si Kolerik akan cepat jatuh cinta kepada si gadis yang begitu rajin tak kenal lelah.

Tentu ceritanya akan menjadi lain kalau si Bonar menolak ajakan Si Binyo untuk makan bubur Manado, sambil berkata: "Makanan apa ini? aku tidak mau memakannya." Si Binyo akan menyimpan kebencian di dalam hatinya. Begitu pula si Sanguin akan merasa tidak senang dengan mereka yang loyo yang tak bersemangat dan si Kolerik tak akan pernah jatuh cinta kepada seorang gadis yang cantik tetapi malas.

Kelihatanya, di saat kita memaksa orang lain untuk menjadi seperti yang kita inginkan di sanalah ketidakpuasan itu muncul. Ketidakpuasan itu bisa berlanjut dengan kemarahan, kebencian dan bisa-bisa sampai kepada pembunuhan.

Salah satu sifat yang dapat menolong agar kita bisa puas dengan orang lain ialah menerima orang lain apa adanya. Sikap ini dimulai dengan mengenal siapa orang itu; apakah kebutuhannya, bagaimana keadaan emosinya, dan tipe kepribadian apa yang dimilikinya, seperti semua latar belakang yang telah disebutkan di atas tadi. Setelah mengenal orang itu maka langkah selanjutnya adalah mengakui dan menghargai keunikan yang ada padanya termasuk keyakinannya, cara berpikirnya dan keputusan-keputusannya.

Anda bisa saja menasihati dia atas keputusannya yang salah. Atau Anda bisa menginjili dia agar ia percaya kepada Kristus. Anda pun bisa menegur atas kesalahan-kesalahannya. Tetapi satu hal yang tidak mungkin Anda lakukan adalah berusaha untuk mengubah hatinya. Ketika Anda naencoba untuk mengubahnya, disitulah awal dari sebuah pertikaian. Hanya Tuhan yang mampu mengubah hati seseorang. Maka sewajarnyalah Anda menyerahkan orang itu kepada Tuhan di dalam doa.

Jangan mencoba menguasai dan merasa berhak atas orang lain, sebaliknya berusahalah untuk mengasihinya, dengan demikian Anda tidak usah kecewa dengan sikap seseorang.

Ketidakpuasan terhadap diri sendiri

Sebenarnya, sumber utama ketidakpuasan manusia terhadap hidup ini berakar dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Kebencian terhadap orang lain merupakan pencerminan dari kebencian terhadap diri sendiri.

Pada dasarnya manusia itu tidak mau ditolak oleh orang lain. Ia selalu berupaya sedemikian rupa sehingga ia diterima dan diakui oleh orang lain, terutama oleh orang tua atau keluarga yang membesarkannya. Oleh sebab itu ia akan berusaha sedemikian rupa agar ia diterima oleh orang tua dan keluarganya dengan cara memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka.

Katakanlah si gadis Lusida yang sejak kecil mendengar dan menyaksikan sikap hidup orang tuanya yang sangat menghargai orang yang bekerja dengan rajin. Bahkan orang tuanya sering mengendongnya ke kebun dan kadang ditinggalkan seorang diri di rumah karena kedua orang tuanya begitu sibuk dengan pekerjaannya.

Ketika beranjak ke masa remaja, Lusida mulai dituntut orang tuanya untuk bekerja keras. Pokoknya tiada hari tanpa bekerja.

Dari situasi lingkungan keluarga yang demikian, tanpa disadari Lusida telah meyakinkan dirinya bahwa dia hanya diterima dan dihargai oleh orang tuanya dan atau keluarganya apabila ia bekerja keras. Saya adalah apa yang dikerjakan, begitu ia berpikir.

Cara berpikir seperti itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian Lusida. Lusida kemudian menjadi seorang yang mengutamakan kerja di dalam hidupnya. Dan kalau sampai ia mengalami kegagalan dalam pekerjaannya, ia menjadi sangat kecewa. Bagi dia kegagalan dalam pekejaan berarti penolakan terhadap dirinya. Dan yang mengherankan, dia sering mengalami kegagalan (maklum karena dia juga seorang manusia yang sangat terbatas). Karena itu pulalah ia marah dan benci kepada dirinya sendiri.

Kebencian pada diri sendiri inilah yang bisa menjadi potensi bab munculnya berbagai penyakit jasmani, gangguan-gangguan kejiwaan seperti stres, depresi, permusuhan terhadap orang lain, iri hati, senang menggosip orang lain, dan sebagainya.

Jalan Keluar

Ketidakpuasan terhadap diri sendiri bermula dari kurangnya kasih dan penerimaan sejak masa kecil seseorang. Seandainya seseorang dapat merasakan kasih sayang yang cukup pada masa kecilnya, maka ia akan bertumbuh menjadi seorang yang stabil di dalam hidupnya. Tetapi, manusia mana di dunia ini yang betul-betul menikmati kasih sayang yang sempurna? Hampir dikatakan tidak ada.

Manusia pada dasarnya berdosa. Dosa membuat seorang hidup mementingkan dirinya sendiri. Orang tua yang adalah juga manusia, tidak sanggup memenuhi kebutuhan kasih sayang anaknya. Malah mereka mencari makna diri mereka dari anak mereka. Mereka akan menyekolahkan anak mereka dengan maksud agar mereka dianggap berharga karena punya anak yang sarjana dan mungkin juga kaya.

Jika anak mereka tidak memenuhi apa yang mereka inginkan, apalagi jika sikap dan tindakan anaknya itu bertentangan dengan cita-cita dan keinginan mereka, maka timbullah kecaman, hinaan yang justru menghancurkan harga diri anak.

Akan tetapi ketika seorang datang dan percaya kepada Kristus, maka kekosongan yang ada di dalam dirinya terjawab. Sebab, kedatangan Yesus ke dalam dunia ini justru menjawab apa yang menjadi kebutuhan utama manusia, yaitu kebutuhan akan kasih dan penerimaan serta penghargaan.

Dengan kematian-Nya di kayu salib, Yesus menanggung semua penolakan yang dialami manusia. Ia diludahi, dicaci maki, ditolak. Mengapa? Agar manusia diterima.

Sumber
Halaman: 
40 - 43
Judul Artikel: 
Sahabat Gembala, Agustus/September 1993
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung

Komentar