Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Cinta Sejati akan Hal-hal Rohani

Edisi C3I: e-Konsel 061 - Kebangunan Rohani

Tips berikut ini merupakan bagian dari artikel yang dimuat dalam milis publikasi e-Reformed Edisi 029/2002. Bagi Anda yang menginginkan edisi lengkapnya, silakan berkunjung langsung ke:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed/029/
==> http://reformed.sabda.org/mengusahakan_pertumbuhan_pola_pikir_rohani (Bab 12)
atau kirim email ke alamat: <staf-konsel@sabda.org>

Cinta Sejati akan Hal-Hal Rohani
(Oleh : John Owen)

Tanpa adanya perasaan cinta dan sukacita atas hal-hal rohani, kita tidak akan dapat memiliki pola pikir rohani! Bagaimana kita tahu bahwa itu adalah cinta sejati? Apakah yang dimaksud dengan cinta rohaniah?

Hal utama yang harus kita ingat adalah tidak akan ada cinta sejati atas hal-hal rohani dalam diri manusia, kecuali bila terjadi pembaharuan rohani atau kelahiran baru dalam hidup mereka, sebagai karya dari anugerah Allah dan kuasa Ilahi-Nya!

Kita hendaknya mulai dengan pernyataan tersebut, karena semua aktivitas alamiah jiwa kita memang telah dicemari oleh dosa (Titus 3:3). Karena ini bukan tempat yang tepat untuk mendiskusikan masalah tersebut secara terperinci, maka saya hanya akan memberikan sedikit komentar singkat. Fakta pencemaran jiwa kita oleh dosa telah dipahami oleh semua orang, termasuk oleh mereka yang tidak mempelajari Alkitab sekalipun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalam diri kita senantiasa terdapat kesiapan untuk melakukan kesalahan. (Dan bila hanya dengan pemahaman akal manusia semata, kecemaran ini telah dapat menjadi nyata, betapa berdosanya mereka yang mengabaikan dan menolaknya justru setelah memperoleh pengajaran Alkitab tentang hal ini!)

Kesiapan untuk melakukan kesalahan yang merupakan kecenderungan alamiah setiap kita, terjadi bukan hanya pada satu macam dosa tertentu. Sebaliknya, kesiapan tersebut nampak dalam berbagai bidang kehidupan secara menyeluruh! Itulah sebabnya, tak satu pun dosa dapat ditanggalkan tanpa adanya pembaharuan pada hakekat keberdosaan seseorang. Kalaupun orang tersebut telah berhenti melakukan suatu jenis dosa tertentu, dosa-dosa lainnya akan segera bermunculan oleh adanya hakekat keberdosaan di dalam dirinya. Adanya hakekat berdosa dalam diri kita akan membuat kita memiliki kemungkinan melakukan dosa apa pun! Kita akan melakukan apa saja yang kita inginkan (Kolose 3:5-7). Bahkan meskipun akal kita telah memberitahu kita bahwa menuruti naluri berdosa merupakan suatu kebodohan, namun kuasa naluri berdosa tersebut sedemikian kuat, hingga kita tetap melakukannya.

Bukti paling sederhana dari hakekat keberdosaan kita adalah pertama, adanya kebencian terhadap Allah dan hal-hal rohaniah; dan kedua, adanya kecintaan akan dunia ini yang membuat kita sibuk mengejar keuntungan duniawi, bagaikan sekawanan lebah yang mengitari sebuah stoples madu.

Saya harus mengingatkan Saudara bahwa ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengalami suatu pembaharuan dalam hidupnya, yang meskipun cukup penting tetapi tidak dapat menghasilkan suatu pola pikir rohani. Ini jelas bukan merupakan pembaharuan khusus Allah. Adakalanya seseorang untuk sementara waktu dapat dipengaruhi oleh pemberitahuan firman dari Alkitab (Matius 13:20-21). Kadang, seseorang juga dapat berubah oleh pendekatan suatu konsep filsafat, suatu pengalaman mengerikan, ataupun oleh pendidikan serta suatu tanggung jawab yang baru (1 Samuel 10:9). Tetapi pembaharuan semacam itu tidak akan menghasilkan suatu pola pikir rohani, karena hanya mengubahkan arah keinginannya dari duniawi menjadi sorgawi. Mencintai hal-hal terindah di dunia ini mungkin dapat membangun, tetapi tetap saja tidak ada keterlibatan konsep keagungan rohaniah di dalam hal-hal tersebut. Aroma darah akan segera membuat seekor hewan jinak menjadi liar kembali.

Kadangkala, orang-orang tidak beriman mempermalukan kita yang mengaku sebagai orang percaya, dengan cara hidup mereka yang demikian sabar, baik, dan bermanfaat bagi orang lain. Tetapi hanya pembaharuan yang dikaryakan oleh Roh Kudus di dalam diri seseorang lah, yang dapat mengubahkan inti dari hakekat kemanusiaannya dan dengan demikian, menjadikannya orang saleh sejati (Efesus 4:23).

Sumber
Halaman: 
67 - 78 dan 83 - 87
Judul Artikel: 
Berpola Pikir Rohani
Penerbit: 
Momentum, Surabaya, 2001 (114 halaman)

Komentar