Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Apakah Sudah Terlambat?

Apakah yang harus kami lakukan jikalau segala nasehat sudah tidak mempan lagi, dan anak kami tetap pacaran dengan orang yang tidak seiman? Pertanyaan ini seringkali muncul pada saat ada seminar tentang pernikahan dan keluarga Kristen. Memang hidup sebagai anak- anak Tuhan di tengah dunia yang berdosa ini selalu menghadapi risiko kontaminasi dan kehilangan. Apalagi setelah kita kurang berhasil membekali anak-anak kita dengan pertumbuhan pribadi yang cukup.

Pergaulan yang terbuka selalu membuka peluang untuk menjadi bebas, sehingga anak-anak kita berjumpa, berinteraksi, membangun keakraban, dan bahkan lebih dari itu. Satu pihak, realita ini wajar dan sehat, tetapi pihak lain menjadi ajang pergumulan yang sangat serius karena menentukan wujud kehidupan yang akan mereka jalani kelak. Bekal yang kurang, akan membuat anak-anak kita menjadi manusia yang digerakkan oleh insting yang primitif. Sehingga pikiran, perasaan, dan orientasi hidupnya semata-mata pada pencarian pemenuhan kebutuhan daging. Sebaliknya, dengan bekal yang lebih sehat mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang berjiwa dewasa, yang arah tujuan hidupnya diatur oleh prinsip dan sistim nilai yang tinggi. Dengan demikian, pergaulan yang terbuka, yang memang seringkali tak terhindari, tidak akan menjadi pergaulan bebas. Rasa tertariknya kepada individu yang lain pun tidak terletak pada penampilan luar, tetapi pada kehidupan batinnya. Bahkan sebagai orang beriman, ia tidak mungkin mempunyai ketertarikan untuk mengikatkan diri dengan individu-individu yang tidak seiman.

Sayang sekali, realita hidup tidak selalu seperti yang seharusnya. Banyak anak orang beriman yang lahir dan tumbuh dengan bekal yang kurang, memasuki masa remaja dengan "role confusion/kebingungan peran". Mereka tidak mempunyai prinsip dan sistim nilai yang cukup, sehingga mereka sangat rapuh di tengah pergaulan mereka. Kondisi yang tidak menguntungkan ini seringkali masih ditambah lagi dengan watak keras kepala maunya sendiri dan menutup pintu terhadap nasehat kedua orangtuanya. Sebagai contoh, coba perhatikan kasus di bawah ini.

Mindi (bukan nama sesungguhnya) merasa bahwa kedua orangtuanya terlalu kolot dan prejudis terhadap agama dan suku yang lain. Mindi memang remaja yang suka bergaul, sehingga dengan kecantikannya ia begitu cepat populer di sekolah atau di mana saja ia berada. Ia bangga bisa berkawan dengan siapa saja sehingga untuk segala urusan, termasuk cari bahan-bahan contekan, ia begitu mudah mendapatkannya.

Sejak di bangku SMP, bapak dan ibu Purnomo (ayah dan ibu Mindi), sudah melihat gelagat pemberontakan anak keduanya ini. Mindi memang berani melawan, dan kata-katanya seringkali dirasakan kurang ajar. Ia sudah beberapa kali minggat dan menginap di rumah temannya.

Hari ini bapak dan ibu Purnomo datang untuk meminta bantuan Anda. Mereka bingung sekali menghadapi sikap Mindi yang terlalu dekat dengan Anto pemuda putus sekolah yang pernah dipenjara karena menjadi pengedar ganja. Rasanya peran orangtua sudah tidak ada lagi. Nasihat, dari lembut sampai kasar sudah diberikannya. Apa yang harus dilakukan?

Menghadapi kasus "sudah terlambat" seperti ini memang tidak mudah. Posisi dilematik dari kedua orangtua ini dapat dirasakan. Meskipun demikian, beberapa prinsip konseling di bawah ini dapat Anda pertimbangkan, yaitu a.l.:

  1. Kembali ke basic dan serahkan semua persoalan dan kekuatiran Anda kepada Tuhan.

    Menghadapi kondisi yang dilematik, hampir selalu manusia terjebak pada pencarian resep sehingga fokus perhatian terikat pada fenomena persoalan. Artinya, menghadapi kondisi sejenis ini, manusia hampir selalu mengutamakan pertanyaan bernuansa resep "why and how" padahal pertanyaan terpenting sebenarnya adalah "what". Artinya, "apa" yang sudah dan sedang terjadi dan "apa" peran orang percaya di tengah kondisi tersebut.

    Hubungan antara bapak dan ibu Purnomo dengan Mindi merupakan realita interaksi dari sistim komunikasi yang disfungsional. Apa yang sudah terjadi adalah kesalahan interaksi yang membentuk sistim komunikasi yang tidak dialogis. Manifestasi kepribadian Mindi yang seringkali tidak disukai bapak dan ibu Purnomo telah memancing mereka mengambil sikap mencoba menaklukkan atau menjinakkan Mindi. Suatu keinginan yang wajar tetapi ketidak berhasilannya sudah menghasilkan pembentukan sistim dengan muatan-muatan prasangka negatif. Akibatnya, hubungan tersebut memasuki tahapan komunikasi yang cukup rawan akan ekses. [Tahapan komunikasi antara orangtua "yang cukup baik" dan anak "yang difficult":

    1. Tahap persiapan pembentukan sistim.
      Pada tahap ini (usia lahir sampai 6 bulan), sikap orangtua diatur oleh keinginan untuk "merasa bahagia dengan kehadiran anak tsb.". Sebagian besar orangtua mencoba menciptakan suasana supaya anak senang. Pelayanan diberikan maksimal, tetapi umumnya diakhiri dengan "mental fatigue," karena anak tersebut rewel dan sulit di-handled.

    2. Tahap awal pembentukan sistim (usia sampai kira-kira tahun masuk sekolah).
      Pada tahap ini orangtua sudah mulai memakai kekerasan atau punishment untuk menaklukan si anak. Biasanya metode tersebut tidak berhasil, dan anak mulai memanipulir inconsistency/ketidakjelasan sikap orangtua.

    3. Tahap tengah pembentukan sistim (usia mulai sekolah sampai pra remaja).
      Pada tahap ini, kedua belah pihak merasakan adanya "tug of war" dengan masing-masing memakai peran yang keliru untuk saling menaklukan.

    4. Tahap puncak pembentukan sistim (usia mulai dari remaja).
      Pada tahap ini masing-masing pihak sudah mempunyai prasangka negatif/prejudice sehingga niat baik pun ditanggapi negatif.]

    Hubungan antara mereka sudah masuk dalam tahapan puncak pembentukan sistem, sehingga upaya apa pun juga tak akan berhasil memperbaiki komunikasi yang sudah ada. Ekses-ekses negatif sudah ada (minggat, bergaul, dan pacaran dengan individu yang bermasalah tanpa rasa takut mengecewakan kedua orangtuanya).

    Meskipun demikian, di tengah kondisi dimana kemampuan manusia "sudah terhenti", kita sebagai orang beriman masih mempunyai pengharapan. Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, yang masih terus memberikan kesempatan bagi anak-anak-Nya untuk bertobat. Pertobatan yang sejati akan menempatkan mereka dalam posisi yang benar dihadapan-Nya sehingga pilihannya menjadi pilihan dari orang-orang benar yang sedang meresponi panggilan Allah (Yesaya 44:22). Dengan pertobatan, bapak dan ibu Purnomo tidak lagi menjadi individu-individu yang sedang terjebak kerumitan hidup oleh karena kesalahannya sendiri. Jadi:

    1. Bapak ibu Purnomo harus mulai dengan langkah pertama, yaitu pertobatan. Mereka harus waspada, karena pertobatan dalam konteks seperti ini biasanya justru sulit sekali karena naturnya "subtle" dan kesalahan dan dosanya seringkali tidak benar-benar disadari. Dosa struktural yang seringkali mengambil bagian dalam proses kehidupan natural ini seringkali diulang-ulang sehingga membentuk sistem seolah-olah hidup memang harus dijalani demikian. Sebagai contoh, kedua orangtua bekerja sehingga di tengah sempitnya waktu mereka tidak pernah secara khusus dan terencana mendidik anak-anak mereka. Mereka menyerahkan pengasuhan anak mereka pada babysitter dan hanya bereaksi natural spontan atas gejala-gejala yang muncul dari anak mereka. Jelaslah, dalam konteks dosa struktural seperti ini peran dan tanggung jawab orangtua sebenarnya diabaikan.

      Alkitab menyaksikan manifestasi dosa struktural seperti ini berulang kali dengan risiko yang berat sekali. Imam Eli misalnya, ia harus menerima akibat yang begitu mengerikan karena kelalaian meresponi peran dan tanggung jawab sebagai orangtua atas anak-anaknya (1Samuel 3:11-14). Kesadaran atas dosa struktural seperti ini memang harus dipupuk dan dihidupkan, atau pertobatan sebenarnya tidak pernah terjadi.

    2. Bapak ibu Purnomo harus belajar mengenal dan menghidupi "basics" tanggung jawab mereka sebagai orangtua Kristen. Pertobatan sejati biasanya akan disertai dengan tindakan kembali ke posisi yang semestinya. Oleh sebab itu, orangtua yang bertobat haruslah mengenal dan belajar menghidupi prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan sekitar tanggung jawab orangtua terhadap anak-anak mereka. Sebagai contoh, seperti yang tercantum dalam kitab Ulangan 6:7-9, yaitu supaya komunikasi pribadi terbina dengan isi percakapan sekitar kebenaran firman Allah. Kalau tadinya komunikasi yang dibangun secara alami merupakan pertukaran pikiran dan perasaan subjektif tentang hal-hal tertentu, maka sekarang komunikasi harus dibangun secara sengaja sebagai dialog antarpribadi dengan isi kebenaran firman Allah. Bagaimana itu dapat begitu saja tercipta setelah komunikasi menjadi rusak?

      PERTAMA, pertobatan yang sejati akan memberikan "hati yang baru" pada bapak ibu Purnomo. Sehingga mereka berdua diperbaharui baik dalam perasaan, sikap, maupun cara pandang mereka atas apa saja yang dikomunikasikan Mindi anak mereka tersebut. Untuk itu, mereka harus waspada atas reaksi spontan insting mereka sendiri dan belajar mengontrolnya.

      KEDUA, mereka harus terus-menerus berdoa memohon pertolongan, penguasaan diri, dan kebijaksanaan dari Tuhan. Untuk itu mereka perlu membekali diri dengan bacaan-bacaan yang memang diperlukan, dan bertemu dengan konselor secara rutin sehingga tahapan langkah-langkah yang diambil dapat direncanakan dengan baik.

  2. Perlakukan Mindi secara dewasa, sehingga pendekatan lama yang semata-mata untuk mengontrol dan menaklukkan harus ditanggalkan.

    Memang risikonya selalu ada, tetapi dengan bekal bagian I, yaitu pertobatan yang sejati, bapak dan ibu Purnomo tidak lagi berhadapan dengan Mindi sebagai pribadi dengan kelemahan- kelemahannya. Mereka sekarang melihat Mindi dengan kaca mata dan perspektif baru yaitu sebagai "hamba-hamba Tuhan menghadapi jemaat yang terjerat dengan dosa." Itulah sebabnya, mereka mampu berkomunikasi secara dewasa, tidak lagi terjerat muatan subjektivitas perasaan dan pikiran mereka sendiri. Belas kasihan dari Tuhan akan hadir dan mengalir melalui hati, pikiran, perasaan, dan sikap mereka berdua sehingga Mindi akan mengalami suatu pengalaman yang baru yang akan memberikan kesadaran yang baru pula. Minimal, Mindi akan mulai bisa berkomunikasi secara dialogis dengan kedua orangtuanya, sehingga masalah demi-masalah dapat dibicarakan secara objektif dalam terang kebenaran firman Allah.

    Apa yang dihasilkan kemudian, terserah kepada Mindi sendiri. Tetapi bapak ibu Purnomo sudah melaksanakan apa yang memang seharusnya dilakukan orangtua Kristen menghadapi kasus "terlambat". Tuhan memberkati.

Sumber
Halaman: 
1-3
Judul Artikel: 
PARAKALEO No. 2 Edisi: April-Juni 2005

Komentar