Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bosan dengan Suami

Pertanyaan

Sudah delapan tahun kami menikah, dan Tuhan sudah memberikan seorang anak laki-laki yang sekarang berusia tujuh tahun. Tahun-tahun pertama pernikahan kami cukup baik. Maksudnya, saya sendiri cukup bahagia, tetapi sekarang ini rasanya sudah lain sekali. Saya seringkali merasa jengkel dan bosan dengan suami. Dia pribadi yang tidak romantis walaupun dalam hal-hal lain dia cukup baik. Dia rajin ke gereja, selalu pulang kerja pada waktunya, dan tidak rewel dengan makanan yang saya sediakan, tetapi kalau ditanya jawabnya pendek- pendek. Sepertinya tak mau diajak bicara. Yah, kalau jujur saya katakan, memang dia dari dulu sejak pacaran memang pendiam. Mula- mula saya tidak keberatan sih, tetapi lama-kelamaan saya semakin tidak tahan: Apa yang harus saya lakukan, Bu? Bukankah watak sulit sekali diubah? Apakah memang sepanjang umur hidup saya, saya akan hidup menekan perasaan seperti ini?

Jawaban

Anda rupanya sedang mengalami konflik batin antara ingin mencintai (dan dicintai) dan merasa tertolak dengan sikap suami. Perlu Anda ketahui bahwa Anda menikah dengan seorang yang tertutup (introvert) yang kemungkinan besar (melihat sikapnya yang baik) tidak ada kesengajaan untuk mengabaikan apalagi melukai hati Anda.

Anda pun sudah mulai membiarkan diri masuk dalam pencobaan, sehingga Anda membuka diri untuk pikiran-pikiran yang negatif. Apabila hal ini diteruskan Anda akan terjerat dan semakin menemukan alasan untuk membebaskan diri dari suami. Berhentilah, dan mulailah berpikir dengan lebih positif. Jadi:

  1. Anda harus sadar bahwa sebagai anak Tuhan, Anda terpanggil untuk merealisasikan kebenaran Firman bahwa suami istri adalah teman pewaris kasih karunia Allah (1Petrus 3:7). Jadi, jangan cuma berpikir berdasarkan perasaan yang muncul, tetapi berpikir dengan pikiran yang telah diperbaharui Roh Kudus (Roma 12:1-2, Kolose 3:1-2, Filipi 4:8-9) maka damai sejahtera yang melampaui segala akal akan hadir dalam hidup Anda. Bersyukurlah untuk hal-hal positif yang suami Anda miliki, dan belajarlah memahami dan menerima keunikan dirinya; katakan "thanks" untuk hal-hal yang ia lakukan seperti pulang tepat waktu, mau menemani ke gereja, makan tidak rewel. Mungkin juga dia membutuhkan suasana komunikasi yang lebih aman untuk berani terbuka kepada Anda. Belajarlah menciptakan suasana komunikasi yang tidak dipaksakan dan yang menyenangkan hatinya. Sedikit demi sedikit berikan juga kesempatan pada suami untuk berbagi perasaan.

  2. Anda harus sadar bahwa perubahan dan pertumbuhan selalu merupakan proses yang membutuhkan kekuatan dan anugerah Tuhan. Artinya Anda sendiri harus sabar, tekun, dan konsisten supaya perubahan dalam hidup Anda dan suami menjadi realita yang benar-benar terjadi.

  3. Anda juga dapat mendidik anak untuk mencintai dan menghormati ayahnya, sehingga ikatan batin yang terbentuk bisa menjadi jembatan bagi suami menemukan kebahagiaan di luar dirinya. Kiranya melalui sarana-sarana di atas kehadiran Tuhan bukan hanya mengubahkan hidup Anda, melainkan juga suami.

Sumber
Halaman: 
4
Judul Artikel: 
PARAKALEO No. 1 Edisi: Januari - Maret 2004

Komentar