Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kedekatan Hubungan Suami Istri

Dalam percakapan dengan seorang teman baru-baru ini, saya disadarkan betapa sulitnya menjelaskan tentang idealisme hubungan suami istri Kristen. Pasalnya, dalam konteks iman Kristen yang naturnya adalah "total dependency on God" seluruh kelebihan dan bakat alami manusia untuk mencintai sesama sebenarnya sangat rapuh dan cenderung tidak mampu memberikan jaminan yang pasti.

Cinta, bagaimanapun baiknya tetap pada dasarnya manipulatif karena semuanya hanya manifestasi kebutuhan subjektif dari diri orang itu sendiri. "Maslow`s hierarchia needs" menyebutkan tentang enam macam perbedaan fase kematangan manusia sesuai dengan kebutuhannya, yang ternyata dalam setiap fasenya, cinta mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Sebagai contoh individu FASE I, dengan kebutuhan "physical" jikalau ia mengatakan "I love you" maka pengertiannya adalah "I love you karena kamu bisa memberikan pemenuhan kebutuhan fisik dan materi saya". Kamu cantik, kaya, dan bisa memberikan rumah, mobil, uang, dan harta benda yang kubutuhkan, itulah sebabnya "I love you". Individu FASE II lain lagi, dengan kebutuhan "security" jikalau ia mengatakan "I love you" maka artinya adalah "I love you karena kamu dapat memberikan kebutuhan rasa aman dalam hidupku". Kamu setia, rajin bekerja, bertanggung jawab, mempunyai pergaulan yang baik, dan tidak suka main perempuan. Nah, menikah dengan kamu akan aman itulah sebabnya "I love you". Begitulah seterusnya, fase demi fase, bahkan fase dengan kebutuhan "self actualization" yang tertinggi sekalipun tetap manipulatif sifatnya karena alasan mencintai sebenarnya adalah pemenuhan kebutuhannya sendiri. Itulah sebabnya, Paulus dalam 1Korintus 13 mengingatkan bahwa perasaan cinta yang luar biasa sekalipun, yang didemonstrasikan dalam kerelaan mati dibakar atau memberikan seluruh milik pada sesamanya, hanyalah gong atau canang yang gemerincing jikalau tidak mempunyai unsur abadi, yaitu agape atau kasih Allah dalam Kristus (ayat 1-3).

Memahami realita dalam konteks iman Kristen ini kita disadarkan betapa semua upaya yang baik, termasuk "membangun hubungan cinta kasih suami istri" cenderung relatif sifatnya. Itulah sebabnya, pertanyaan tentang idealisme hubungan suami istri Kristen harus dijawab dengan pendekatan yang integratif. Psikologi dan teori-teori tentang hubungan suami istri tanpa landasan teologi yang kuat akan merelatifkan kebenaran yang disediakan Allah bagi umat-Nya. Sebaliknya, teologi tanpa dukungan pemahaman psikologi yang cukup juga akan menghasilkan kenaifan hidup. Sebagai contoh, perhatikan kasus di bawah ini.

Donny (bukan nama sebenarnya) dengan bangga bersaksi di mana- mana tentang kebahagiaan pernikahannya dengan Maria, istrinya. Ia bahkan dapat memberikan secara detail pengalaman-pengalaman yang membuktikan kedekatannya sebagai suami istri. Cerita ini, sayangnya, tidak cocok dengan kenyataan yang dialami Maria, istrinya. Beberapa minggu yang lalu ia mencari seorang konselor. Maria merasakan hidupnya sangat tertekan. Ia mengakui bahwa Donny memang telah memberikan segala kebutuhan fisik dan materi, bahkan cenderung memanjakan dirinya, tetapi itu tidak cukup. Maria membutuhkan suami yang ideal. Oleh sebab itu, meskipun Donny sudah mengaku dan bertobat, ia tak pernah dapat mengampuni Donny untuk kesalahan yang pernah ia lakukan 10 tahun yang lalu. Persisnya perselingkuhan yang Donny lakukan dengan rekan kerjanya.

Di hadapan konselor, Donny mengakui bahwa keterbukaan seperti yang dianjurkan penceramah di gerejanya adalah kesalahan fatal yang ia perbuat. Ia yang ingin hidup benar di hadapan Tuhan, ternyata harus menanggung akibat dosa di masa lalu yang sudah ia akui. Maria ternyata bukan pribadi yang dapat mudah mengampuni perbuatan seperti itu.

Menghadapi kasus seperti ini, ada beberapa tips untuk konselor di bawah ini.

  1. Memahami apa yang sedang terjadi.

    Rupanya idealisme yang dibawakan penceramah (isinya suami istri harus saling terbuka dan tak boleh ada yang disembunyikan) tidak cocok bagi pasangan Donny dan Maria karena mereka berdua belum siap untuk itu. Donny berpikir bahwa iman dapat begitu saja diterapkan dalam tindakan praktis pada siapa saja. Ia lupa bahwa kondisi manusia tidak sama, dan banyak individu yang "tidak/belum siap," sehingga kebenaran akan menjadi seperti mutiara yang dicampakkan kepada babi (Matius 7:6).

    Donny begitu naif dan berpikir bahwa ia dapat masuk ke dalam kehidupan Maria dengan apa adanya. Ia tidak sadar bahwa apa yang pernah "melukai" Maria harus dibereskan sampai tuntas sehingga "trust/rasa percaya" dari Maria tumbuh melalui pengalaman yang nyata bahwa Donny betul-betul "trustworthy/dapat dipercaya". Donny harus menyadari bahwa itu akan menjadi proses yang panjang yang perlu keberanian untuk memasukinya. Suatu proses pertobatan yang dimulai dengan langkah-langkah "mematikan selera ketertarikan pada wanita lain". Untuk langkah pertama ini saja selama Donny masih berpegang pada asumsi kognitif semata-mata ("pokoknya saya tidak akan melakukannya lagi") dan tidak berani meminta dan menggumuli bersama Tuhan untuk kematian selera insting-nya terhadap wanita lain, ia pasti tidak mampu mendemonstrasikan "trustworthiness"-nya di hadapan Maria. Maria peka dan ia menangkap sinyal bahwa Donny "belum betul-betul bertobat".

    Hidup sebagai orang Kristen yang konsisten memang sulit, bahkan mustahil tanpa pertolongan dan campur tangan Tuhan. Itulah sebabnya, Donny perlu mengenal prinsip ketergantungan pada belas kasihan Tuhan tersebut. Begitu juga Maria, dari keluhannya, nampak dengan jelas betapa Maria sendiri berkanjang dalam dosa "unforgiving spirit/roh yang tidak bisa mengampuni". Ia harus mulai masuk dalam pertobatan yang sejati sehingga ia dapat terbebas dari jebakan insting dan perasaannya sendiri.

    Mereka berdua harus belajar bahwa kelebihan ataupun kelemahan pada diri masing-masing hanya dapat diperbaiki dengan beresnya hubungan dengan Tuhan.

  2. Mengenali penyebab di belakang pengalaman batiniah seorang.

    Sekarang cobalah sebagai konselor, Anda melakukan "listening" pada saat mendengar kata-kata mereka. Anda jangan terjebak pada pengertian atau kesan sesaat yang subjektif sifatnya. Sebagai contoh misalnya, Donny berkata "Saya kan sudah bertobat... saya bahkan sudah membuktikan cinta saya pada Maria selama bertahun- tahun.... Yah, memang rupanya Maria adalah pribadi yang sulit mengampuni...." Nah, untuk kata-kata seperti ini, apakah sebenarnya arti dari "listening" seorang konselor?

    Listening adalah mendengar apa yang menjadi pola pikir, kerja emosi, persepsi, dan cara Donny menafsirkan realita yang dialaminya. Dalam hal ini, mungkin Donny kecewa, mungkin apatis, mungkin menahan kemarahan, mungkin ia putus asa, atau mungkin ia mencoba membela diri sendiri dan mencari dukungan konselor. Ada berbagai kemungkinan yang ada, dan "listening" harus didahului dengan "refleksi empati." Dengan kata lain, semua kemungkinan harus dicek melalui refleksi empati untuk menemukan mana yang mendekati kebenaran pengalaman batiniah Donny. Untuk itu, misalnya, konselor dapat mengatakan, "Memang kadang-kadang dengan niat yang baik sekalipun kita tak selalu mendapatkan hasil yang baik... dan pada saat itu kita bisa mengalami berbagai kemungkinan perasaan... bisa kecewa... bisa apatis `eh... ngapain dijelas-jelaskan...` bisa pula diam-diam kita putus asa untuk kelanjutan hubungan suami istri ini...."

    Melalui refleksi empati tersebut, biasanya klien akan menemukan poin-poin baru pengalaman batinnya yang ingin disampaikan. Saat itulah kemampuan "listening" konselor teruji. Misalnya, Donny kemudian melanjutkan dengan kata-kata, "Yah... kadang-kadang... terus terang saja saya sudah apatis dengan pernikahan kami ini.... Habis, kalau yang lalu-lalu terus diingat dan diungkit... lalu bagaimana?" Nah, melalui "listening", konselor dapat mulai menangkap apa yang menjadi pola pikir dan perasaan Donny yang sesungguhnya. Kemungkinan ia frustrasi dan tidak berdaya karena tidak tahu apa yang harus dilakukan ... meskipun ia sebenarnya tidak merasa terlalu sakit dengan sikap Maria (itu tersingkap melalui kata-kata Donny yang tidak menyebut rencana atau tindakan-tindakan yang akan diambil). Berarti ada kemungkinan hubungan sebenarnya sudah membaik, cuma pada saat-saat tertentu (misal: pada saat bertengkar) Maria masih mengungkit kesalahan Donny tersebut. Melihat pola ini, kemungkinan besar Donny terlalu cepat memaafkan diri sendiri, tetapi belum dapat membuktikan perubahan yang signifikan sehingga Maria masih memakai kelemahan tersebut sebagai senjata untuk melukai Donny pada saat bertengkar. Meskipun demikian, dapat dikatakan, secara garis besar, pernikahan mereka sebenarnya tidak terlalu parah. Kemungkinan besar alasan Maria mencari konselor juga karena setelah bertengkar dan ia teringat lagi kesalahan Donny yang masih belum dapat ia maafkan.

    Nah, melalui listening seperti ini, peta pengenalan akan apa yang sesungguhnya dialami dalam batin mereka berdua, mulai nampak.

Mengapa komunikasi dalam hubungan suami istri menyingkapkan banyak kekayaan jiwa manusia. Apa yang perlu dan tidak perlu terus-menerus menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dan diwaspadai karena munculnya bisa merupakan manifestasi kebutuhan subjektif semata, bisa juga lahir dari kepekaan terhadap pimpinan Tuhan demi supaya kehidupan pernikahan dapat mengalami pertumbuhan yang lebih baik.

Sumber
Halaman: 
1-3
Judul Artikel: 
PARAKALEO No. 1 Edisi: Januari - Maret 2004

Komentar