Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kondisi Bertumbuhnya Cinta Kasih

Semua orang, baik suami-istri, orangtua-anak, antar rekan sekerja, pasti mengharapkan cintanya bertumbuh dengan subur. Namun agar dapat bertumbuh subur diperlukan suatu kondisi yang mendukung pertumbuhan tersebut. Kondisi bagaimanakah yang dapat mendukung supaya cinta itu tumbuh? Simak ringkasan diskusi bersama Pdt. Dr. Paul Gunadi berikut ini.

T: Kita tahu bahwa cinta atau cinta kasih, khususnya dalam hubungan suami-istri atau orangtua-anak itu akan ada semacam proses pertumbuhan, dari yang tadinya tidak cinta pelan-pelan menjadi cinta. Bagaimana sebenarnya hubungan cinta kasih itu bertumbuh, Pak?
J: Ada anggapan bahwa cinta itu sekali ada akan selalu ada dan cinta itu ibarat pohon di pinggir jalan yang tidak usah kita pelihara akan terus bertumbuh dan tiba-tiba daunnya rimbun, dan menjadi tempat kita berteduh. Tapi kenyataannya tidaklah demikian, baik cinta antara suami-istri maupun antara orangtua-anak atau cinta antar rekan, teman, perlu dipelihara. Nah yang perlu kita lakukan adalah mengenali hal-hal apa yang dapat menyuburkan cinta kasih. Jadi asumsinya adalah tanpa hal-hal tersebut, cinta kasih itu cenderung akan pudar akhirnya.
T: Kalau demikian kondisi-kondisi apa supaya cinta itu tumbuh sebaik mungkin seperti yang kita harapkan?
J: Saya akan mengambil beberapa prinsip yang saya temukan dari kitab Amsal pasal 31 yang akan saya bacakan dari ayat 10 hingga ayat 31, namun beberapa ayat saja yang akan saya petik.

Kondisi pertama saya temukan di ayat 11 : UNSUR KEPERCAYAAN

31:11 "Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan." Bagian akhir dari pasal 31 ini merupakan suatu ungkapan penghargaan suami kepada seorang istri. Jadi ini adalah seolah- olah seperti surat cinta seorang suami kepada istrinya yang penuh dengan pengucapan syukur, kekaguman dan penghargaan atas apa yang dia lihat dan ia telah terima dari istrinya. Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa si suami begitu mencintai si istri. Nah apa yang terjadi dalam hubungan cinta ini? Yang pertama adalah hati suaminya percaya kepadanya; dengan kata lain cinta itu bisa bertumbuh dengan baik kalau ada UNSUR KEPERCAYAAN. Jadi kalau kita ini dipercaya, kita cenderung lebih menumbuhkan cinta kasih pada orang yang mempercayai kita, tapi kalau kita tidak percaya padanya kita cenderung kurang bisa mengasihi orang tersebut. Saya kira ini berlaku dalam segala situasi, bahkan dalam situasi kerja pula, kita cenderung mencintai pekerjaan kita dan perusahaan yang mengkaryakan kita kalau kita merasakan adanya kepercayaan yang besar yang diberikan kepada kita. Nah relasi percaya ini akan benar-benar menumbuhkan cinta kasih kita terhadap majikan atau perusahaan yang mengkaryakan kita. Demikian pula hubungan kasih antara orangtua-anak maupun suami-istri. Anak akan lebih mencintai orangtuanya kalau orangtua itu memberikan kepercayaan yang sepatutnya kepada anak. Anak yang terus-menerus dicurigai, ... maka akan sulit bagi anak untuk menumbuhkan rasa kasih terhadap orangtua. Suami-istri juga sama, kalau suami senantiasa mempertanyakan apa yang dikerjakan oleh istri, ... maka sulit bagi si istri untuk memberikan cinta kasih yang besar kepada si suami. Jadi kita bisa melihat bahwa dinamika kasih dalam segala konteks memerlukan yang namanya kepercayaan.

Kondisi kedua saya ambil dari ayat 12 : HARUS ADA PERBUATAN BAIK

31:12 "Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya." Kondisi kedua agar cinta bertumbuh dengan baik adalah HARUS ADA PERBUATAN BAIK. Jadi kalau kita ini menerima perbuatan baik dari seseorang, kita cenderung lebih tergerak untuk mengasihi orang tersebut. Kebalikannya jika yang kita terima perbuatan jahat, akan sulit sekali bagi kita untuk mencintai orang tersebut. Nah kadangkala dalam kehidupan suami-istri kita mulai melupakan betapa pentingnya perbuatan baik. Kita beranggapan bahwa dengan menjalankan kewajiban masing-masing kita sudah berbuat baik, tidak cukup sebetulnya. Bukankah kalau misalnya istri kita bertanya, "Apa yang bisa saya bantu?", "Apa yang bisa saya lakukan untukmu?", maka suami juga berkata kepada istrinya, "Apa saya saja yang mengajar anak malam hari ini?" atau "Bagaimana kalau malam ini kita rileks, kita pinjam video untuk nonton sama- sama?" Itu adalah sentuhan-sentuhan kecil yang mungkin bagi seseorang dianggap tidak begitu bermakna tetapi pada dasarnya semua itu menunjukkan itikad baik bagi si penerima perbuatan tersebut. Reaksinya apa yang akan muncul, cinta kasih, sebab sekali lagi cinta kasih cenderung muncul dengan subur sewaktu ada perbuatan baik untuk diterima oleh seseorang.

Kondisi ketiga saya ambil dari ayat 15 : SUKA BERTANGGUNG JAWAB

31:15 "Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya." Yang saya petik dari ayat ini adalah SUKA BERTANGGUNG JAWAB. Jadi cinta kasih cenderung bertumbuh dengan kuat jikalau ada rasa tanggung jawab yang kuat. Sulit bagi kita mengasihi seseorang yang kita nilai tidak bertanggung jawab, tidak melakukan tugasnya, tidak melakukan kewajibannya. Demikian pula anak terhadap orangtua, kalau anak melihat orangtua hidup bertanggung jawab itu akan menumbuhkan rasa cinta kasihnya terhadap orangtua. Sudah tentu kebalikannya juga betul, kalau anak justru melihat papa dan mamanya hidup tidak bertanggung jawab, yang muncul bukannya rasa cinta kasih, tetapi rasa dingin dan bahkan kadang- kadang bisa muncul rasa benci.

Kondisi keempat saya ambil dari ayat 16 : TINDAKAN YANG BERHIKMAT

31:16 "Ia membeli sebuah ladang yang diinginkannya dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya." Saya menyimpulkan di sini ada KEPUTUSAN atau TINDAKAN YANG BERHIKMAT. Nah ini adalah kondisi yang penting untuk munculnya cinta kasih. Bukankah kita sering mendengarkan keluhan orang, "Bagaimana saya bisa mengasihi dia?", "Dia terus-menerus melakukan kesalahan, mengambil keputusan yang bodoh, yang tidak pikir panjang." Dengan kata lain, cinta kasih mudah bertumbuh, atau cenderung bisa bertumbuh subur jika ada unsur hikmat, sehingga keputusan dan tindakan yang diambil memang keputusan yang diambil dengan pikiran matang dan berhikmat. Tanpa hikmat kebodohan-kebodohanlah yang mewarnai keputusan dan akhirnya banyak kekeliruan yang dilakukan. Nah dalam kondisi seperti itu saya kira sukar bagi cinta kasih untuk bertumbuh.

Catatan Redaksi:
Dalam diskusi ini, Pdt. Dr. Paul Gunadi menjelaskan mengenai delapan kondisi yang diperlukan supaya cinta kasih itu tumbuh sebaik yang kita harapkan. Jadi, masih ada empat kondisi lagi yang tidak tercantum dalam ringkasan ini. Untuk mendapatkannya/transkrip lengkap, simak informasi berikut ini.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T051A (e-Konsel Edisi 30)
Penerbit: 
--

Komentar