Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Apakah Depresi Itu

Edisi C3I: e-Konsel 018 - Depresi

Depresi mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Kata depresi sebagaimana yang dipakai dalam bahasa sehari-hari mengacu sedikitnya pada dua keadaan: suasana hati dan keadaan sakit. Suasana hati yang tertekan adalah perasaan sedih, sakit dan derita yang pernah dialami oleh setiap orang. Keadaan ini biasanya tidak berlangsung lama dan tidak sampai mempengaruhi keadaan umum dari kesejahteraan tubuh atau tingkat kegunaan organ tubuh.

Meskipun demikian, depresi juga digunakan untuk menggambarkan sekelompok gejala. Gejala yang paling banyak dinyatakan adalah kesedihan yang terus-menerus dari suasana hati yang khas terjadi akibat terjadinya rasa kehilangan. Suasana hati yang cenderung mudah tertekan ini mempengaruhi keseluruhan kepribadian. Si penderita dalam kehidupan mentalnya tenggelam dalam rasa kehilangan yang nyata atau yang hanya bayangan belaka; dalam kehidupan sosialnya ia menarik diri dari pergaulan dengan keluarga dan teman-temannya; dan dalam kehidupan rohaninya ia terganggu oleh perasaan-perasaan terasing dari Allah. Penderita tersebut bisa juga secara fisik terganggu oleh nafsu makan yang turun, berat badan yang turun dan insomnia (penyakit sulit tidur). Perasaan putus asa dan pikiran untuk bunuh diri juga biasa muncul dalam diri penderita depresi.

Reaksi Kesedihan yang Biasa

Glenn Thomas, seorang hamba Tuhan, adalah seorang pembicara yang dinamis dan konselor yang mampu memahami perasaan orang lain. Secara terus-menerus dia mengganti tugas-tugas kegerejaannya demi niatnya terhadap hal-hal yang lain tadi. Ketika dewan gereja memintanya untuk mengundurkan diri, walaupun pada mulanya dia menanggapi dengan lemah lembut, selama beberapa minggu berikutnya dia mengalami insomnia, kehilangan nafsu makan dan kelelahan. Dia menderita sakit kepala dan mengira bahwa dirinya mungkin menderita tumor otak. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap dirinya, diketahui bahwa dia mengalami sakit kepala. Dia mengadakan pertemuan dengan dokternya beberapa kali lagi dan akhirnya dia mengakui bahwa dia merasa begitu sedih karena telah kehilangan jabatannya sebagai gembala umat. Kemudian dia memutuskan untuk sungguh-sungguh menikmati suatu pekerjaan di mana dia dapat membaktikan dirinya secara penuh untuk berpidato dan memberikan bimbingan tanpa diganggu oleh urusan administrasi. Setelah dia mendapatkan pekerjaan semacam itu, sakit kepalanya hilang dan ia kembali merasakan kesejahteraan.

Kasus ini merupakan contoh dari sifat pokok suatu reaksi kesedihan yang biasa. Pada dasarnya, secara psikologis, Thomas itu sehat. Dia menderita rasa kehilangan yang amat berarti yang menimbulkan reaksi kesedihan. Dan sesungguhnya depresi membantunya mengatur kehidupannya sehingga hanya dalam beberapa minggu depresinya dapat terpecahkan.

Depresi Neurotis

John Smith, seorang hamba Tuhan lain, kadang-kadang merasa bahwa depresi merupakan suatu cara hidup baginya. Dia adalah seorang perfeksionis dan pekerja yang menjadi tertekan jika pekerjaan atau kemampuannya kalah baik dibandingkan dengan orang lain yang dianggapnya sebagai saingan. Dia kadang-kadang mengalami gangguan sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan, tetapi tidak mengalami turunnya berat badan yang berarti atau ketidakmampuan untuk bekerja. Kadang-kadang dia merasa dirinya amat sehat dan sungguh-sungguh dapat menikmati pekerjaan dan keluarganya. Dia mencari pertolongan seorang psikiater setelah bertahun-tahun mengalami pasang surutnya masa "rendah". Melalui pengobatan, dia menjadi sadar akan kecenderunganya untuk mengartikan ketidaksempurnaannya atau kegagalannya dalam bekerja sebagai cermin dari nilai pribadinya. Dengan pengertian ini, depresinya lalu menjadi berkurang dan lenyap.

Kasus ini merupakan contoh dari ciri khas depresi neurotis. Terdapat faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi hilangnya keamanan emosi selama berada dalam perawatan rumah sakit pada awal masa kanak- kanak, dan hilangnya dukungan emosi secara berturut-turut sebab orang tuanya sangat tidak ekspresif. Tidak perlu diragukan lagi hal ini menambah kepekaannya akan rasa kehilangan, yang sering lebih bersifat simbolis daripada kenyataan. Gejala-gejala jasmaniah hanya bersifat sementara saja. Tipe depresi macam ini sering merupakan jebakan psikologis yang mencegah si penderita menemukan cara-cara pemecahan yang baru terhadap masalah yang ada. Ini berkebalikan dengan reaksi kesedihan biasa yang di dalamnya depresi sering menjadi dorongan untuk menemukan cara-cara pemecahan yang baru.

Depresi Endogen

Samuel Trenton, juga seorang hamba Tuhan, bekerja berjam-jam untuk memenuhi kebutuhan jemaatnya yang sedang berkembang dan keluarganya. Segalanya berjalan dengan baik, kecuali untuk suatu konflik yang tiada hentinya antara dua anggota inti dari jemaatnya. Dalam usaha mencoba membantu menyelesaikan konflik tersebut, dia terjebak di tengah-tengah dan dikritik oleh kedua anggota itu.

Sesudah itu dia menjadi tertekan. Dia mulai merasa bahwa seluruh pelayanannya adalah suatu kegagalan dan bahwa dia tidak baik bagi jemaat dan keluarganya. Dia mengalami insomnia yang berat, kehilangan dorongan seksnya, dan kehilangan nafsu makan, yang menyebabkan dia kehilangan berat badan sedikitnya lima belas pon dalam satu bulan. Hobi yang paling disenanginya, memandangi burung- burung, tidak lagi menarik hatinya. Dia menarik diri dari teman- temannya dan merasakan semakin sulit untuk berkhotbah dan menemui jemaat setelah kebaktian.

Akhirnya, ketika dia terjatuh dengan bercucuran air mata di rumah setelah mengikuti suatu kebaktian Minggu, isterinya mengantar ke seorang psikiater setempat. Dalam wawancara dengan psikiater tersebut, Trenton mengakui bahwa dia sering memikirkan untuk melakukan bunuh diri dan mulai merencanakan cara untuk melakukan bunuh diri. Dia juga ingat bahwa bertahun-tahun sebelumnya ibunya dan seorang bibinya dirawat di rumah sakit sebab mereka sangat tertekan. Dia segera dirawat di rumah sakit dan diberi obat penyembuh depresi. psikiater itu memberinya psikoterapi untuk membantunya memahami kepekaannya terhadap konflik antar pibadi.

Faktor-faktor utama yang berpengaruh dalam depresi endogen ini adalah kecenderungan bawaan atas depresi, yang ditunjukkan oleh sejarah depresi yang dialami oleh keluarganya. Rasa kehilangan mungkin muncul pada awal depresi, tetapi biasanya tidak menonjol atau bahkan segera tampak dengan jelas. Gejala-gejala jasmaniah tampak sangat keras dan terus-menerus dalam tipe depresi ini. Suasana hati seperti itu tidak berhenti; si penderita kehilangan semua minatnya dalam hidup dan menjadi tenggelam dalam pikiran untuk melakukan bunuh diri.

Sumber
Halaman: 
48 - 49
Judul Artikel: 
Kepemimpinan, Vol. 17
Penerbit: 
Yayasan Andi, Yogyakarta

Komentar