Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Satu Jam Saja

Edisi C3I: e-Konsel 042 - Peran Seorang Ayah

Tugas seorang ayah dalam keluarga adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak jarang dia tidak mempunyai waktu yang cukup untuk bertemu dan menjalin komunikasi dengan anaknya. Sebagai akibatnya sang anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari ayahnya. Kesaksian berikut ini menggambarkan tentang kerinduan seorang anak yang ingin mendapatkan perhatian dari ayahnya walaupun hanya satu jam saja. Ia rela melakukan apa saja hanya untuk mewujudkan keinginannya itu. Nah, selamat menyimak!

SATU JAM SAJA

Seorang pria kembali terlambat pulang dari kerja, letih dan lesu, menemukan putranya yang berusia 5 tahun sedang menantinya di depan pintu.

"Papa, bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Tentu, nak, apa yang ingin kau tanyakan?" jawab pria tersebut.
"Papa, berapa jumlah uang yang Papa peroleh dalam satu jam?"
"Itu bukan urusanmu! Mengapa kamu bertanya seperti itu?" tanya pria tersebut dengan marah.
"Saya hanya ingin tahu. Tolong beritahukan berapa uang yang Papa peroleh dalam satu jam?" tanya anak itu.
"Baiklah, bila kamu benar-benar ingin tahu. Papa mendapat per jam."
"O," anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian anak itu memandang kembali kepada pria tersebut dan berkata, "Papa, bolehkah saya meminjam ?"

Dengan marah ayahnya menjawab, "Bila kamu hanya ingin tahu berapa jumlah uang yang Papa peroleh dalam satu jam agar kamu dapat meminta uang untuk membeli suatu mainan konyol atau mainan tak berguna lain, lebih baik sekarang juga kamu pergi ke kamarmu dan tidur. Pikirkan kembali mengapa kamu menjadi begitu egois. Papa letih bekerja keras berjam-jam setiap hari, dan tidak ada waktu untuk bermain dengan anak-anak seperti itu."

Dengan diam anak kecil itu pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Pria tersebut kemudian duduk dan semakin bertambah marah saat ia memikirkan tentang pertanyaan putranya. Betapa beraninya ia bertanya seperti itu hanya untuk memperoleh sejumlah uang. Setelah beberapa jam, amarahnya menyurut dan ia mulai berpikir mungkin ia telah bersikap terlalu keras terhadap putranya. Lagipula putranya jarang meminta uang kepadanya. Pria tersebut berjalan ke kamar putranya dan membuka pintu kamar.

"Engkau sudah tidur, nak?" tanya pria tersebut.
"Belum, Papa. Saya masih terjaga," jawabnya.
"Papa baru saja berpikir, mungkin Papa terlalu keras terhadapmu tadi," kata pria tersebut.
"Hari ini Papa sangat lelah dan tanpa sadar Papa menjadi cepat marah. Ini uang yang kamu minta."
Anak itu segera bangun dan berseru dengan riang, "Oh, terima kasih, Papa!"

Kemudian ia membalikkan bantalnya dan mengambil sejumlah uang yang ada di bawahnya. Pria tersebut melihat bahwa putranya telah memiliki uang, dan ia menjadi marah kembali. Dengan perlahan anak tersebut menghitung uangnya dan kemudian memandang kepada pria tersebut.

"Mengapa kamu menginginkan uang lagi, padahal kamu sudah memilikinya?" tanya ayahnya dengan jengkel. "Karena uang saya belum cukup, tapi sekarang sudah cukup," jawab anak tersebut.

"Papa, sekarang saya mempunyai uang . Sekarang, bisakah saya membeli satu jam dari waktu yang Papa miliki?"

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Publikasi e-Konsel
Penerbit: 
Yayasan Lembaga SABDA

Komentar