Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Empat Relasi Universal Dosa

Edisi C3I: e-Konsel 059 - Dosa yang Membelenggu

  1. Dosa sebagai kuasa yang membelenggu.

    Relasi yang pertama adalah relasi antara aku dengan aku, diriku dengan diriku. Hubungan ini dirusak oleh dosa karena di dalam dosa aku mendapatkan sesuatu kekuasaan yang mengikat, dimana aku tidak sadar itu dosa. Maka bagi diri, dosa merupakan suatu kuasa yang membelenggu aku, yang melawan kehendak Allah. Ini adalah relasi pertama yang dirusak. Pada saat sesuatu yang aku kerjakan membelenggu aku, tetapi tidak melawan kehendak Allah, itu bukan dosa.

    Jadi pertama, dosa dimengerti di sini sebagai satu istilah yang saya sebut sebagai kuasa. Dosa bukan hanya dimengerti sebagai sesuatu kekuatan atau suatu kelakuan melainkan suatu kuasa yang membelenggu dan mengikat kita. Itu disebut dosa. Di dalam Surat Roma, Paulus mengatakan dengan jelas sekali, "Yang kuinginkan aku tak bisa melakukan, yang aku tak inginkan justru aku lakukan." Apa artinya? "Aku tidak mempunyai kebebasan." Karena di dalam diri ini ada sesuatu yang begitu berkuasa sehingga kebebasan diri dipengaruhi oleh kekuatan itu. Itu disebut dosa. Jadi dosa dimengerti sebagai suatu kuasa yang membelenggu dan menghancurkan kebebasan kita.

    Barangsiapa sedang memakai kebebasan untuk berbuat segala sesuatu, menganggap bahwa dirinya adalah orang bebas, ia salah. Karena begitu kebebasan itu dipakai untuk pertama kali dan hak itu dipakai, langsung hak itu menjadi tuan untuk membelenggu Saudara. Misalnya, pada waktu Saudara ingin menjadi seorang perokok, pertama kali Saudara mengatakan, "Saya mau menjadi seorang perokok", Saudara seolah-olah bebas. Setelah Saudara merokok satu kali, dua kali, tiga kali, Saudara telah menjual kebebasan Saudara kepada kuasa rokok yang sedang membelenggu Saudara, dan tanpa disadari Saudara sudah kecanduan dan sulit melepaskan darinya. Demikian pula pada waktu Saudara mengatakan, "Saya bebas, saya mau pergi mencari pelacur", Saudara sedang mempergunakan kebebasan Saudara yang kelihatannya netral. Namun begitu Saudara menggunakan kebebasan itu, saat itu juga, Saudara sedang menjual kebebasan Saudara kepada ketidakbebasan yang sedang membelenggu Saudara. Seperti juga seorang yang berjalan, lalu berhenti di perempatan. Pada waktu ia memilih ke kanan, ia telah menjual kebebasan ke arah itu, dan tidak bisa lagi membuat keputusan yang lain. Maka di sini dosa dimengerti sebagai suatu kuasa yang membelenggu setelah Saudara menggunakan kebebasan yang pertama.

  2. Dosa sebagai kelakuan yang merugikan.

    Relasi kedua adalah relasi antara diriku dan orang lain. Di sini dosa dimengerti sebagai suatu kebebasan yang merugikan orang lain, baik sadar atau tidak sadar. Kelakuan dan dosa dimengerti selain sebagai kuasa kini juga dimengerti sebagai kelakuan, "an action", "behaviour", "conduct", "an expressed living style". Suatu cara hidup, kelakuan, perbuatan dan tindakan yang sudah merugikan orang lain. Ini dimengerti sebagai dosa. Perlu kita perhatikan bahwa baik istilah pertama: kuasa yang membelenggu, lalu istilah kedua: kelakuan yang merugikan, keduanya adalah merupakan pengertian yang diambil dari hukum negara.

  3. Dosa sebagai alat pemersatu dengan setan.

    Dosa juga dimengerti dari relasi universal yang ketiga. Diriku dengan setan yang tidak kelihatan. Justru karena setan tidak kelihatan, itu menunjukkan ia hebat. Kalau setan setiap hari membuat dirinya terlihat, ia kurang pandai. Kalau seorang maling berkata, "Berjaga-jagalah, nanti malam jam 2 saya datang," dia maling yang bodoh. Jika seorang tukang copet memasang tulisan besar di bajunya "Aku adalah tukang copet, hati-hati denganku," IQ nya rendah.

    Setan begitu pintar sampai dia mengatakan, "Sebab tidak ada setan, maka tidak perlu takut kepada setan; sebab tidak ada setan, pasti juga tidak ada Allah." Maka akhirnya Saudara tidak percaya setan, juga tidak percaya Allah. Saudara sudah masuk ke dalam jerat setan.

    Prof. Kurtkoch dari Stuttgart University mengatakan, "Orang Jerman segan, malu, tidak mau ke gereja karena mereka merasa modern. Tetapi justru pemimpin-pemimpin Jerman yang tertinggi yang biasanya tidak mau ke gereja, takut dipermalukan orang lain, takut dianggap terlalu ketinggalan, pada waktu menemukan kesulitan-kesulitan paling hebat di dalam menjalankan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah, mereka selalu ke rumah dukun-dukun untuk mendapatkan petunjuk dari para dukun. Ini gejala yang aneh. Manusia yang percaya Tuhan seolah-olah ketinggalan jaman, tapi jika dalam keadaan krisis pergi mencari dukun, mereka tidak takut. Demikian juga banyak pendeta-pendeta seolah-olah mereka memimpin orang lain, tetapi pada waktu menghadapi kesulitan-kesulitan, mereka tidak bisa mengambil prinsip Alkitab untuk membereskan persoalan. Mereka pergi mencari psikiater-psikiater yang bukan Kristen.

    Penipuan-penipuan seperti ini terus-menerus terjadi karena kita tidak percaya jawaban yang sesungguhnya adalah Firman Tuhan dan bagaimana mendapatkan jawaban melalui pimpinan Roh Kudus dan Firman dan prinsip yang benar. Hubungan aku dengan setan ditiadakan oleh setan dengan penipuan "tidak ada setan", sehingga karena Saudara kira tidak ada, Saudara tidak berjaga-jaga. Pada saat itu dia sedang mengaitkan diri dengan Saudara. Ini merupakan sesuatu alat yang mempersatukan manusia dengan setan.

    Dosa dimengerti sebagai suatu kuasa, dosa juga dimengerti sebagai kelakuan dan dosa dimengerti sebagai suatu alat yang mempersatukan kita dengan setan. Dosa sedang menjadi suatu alat yang mengaitkan Saudara dengan dia, sehingga tanpa Saudara sadari, Saudara sedang bersatu dengan si jahat itu. Itulah sebabnya kalau membaca buku yang baik, Saudara tertidur, membaca buku porno, mata Saudara besar sekali. Itulah sebabnya kalau Saudara pergi ke gereja tidak ada waktu, tetapi kalau mencari pelacur waktunya banyak. Mengapa? Karena Saudara sedang dipersatukan dengan suatu alat. Alat yang mempersatukan itu disebut dosa. Dan Saudara tidak melihatnya karena penipuan ini merupakan suatu alat yang mempersatukan dengan oknum yang menyangkal bahwa dia ada, itu dosa.

  4. Dosa sebagai sikap melawan Allah.

    Dosa dimengerti sebagai relasi universal keempat yaitu dosa merupakan sikap melawan Allah; antara manusia dengan Allah. Relasi ini seharusnya mempunyai poros sesuai dengan status asli yang ditetapkan oleh Tuhan, tetapi sekarang sudah dikacaubalaukan, diputarbalikkan. Yang utama menjadi tidak utama, yang tidak utama menjadi yang utama, yang mutlak menjadi tidak mutlak, yang tidak mutlak menjadi mutlak.

    Sekarang manusia sudah berada dalam kekacauan, kerusakan di dalam seluruh relasi total seperti ini, sehingga manusia berani kepada Tuhan Allah. Terhadap Tuhan Allah manusia begitu keras, tapi terhadap setan begitu lembut. Pada saat diminta percaya kepada Tuhan Yesus atau diajak ke gereja, manusia selalu berdebat dengan begitu keras, menggunakan berbagai macam argumen, tetapi anehnya, ketika diajak ke pelacur, ia tidak memakai cara yang sama, ia tidak berdebat keras tentang apa pentingnya ke pelacur dan sebagainya. Waktu disuruh ke gereja, menjadi filsuf; waktu disuruh cari pelacur, langsung pergi. Saya tidak pernah menghargai orang semacam demikian. Itu disebut sebagai: dengan status tidak adil berusaha melawan Allah yang adil. Di dalam perlawanan inipun telah membuktikan secara lebih tegas bahwa dia sedang melayani dosa. Saya tidak mau melayani perdebatan seperti ini, meskipun saya tahu, saya cukup dan bisa menjatuhkan segala argumen yang mungkin dia keluarkan, tapi saya kira Firman dan kebenaran Allah jangan dilempar ke hadapan babi, mutiara jangan diberikan kepada anjing.

    Dibandingkan dengan Saudara, mungkin saya lebih banyak bertemu dengan kaum intelektual. Saya sudah berkotbah kepada doktor- doktor, profesor-profesor, beratus-ratus orang termasuk yang tua- tua, yang senior di negara Atheis. Tidak ada pertanyaan yang begitu sulit yang tidak bisa dijawab oleh Firman Tuhan. Kalimat- kalimat ini tidak berhenti sebagai kalimat klise seperti banyak orang mengatakan, "Jesus is the answer, but I don't know what is the question." (Yesus adalah jawaban, tetapi saya tidak tahu apa pertanyaannya) Tidak! I know the question.

    Dari umur 21 sampai umur 41, dalam waktu 20 tahun itu, saya sudah menjawab begitu banyak pertanyaan, tiap tahun kira-kira 6000 sampai 10000 pertanyaan, sebab dalam satu tahun itu kadang-kadang saya berkhotbah sampai 600 kali. I know what's going on. Saya tahu apa yang sedang terjadi. Saya tahu apa yang ditanyakan. Yang Saudara mau tanya, kira-kira sudah bisa saya tangkap. Dalam waktu 2 detik, setelah membaca pertanyaan, saya sudah harus menentukan tiga hal. Pertama: motivasinya. Kedua: asal pikirannya. Ketiga: jawabannya. Selesai membaca, saya langsung menjawab. Bukan karena kehebatan saya, tetapi karena Tuhan begitu mengasihani saya, memberi kesempatan begitu banyak. Jika Saudara mendapatkan kesempatan seperti saya, mungkin Saudara jauh lebih terampil daripada saya. Pertanyaan-pertanyaan dari pemuda/pemudi atau kaum intelektual tidak terlalu jauh berbeda. Banyak yang mau melawan, kenapa begini, kenapa begitu. Manusia mengira waktu ia bertanya, Tuhan langsung jatuh. Tuhan akan berkata, "Silakan bertanya terus, nanti setelah selesai, Aku akan bertanya satu kali, maka engkau langsung jatuh." Tuhan tidak mau berdebat.

    Mengapa Saudara tidak memakai cara dan metode yang sama untuk melawan setan? Kenapa dengan setan Saudara begitu mudah pergi berjudi, pergi melacur, pergi berbuat dosa, pergi menerima segala ajaran yang salah. Saudara begitu mudah menyerahkan diri Saudara untuk itu, tetapi mengapa menerima Firman Tuhan begitu sulit? Saudara tidak mau. Bukan saja tidak mau, bahkan banyak pemimpin- pemimpin gereja pun tidak bisa menerima dengan baik, mereka hanya mau menggunakan untuk mempertahankan harga diri saja, supaya jangan dikritik.

    Inilah 4 relasi universal dari dosa yang kita lihat.

Sumber
Halaman: 
63 - 68
Judul Artikel: 
Seri Pembinaan Iman Kristen: Dosa, Keadilan dan Penghakiman
Penerbit: 
Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1993

Komentar