Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Peranan Roh Kudus Dalam Konseling

Edisi C3I: e-Konsel 016 - Peranan Roh Kudus dalam Konseling

Pastoral konseling adalah pelayanan yang mutlak tergantung pada kuasa Roh Kudus. Keunikan pastoral konseling juga terletak pada sikap hamba Tuhan yang percaya akan kehadiran, pengaruh dan campur tangan langsung dari Allah dalam pelayanan konselingnya. Ia tidak pernah sendiri. Ia tidak pernah menjadi seperti yang Erich Fromm katakan,

"Man is alone in the universe, indifferent to his fate." ("Man For Himself", Reinhart, N.Y., 1947, p. 445).
Oleh karena Roh Kudus selalu beserta dengan dia. Realita ini seharusnya melahirkan keyakinan dalam diri hamba Tuhan, bahwa:

Pola triangle dari interaksi selalu menjadi pola dalam setiap bagian dalam pelayanan konselingnya. Tuhan Yesus berkata dalam Matius 18:20 bahwa,

"... di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka".
Tanpa pola triangle ini, pastoral konseling sebenarnya kehilangan keunikannya karena sama seperti yang Martin Buber katakan,
"memang hanya dalam interpersonal relationship yang utuh antara konselor dan konsele kehadiran Allah betul-betul menjadi kenyataan yang positif." ("I and Thou", Clark Edition, Edinburg, 1937, p. 75).

Sukses setiap pelayanan konseling tergantung mutlak pada kehadiran Roh Kudus sendiri. Seperti yang Paulus katakan dalam 2 Korintus 3:5-6 bahwa, "dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.`Ialah yang membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari hukum Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan."

Sayang sekali, kehadiran Roh Kudus ini dalam banyak hal masih meragu-ragukan bahkan belum betul-betul dimengerti apalagi dialami oleh hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan konselingnya. Sering kali kehadiran Roh Kudus bahkan dimengerti sebagai pengalaman mistik yang tentu saja tidak riil. Webster menyebutnya sebagai,

"It is neither apparent to the sense nor obvious to the intellegence." ("Webster's Third New International Dictionary")

Di samping itu, banyak pula hamba Tuhan yang mengerti kehadiran Roh Kudus hanya sebagai simbol, sehingga pada akhirnya makna kehadiran itu sendiri semata-mata tergantung hanya dari interpretasi si pemakai simbol itu. Karena itu perlu bagi hamba-hamba Tuhan menyadari bahwa:

Kehadiran Roh Kudus itu adalah sesuatu yang riil, meskipun ia sendiri mungkin tidak merasakannya (1 Korintus 6:19). Paul Tillich pernah mengatakan,

"Spiritual experience is reality in everyone, as solid as the experience of being loved or the experience of the air one breathes. Therefore ... we should become fully aware of the spiritual presence around us and in us, even if we realize how limited maybe our experience of 'God present to our spirit'. For this is what divine spirit means; God present to our spirit. Spirit is not a mysterious substance, it is not a part of God; it is God himself .... God is present in communities and personalities, grasping them, inspiring them, transforming them." ("Spiritual Presence", Pastoral Psychology, Oct. 1962, p. 26)

Hanya jikalau hamba Tuhan percaya akan realita ini, akan mengerti (dan menantikan) bahwa Roh Kuduslah sumber "new insight" (sumber dari munculnya pemikiran dan pengertian-pengertian baru) atas kedalaman misteri kehidupan manusia di balik persoalan-persoalan konselenya; sumber dari munculnya "right words" (kata-kata yang tepat, yang diucapkan pada saat yang tepat); sumber dari keberanian untuk melakukan "self-sacrifice" (pengorbanan diri demi untuk keselamatan konsele); sumber "new hope" (pengharapan baru) dalam diri konsele di tengah suasana dan kondisi hidup yang kelihatannya masih sama saja; sumber munculnya "sukacita, semangat dan keberanian" dalam diri konsele untuk menghadapi realita hidupnya.

Kehadiran Roh Kudus itu adalah kehadiran Allah sendiri yang secara aktif campur tangan dalam sejarah manusia (Yohanes 14:18,26; Matius 28:20).

David F. Roderick menyatakan bahwa,
"He is the actualizer of the whole work of God the Power which transforms the potential into the actual." ("In Evaluation and Christian Education", Nat. Couns of Churches Pub. pp. 11f)

Kesadaran inilah yang membuat hamba-hamba Tuhan sebagai konselor selalu rendah hati, sadar akan keterbatasannya, sadar akan peranannya yang hanya alat di tangan Allah dan memberi kebebasan sepenuh-penuhnya pada Roh Kudus untuk bekerja dalam diri konsele. Seperti yang De Forrest Wiksten katakan,

"Counseling is the process of potently waiting upon the Spirit of God ("The Power of Pastoral Counseling as the Work of the Holy Spirit", Pastoral Psychology, Oct. 1969, p. 31).

Di samping itu, kesadaran ini juga membuat konselor selalu diingatkan akan posisinya (yang dihadapan Allah) sederajat dan tidak lebih tinggi dari si konsele.

Wayne Oates dengan tepat sekali mengatakan bahwa,
"The counselee and the counselor are much more alike than they are different; the both are incurably human. Suffering the basic human anxieties of economic survival, the shortness of life and the continual need for the decisive action of the spirit called faith working through love. This realization is their common ground of acceptance and communication." ("Anxieties in Christian Experience", Westminster Press, Phil., 1955, p. 86-87)
Sikap yang positif menyebabkan ia sebagai konselor tidak berani "play God", karena ia betul-betul sadar bahwa keberhasilan dari konselingnya tidak tergantung pada keahlian dan kekuatannya sendiri. Heije Faber mengatakan bahwa sukses seorang hamba Tuhan adalah sukses dan keberhasilan yang sangat unik,
"The minister is just a clown in the circus, the victory is a strange victory of the man who recognizes his weakness, his powerlessness and failure, and accept it as part of the scheme of things; he is the little man who continues to have faith in something indestructible." ("Pastoral Care in the Modern Hospital", Westminster Press, Phil., 1971, p. 82).
Hamba Tuhan harus dapat mempertahankan keunikan ini, karena kehadiran Roh Kudus bukan hanya ide atau doktrin, tetapi seperti yang John Bailie katakan, kehadiran Roh Kudus adalah
"... a direct relationship to God who is in presence" ("Our Knowledge of God", Charles Schribner's Sons, N.Y., 1939, p. 216).

Ia adalah Allah yang bersedia hadir dalam diri konselor maupun konsele (1 Korintus 6:19). Tugas konselor adalah membuka kesempatan dan tidak menghalangi Ia bekerja secara lebih bebas dalam diri konsele.

Edith Agnew mengingatkan bahwa,
"We as pastors and counselors have done our best, after that ... a miracle must still take place." ("Holy spirit in Counseling Process", Pastoral Psychology, quoted by Don Falkeberg, Nov. 1964, p. 37).

Bagaimanapun sempurnanya pelayanan konseling kita, tetap kita harus menantikan miracle yaitu sesuatu yang Ilahi yang terjadi, yang akan menyempurnakan pelayanan ini. Disinilah letak keunikan pastoral konseling.

Sumber
Halaman: 
57 - 59
Judul Artikel: 
Pastoral Konseling, Jilid 1
Penerbit: 
Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2000

Komentar