Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Tips: Kualitas yang Dibutuhkan untuk Menjadi Konselor

Edisi C3I: e-Konsel 028 - Ketrampilan Konseling

KUALITAS YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENJADI KONSELOR YANG BAIK

Untuk menjadi konselor, kita tidak perlu ijasah diploma Teologi atau training psikologi. Profesor psikologi Jerome Frank dari Universitas John Hopkins mendeskripsikan kualitas yang dibutuhkan seorang konselor secara sederhana,

"Siapa pun yang memiliki kehangatan, logika, kepekaan terhadap masalah-masalah orang lain dan keinginan untuk membantu orang lain dapat melakukan psikoterapi dengan baik."
Deskripsi ini cukup memberikan dorongan semangat bagi para konselor awam yang terbeban untuk melakukan tugas pelayanan konseling.

Selain itu konselor harus mengerti terlebih dahulu istilah lain Roh Kudus adalah "Paraclete". Istilah "Paraclete" yang berasal dari bahasa Yunani ini dapat diterjemahkan sebagai konselor. Sedangkan arti dari konselor sendiri adalah 'orang yang terpanggil untuk mendampingi orang lain', 'menemani', menasehati, atau bila perlu 'membela'. Bila Roh Kudus digambarkan sebagai konselor itu sendiri maka kuasa Roh Kudus mengatasi aspek-aspek lain dalam diri kita, seperti kualitas pribadi dan teknik-teknik yang kita kuasai untuk memberikan konseling. Hanya Roh Kudus sajalah yang mempunyai kekuatan untuk mengubahkan hidup seseorang, baik hidup kita sebagai seorang konselor maupun orang yang kita bimbing. Jika kita ingin memberikan konseling, kita harus dengan suka rela berpasrah diri kepada Kristus dan membiarkan Roh Kudus memenuhi hidup kita dari hari ke hari. Menurut Alkitab, berpasrah diri kepada Kristus dan Roh Kudus adalah hal yang penting yang harus dilakukan konselor. Namun demikian, ada kualitas-kualitas pribadi yang dapat membantu kita untuk menjadi konselor yang efektif. Kualitas-kualitas tersebut antara lain:

  1. Pengalaman penderitaan/kesusahan.
    Persyaratan pertama adalah mengalami penderitaan. Ini bukan berarti kita harus mencari/menambah penderitaan atau kesusahan untuk menjadi konselor. Tuhan mengasihi kita dan mengijinkan kita mengalami penderitaan untuk memperkuat karakter kita sehingga kita pada akhirnya juga dapat membantu orang lain yang juga mengalami kesusahan. Pada kenyataannya, orang-orang yang terpanggil untuk memberikan pelayanan konseling kebanyakan adalah orang-orang yang dalam hidupnya pernah mengalami pergumulan berat.
  2. Empati.
    Empati adalah memahami perasaan orang lain dengan mencoba ikut merasakan seperti yang terungkap dalam Roma 12:15, "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" atau dalam Amsal 12:15, "Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka."
  3. Menjadi pendengar yang baik.
    Kita tidak dapat menjadi konselor yang kompeten jika kita tidak mau mendengarkan dengan baik apa yang ingin dikatakan oleh orang yang kita bimbing. Kenyataannya banyak konselor yang hanya ingin memberi nasehat saja tetapi malas untuk mendengarkan. tertulis bahwa, "Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya" (Amsal 18:13).
  4. Tidak menghakimi.
    Yang dimaksud dengan tidak menghakimi di sini bukan berarti kita kita benar-benar tidak boleh memberikan penilaian dalam konseling. Tetapi sebagai pendengar yang baik kita tentunya dapat memberikan penilaian yang adil terhadap konsele kita. Kita perlu terlebih dahulu mengenal kelemahan-kelemahan kita sebagai pribadi karena ini merupakan bagian dari kedewasaan kita dalam memahami kelemahan-kelemahan orang lain sehingga kita tidak asal menyimpulkan apa saja yang telah kita dengar.
  5. Kesabaran.
    Adalah hal yang sangat mudah untuk berputus asa dalam melakukan konseling terutama saat kita tidak melihat perkembangan yang baik dari konsele kita. Kita harus ingat bahwa tujuan dari konseling adalah kedewasaan iman Kristen, apakah kita memiliki cukup kesabaran untuk itu? Dalam Kolose 1:28-29 diungkapkan, "Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku." Dari ayat ini kata 'kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga' merupakan kata kunci yang harus kita ingat selalu agar kita sabar untuk mencapai tujuan utama konseling.

Sumber
Halaman: 
17 - 20
Judul Artikel: 
Christian Care and Counseling
Penerbit: 
Morehouse - Barlow Co., Inc. Wilton, CT, USA

Komentar