Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pola-pola untuk Mencegah Depresi

Edisi C3I: e-Konsel 050 - Hamba Tuhan dan Depresi

Seorang hamba Tuhan dapat mengembangkan beberapa kebiasaan untuk membantu mencegah ketegangan-ketegangan yang, jika tidak terkontrol,dapat menyebabkan depresi.

Belajarlah menetapkan batas-batas
Para hamba Tuhan harus menentukan dengan jelas batas-batas tentang apa yang hendak mereka harapkan dari diri mereka sendiri dan apa yang bisa diharapkan oleh orang lain dari diri mereka. Tetapi hal ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan: "Jika saya tidak bisa menanggapi permintaan-permintaan logis untuk menolong, bagaimana saya bisa menyatakan cinta Tuhan yang tidak terbatas bagi manusia? Bagaimana saya bisa mengatakan 'tidak' jika gereja/jemaat memanggil? Bukankah ini sama artinya mengatakan 'tidak' kepada Tuhan? Apa yang hendak dikatakan tentang nilai diri saya sebagai manusia jika saya tidak mampu memenuhi semua permintaan?"

Kitab Suci memberikan sebuah contoh yang mengandung pelajaran tentang pemimpin-pemimpin gereja yang tanpa malu-malu menetapkan batas-batas tentang apa yang bisa diharapkan oleh orang lain dari diri mereka ketika para rasul menyerahkan sedikit tanggung jawab kepada anggota jemaat yang lain dalam Kisah Para Rasul 6. Mereka dapat menentukan batas-batas yang kuat karena mereka jelas-jelas merasakan untuk apa Tuhan memanggil mereka. Kata-kata perpisahan Kristus memberikan mereka satu perintah yang jelas untuk mewartakan dan mengajarkan Injil. Ketidaksetiaan jemaat awal tidak mengecilkan hati mereka (Kisah Para Rasul 5:1-10); rasa permusuhan dari pemimpin-pemimpin Yahudi setempat tidak membuat mereka takut (Kisah Para Rasul 5:17-29); siksaan dari para penguasa tidak membuat mereka berhenti mengajar (Kisah Para Rasul 5:40); dan tuduhan-tuduhan dari saudara-saudara seiman atas perbuatan melalaikan jemaat tidak membingungkan mereka (Kisah Para Rasul 6:1-4).

Para hamba Tuhan dewasa ini mungkin merasakan kerugian dalam menetapkan panggilan mereka sendiri. Pengertian mereka atas panggilan sering diubah oleh usaha-usaha dari dalam: untuk disukai, untuk menjadi yang paling dihormati, untuk menjadi hamba Tuhan yang paling patut dicontoh di gereja, untuk menghindari pertentangan, untuk mengendalikan jemaat. Jadi, menentukan prioritas adalah suatu keharusan agar tetap setia pada panggilan mereka dan tetap bijaksana dalam melaksanakan tugas.

Seorang uskup, pertemuan hamba Tuhan, atau dewan gereja dapat menjadi suatu sumber yang berharga bagi para hamba Tuhan dalam menentukan prioritas-prioritas ini. Mereka juga bisa meminta nasihat dari seorang hamba Tuhan yang berdekatan. Ini tidak boleh dipandang sebagai tanda kelemahan atau pernyataan kegagalan.

Kesadaran atas irama kehidupan biologis mereka sendiri dapat membantu para hamba Tuhan berhasil menentukan prioritas mereka. Ada yang bangun pagi-pagi, ada yang bekerja larut malam; ada yang penuh tenaga, gagasan dan antusiasme; ada yang perlu mendorong diri mereka sendiri untuk menyelesaikan apa pun yang kreatif. Pola-pola ini dan yang lainnya dapat diubah-ubah sampai tingkat tertentu, tetapi yang paling efektif dan efisien adalah bahwa hamba Tuhan itu menerima irama hidup dan pekerjaan mereka sendiri dalam batas-batas mereka. Sam Eastwood adalah seorang hamba Tuhan yang mempunyai banyak gagasan yang kreatif. Dia sering berharap hanya membutuhkan lima jam saja untuk tidur. Sementara itu ia biasanya membutuhkan waktu delapan jam untuk tidur setiap malam. Dia selalu merencanakan jadwalnya untuk tidur lima jam saja; tetapi ia biasanya menjadi capai dan tertidur di ruang belajarnya. Dia kemudian akan tenggelam dalam kegagalan sekali lagi. Dia sama sekali tidak mengetahui keterbatasan tubuhnya sendiri.

Dengan mengajar jemaat tentang panggilan, tujuan, dan keterbatasan hamba Tuhan, para hamba Tuhan dapat menanggapi dengan aktif harapan- harapan yang dibebankan kepada mereka dan dengan demikian mengurangi ketegangan yang mereka alami. Mengatakan "saya tidak bisa" hanyalah merupakan bagian pertama dari komunikasi. Bagian yang kedua adalah: "Sumber-sumber pemecahan masalah agaknya berada dalam diri Anda sendiri." Pendekatan ini membantu orang lain mencapai kewaspadaan dan kepercayaan terhadap diri sendiri sebagai teman kerja hamba Tuhan itu. Ini mencegah tumbuhnya ketergantungan yang mencekik pemimpin rohani.

Belajar menjadi tegas
Kunci sukses untuk berhubungan dengan orang lain adalah apakah seseorang dapat secara terbuka mendiskusikan perasaan-perasaan negatif yang dialaminya dengan orang-orang yang menimbulkannya. Semakin seseorang menekan perasaan-perasaannya, perasaan-perasaan itu menjadi semakin hebat. Kadang-kadang perasaan-perasaan itu menjadi begitu kuat sehingga seorang hamba Tuhan tidak dapat menahan kemarahannya. Dengan segera ia meminta maaf dan berusaha untuk menghindari rusaknya hubungan, dan berjanji untuk tidak mengungkapkan perasaan-perasaan seperti itu lagi. Orang lain dalam hubungan itu merasakan adanya penarikan diri, dan hubungan itu dirusak oleh penarikan tersebut sama seperti oleh letusan kemarahan.

Sebagai ganti menekan perasaan atau mengungkapkan letusan perasaan, ada pilihan ketiga yang melibatkan pengungkapan pikiran dan perasaan seseorang untuk memperkuat hubungan. Ada beberapa prinsip yang harus diingat:

- Akuilah masalah yang ada.
Tidak peduli betapa tidak menyenangkannya sikap orang lain, para hamba Tuhan harus menyampaikan reaksi-reaksi mereka sendiri daripada mempertalikan perasaan-perasaan mereka kepada orang lain. Ketika seorang hamba Tuhan berkata kepada seorang anggota pengurus gereja, "Anda tidak peduli terhadap orang lain sebab Anda mendesak untuk mengucapkan kata yang terakhir," orang tersebut harus membuktikan bahwa dia bukan orang yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, hamba Tuhan itu dapat berkata kepada tua-tua itu, "Ketika Anda menyela saya, saya merasa terluka, seolah-olah apa yang harus saya katakan tidak ada apa-apanya. "Ini akan membantu menciptakan suasana di mana diskusi yang produktif dapat berlanjut.

- Gambarkan sikapnya.
Jangan menghakimi atau menilai orang atau alasan-alasannya. Gambarkanlah dengan sederhana sikap yang menimbulkan perasaan- perasaan negatif dalam diri Anda. Sebagai contoh, "Jika Anda melihat ke arah lain pada saat saya mendekati Anda, saya merasa ditolak." Ucapan ini menggambarkan suasana Anda tanpa menyampaikan penolakan orang lain.

- Gunakanlah kata "saya".
Nyatakan perasaan-perasaan Anda dengan sudut pandang orang pertama. "Saya merasa terluka dan tertolak." Hindarkanlah mengatakan, "Anda ingin melukai saya; Anda menolak saya," atau menggunakan sudut pandang orang ketiga, "Orang merasa ditolak jika Anda bertindak seperti itu."

- Dukunglah orangnya.
Alasannya adalah untuk membantu memelihara dan mengembangkan hubungan Anda. Biarlah orang lain tahu bahwa Anda memperhatikan dia dan hubungan Anda. Kemudian Anda berdua dapat meletakkan senjata-senjata pertahanan diri Anda dan menjadi saling terbuka satu sama lain.

- Tanggapilah umpan baliknya.
Perhatikanlah tanggapan orang lain, baik yang berupa kata-kata maupun yang bukan kata-kata. Sebelum memberikan suatu jawaban, ulangi kembali apa yang Anda dengar dari perkataan orang itu: "Saya mendengar Anda berkata bahwa urusan saya membuat Anda marah." Terimalah kebenaran apa pun yang ditunjukkan tentang diri Anda tanpa pembelaan diri, kemudian teruskanlah dengan menyatakan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran Anda. "Saya dapat mengerti betapa ketidaksediaan saya telah membuat Anda marah; dan ini adalah sesuatu yang ingin saya perbaiki."

Jangan berhenti menyatakan diri Anda setelah Anda memberikan dan menerima umpan balik. Hubungan yang efektif membutuhkan umpan balik yang terus menerus sepanjang terjalinnya hubungan tersebut.

Gunakan waktu untuk menjalin hubungan
Sebuah masalah pokok dalam depresi neurotis adalah rasa putus harapan, khususnya jika tidak ada hubungan yang berarti. Kesembuhan dari depresi sering bermula dengan memperoleh harapan kembali; harapan muncul ketika si penderita telah menyerah pada hidup tetapi kemudian mendapati bahwa seseorang tidak menyerah pada hidup.

Perkembangan dan pemeliharaan hubungan yang penuh arti menuntut tanggung jawab waktu, baik kualitas maupun kuantitas. Para hamba Tuhan sering berkata bahwa pasangan dan anak-anak mereka adalah orang-orang yang paling penting di dunia, tetapi waktu yang mereka gunakan dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang penting itu seringkali terbatas. Sayangnya, pasangan dan anak-anak jarang mengibarkan bendera merah yang menandakan keputusasaan mereka. Jika para hamba Tuhan terus-menerus meletakkan keluarga sebagai prioritas nomor dua di belakang kebutuhan-kebutuhan jemaat, mereka akan mendapati bahwa akhirnya anak-anak, dan barangkali pasangannya, akan menumbuhkan rasa benci yang mendalam kepada mereka karena hal tersebut. Jika anak-anak kemudian tidak memadamkan rasa benci itu seperti yang mereka kehendaki, para hamba Tuhan akan dikuasai oleh depresi dan rasa bersalah atas kegagalan mereka dalam memikul tanggung jawab yang utama ini.

Untuk memelihara hubungan pribadi dengan Tuhan, para hamba Tuhan harus berusaha menjadwal waktu pada suatu dasar yang tetap untuk meditasi, refleksi, dan doa. Waktu bersama Tuhan ini sering begitu mudah terampas oleh krisis dalam jemaat, dan hamba Tuhan perlu untuk sungguh-sungguh bertekad melindunginya. Ketika para hamba Tuhan merasakan kekosongan rohani yang amat besar karena tidak menjaga hubungan dengan Tuhan, mereka kemudian mengalami rasa bersalah dan ketidakaslian, sebab mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka alami.

Akhirnya, para hamba Tuhan perlu membuat sebuah tempat dalam hidup mereka untuk persahabatan pribadi. Seorang teman yang sangat baik dalam jemaat bisa menimbulkan masalah; oleh karena itu para hamba Tuhan sering merasakan betapa sangat menolong mempunyai teman-teman yang dekat dan akrab yang bukan merupakan bagian dari jemaat mereka. Dengan menumbuhkan dan menguji pandangan-pandangan dengan seorang teman dekat, para hamba Tuhan memperoleh kekuatan dari dalam dirinya untuk melayani jemaat mereka.

[Enos D. Martin adalah seorang psikiater yang mengajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Pennsylvania.]

Sumber
Halaman: 
42 - 45
Judul Artikel: 
Kepemimpinan, Volume 17/Th.V
Penerbit: 
Yayasan ANDI, Yogyakarta, 1982

Komentar