Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menghadapi Masalah Kematian

Menghadapi masalah kematian tidaklah mudah, tetapi di dalam kebudayaan yang mengagungkan kemudahan, masalah belajar menghadapi kematian menjadi lebih sulit lagi. Apalagi jarang ada orang dewasa yang memberi teladan. Dan bagi anak-anak yang baru mulai belajar tentang kematian, matinya binatang kesayangan, meninggalnya seorang kerabat, atau sahabat, merupakan pengalaman yang meninggalkan bekas yang dalam, membingungkan dan menggoncangkan jiwa.

Cara yang terbaik untuk menolong anak dalam mengatasi kedukaan bergantung pada beberapa faktor, termasuk umur anak, bagaimana akrabnya anak itu dengan orang yang baru meninggal, dan suasana ketika meninggalnya orang itu. Tetapi sebelum Anda dapat menolong anak Anda, Anda sendiri perlu menyadari bagaimana respons atau reaksi Anda sendiri terhadap kejadian itu.

Biasanya dukacita itu dialami dalam beberapa tahap, baik oleh anak- anak maupun oleh orang dewasa. Terutama sekali, kita perlu menyadari bahwa betapapun kuatnya iman kita kepada Allah, kemungkinan besar kita akan mengalami beberapa tahap penolakan dan kemarahan terhadap keadaan itu dan lebih baik hal itu dihadapi dan diatasi daripada dipendam. Walaupun kita tidak usah menyembunyikan perasaan-perasaan itu dari anak-anak -- mereka perlu mengetahui bahwa kita juga merasakannya -- kita perlu bersandar pada orang dewasa lainnya untuk mengkaji perasaan hati kita dan menolong kita supaya kita dapat menerima kenyataan itu. Sekali-kali jangan membuat anak agar berperan sebagai penghibur atau penasihat.

Seorang anak kecil mungkin sekali akan mengajukan berbagai pertanyaan tentang kematian jika ada binatang kesayangannya yang mati. Pertanyaan itu harus dijawab sejujur-jujurnya, tanpa harus mengelak ataupun memerinci yang tidak perlu. Dalam menghadapi kematian seseorang yang dekat dengannya seorang anak yang masih kecil cenderung untuk memberi reaksi dengan menyalahkan dirinya sendiri, karena mungkin ia teringat bahwa ia pernah marah terhadap orang yang meninggal itu dan dengan demikian menganggap bahwa kematian itu merupakan kesalahannya. Anak itu harus ditolong untuk menyadari bahwa perasaannya itu tidak ada kaitannya dengan kejadian itu. Ia juga harus ditolong untuk mengatasi perasaan bahwa ia ditolak -- bahwa yang meninggal itu dengan sengaja telah meninggalkan dia.

Jika kematian itu terjadi sebagai akibat suatu penyakit atau terjadi di rumah sakit, harus diperhatikan agar anak itu tidak mempunyai anggapan bahwa hubungan antara penyakit dan kematian erat sekali. Jika tidak demikian maka anak itu akan merasakan ketakutan yang dahsyat setiap kali ia jatuh sakit atau masuk rumah sakit. Kepada anak kecil tidak boleh diajarkan bahwa kematian itu adalah tidur yang lelap sehingga orang yang meninggal itu tidak akan bangun lagi. Banyak anak yang diajarkan demikian selalu merasa takut apabila ia harus tidur pada waktu malam.

Masih terus dipermasalahkan apakah anak boleh menyaksikan upacara penguburan atau tidak; anak-anak yang sudah berumur lima atau enam tahun sudah dapat mengerti dan sudah dapat menghadapi pengalaman yang demikian itu. Selama masa sesudah kematian, anak harus tetap tinggal bersama di rumah walaupun orang tua mereka memperlihatkan bahwa mereka masih berdukacita. Seorang anak merasa berdukacita, jadi ia perlu melihat orang lain yang sedang berdukacita.

Pada umur kira-kira delapan tahun, seorang anak mulai mengerti bahwa kematian itu tidak dapat dielakkan dan juga kejadian itu tidak dapat diulangi kembali. Pada tahap ini ia perlu mendapat kebebasan untuk mengemukakan dan membicarakan pokok itu. Jangan mengejek atau mempermalukan, tapi kita harus peka terhadap ketakutan atau kekuatiran yang dialaminya. Perasaan malu, ragu-ragu, atau sikap agresif dalam usia ini sering sekali merupakan ungkapan dari perasaan takut atau kuatir anak itu.

Akan merupakan pengalaman yang baik jika anak dapat ikut hadir dalam upacara atau kebaktian penguburan atau kebaktian untuk mengenang orang yang meninggal. Persiapkan dia dengan membicarakan setiap butir acara yang ada, dan jelaskan kepadanya bahwa maksudnya ialah untuk memberi kesempatan kepada kaum keluarga dan para sahabat untuk mengenang hal-hal yang baik tentang kehidupan orang yang meninggal. Kalau ada acara penutupan peti, berilah anak itu kesempatan untuk memilih apakah ia mau melihat atau tidak.

Seorang remaja sudah dapat lebih mengerti arti selengkapnya dari kematian dan sifat kematian yang merupakan akhir dari kehidupan di dunia ini. Dalam masa remaja yang sudah penuh dengan pergolakan emosi ini, seorang anak remaja memerlukan peluang untuk dapat mengutarakan perasaannya secara bebas tanpa ada tuduhan atau penghakiman. Orang muda itu mungkin ingin menyendiri guna menyusun pemikiran-pemikirannya, dan mungkin ingin berkonsultasi dengan orang dewasa lain atau malah kawan-kawan sebayanya untuk memperoleh dukungan emosional.

Dalam setiap tahap usia, anak Anda perlu mengerti tentang kematian dengan sebaik-baiknya sejauh kesanggupannya dan di dalam konteks iman. Alkitab mengajarkan bahwa:

  • kematian itu universal (Mazmur 89:49; Ibrani 9:27)
  • sebagai akibat dosa (Roma 6:23; Yakobus 1:15)
  • dan merupakan musuh (Lukas 22:39-44; Matius 26:36-44; 1Korintus 15:26)
  • [Red.: - dan maut itu sudah dikalahkan! (1Korintus 15:55)]

Dalam menghadapi kematian, orang-orang Kristen juga akan berdukacita, namun bukan tanpa pengharapan (1Tesalonika 4:13). Dengan teladan Anda, doronglah anak Anda untuk mengakui kepada Allah setiap perasaan marah, takut, atau perasaan memberontak yang ada. Dan redakan perasaan-perasaan itu dengan mengingat akan janji-janji Allah, kehadiran-Nya yang memelihara, dan kasih-Nya yang tanpa pamrih itu.

Anda perlu menyetujui pandangan anak Anda bahwa memang apa yang terjadi dalam kehidupan ini tidak semuanya nampak adil atau konsisten. Jika Anda bersikap realistik maka hal itu akan melepaskan anak Anda dari perasaan bersalah karena bertanggung jawab atas kematian yang terjadi itu.

Bersama-sama berharaplah akan janji dalam Mazmur 23:4 dan 116:15. Sesuatu yang masih merupakan rahasia itu menakutkan, tetapi orang- orang beriman dijanjikan akan mendapat pengawalan (Yohanes 14:1-3) dan juga dijanjikan akan dibangkitkan (1Tesalonika 4:13-18; 1Korintus 15:51,52). Kita orang-orang dewasa tidak dapat sepenuhnya mengerti tentang kematian, tetapi kita dapat mempercayakan diri kepada Allah waktu kita menghadapi hal itu.

Walaupun kehadiran Allah pada waktu kita sedang berduka itu sangat membesarkan hati, tetapi hal itu tidak dapat seluruhnya menghapuskan dukacita kita itu. Kita ini masih tetap manusia biasa. Ketika Anda memberi teladan dalam hal secara sukarela mempercayakan diri Anda kepada Allah pada waktu Anda menghadapi segala ketidakpastian dalam kehidupan ini, anak Anda akan belajar bahwa wajarlah kalau ada sesuatu yang melukai hati, jadi kita boleh mengakui perasaan kita yang sebenarnya dan juga boleh mengungkapkannya tanpa perlu malu.

Dengan menolong anak Anda belajar bagaimana mengatasi masalah kematian, Anda sedang membebaskan dia supaya ia dapat menikmati hidup ini.

Sumber
Judul Artikel: 
40 Cara Mengarahkan Anak

Komentar