Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Penghiburan Bagi Janda

Silakan menyimak ringkasan perbincangan TELAGA berikut ini yang menghadirkan Pdt. Dr. Paul Gunadi (T) sebagai penanya, dan juga Ibu Indrawati Tambayong (J1) dan Ibu Aymee (J2)-- dua orang ibu yang beberapa tahun yang lalu suaminya dipanggil Tuhan.

T: Ibu-ibu, saat musibah itu datang menimpa, apakah di dalam hati ada perasaan berontak kepada Tuhan? Apakah muncul banyak pertanyaan misalnya mengapa ini harus terjadi? Mengapa Tuhan meninggalkan saya? dan Bagaimanakah hidup saya nanti?
J1: Ya, itu yang saya alami. Saya sangat berontak sekali karena dalam pengalaman pelayanan saya banyak mujizat terjadi khususnya satu bulan terakhir sebelum suami saya meninggal. Kami mendapat lima mujizat. Jadi saya melihat bahwa kuasa Tuhan nyata tetapi mengapa Dia memanggil suami saya? Namun saat itu ada seorang hamba Tuhan yang menghibur saya. Dia mengatakan bahwa rencana Tuhan itu yang terbaik bagi saya dan suami. Saat itu saya berdoa, "Tuhan aku minta ampun. Aku tidak mengerti apa yang terbaik bagi diriku. Yang aku tahu saat ini aku mengalami suatu hal yang tidak baik." Hamba Tuhan ini juga mendoakan supaya Tuhan sendiri yang memberikan jawaban supaya saya bisa menerima keadaan ini.
J2: Saya mempunyai perasaan yang sama yaitu berontak, dalam hati saya pertanyaan "mengapa" itu terus muncul tetapi kemudian setelah beberapa minggu berlalu saya mulai berserah. Dan dalam pikiran saya, saya hanya tahu dan percaya satu hal bahwa Tuhan pasti menolong. Saya tahu kalau Tuhan memanggil suami saya, pasti Dia yang menggantikan tempatnya dan pasti Dia tolong. Karena di dalam Alkitab tertulis, "Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkannya kembali."
T: Apakah ibu-ibu bisa menceritakan pergumulan dalam menjalani hidup sendiri dan bagaimana mengatasi saat-saat kesepian, saat-saat yang paling sulit?
J1: Saya dikuatkan melalui Firman Tuhan. Saya merenungkan nasehat- nasehat saudara seiman yang mengingatkan bahwa rencana Tuhanlah yang terbaik. Untuk merenungkan itupun merupakan suatu perjuangan. Mazmur 68:6 membuat saya merasa terlindung. Selain itu janji Firman Tuhan yang tercatat di Yesaya 54:5 membuat saya mempunyai satu ketenangan. Jadi saya percaya bahwa pengganti dari suami saya itu adalah Bapa di sorga yang memelihara anak-anak saya. Saya merasa itu lebih menjamin kehidupan keluarga saya.
J2: Untuk mengatasi kesepian saya selalu kembali ke Firman Tuhan. Saya selalu memikirkan bahwa Tuhan Yesus adalah bujangan dan Dia bisa menjalankan kehidupan-Nya begitu murni dan begitu benar di hadapan orang, jadi Tuhan Yesus adalah contoh bagi saya. Saya terus memandang Tuhan Yesus yang memberi saya kekuatan luar biasa. Kalau saya merasa kesepian, saya berlutut dan mengatakan kepada Tuhan secara terus-terang bahwa saya kesepian sekali dan merindukan suami saya. Nah, kemudian saya nangis dan Tuhan menolong, selalu.
T: Jadi tangisan adalah hal yang positif untuk melepaskan ketegangan dan kesepian kita, apalagi waktu kita bersedih.
J1: Saya membiarkan perasaan saya keluar. Dengan demikian setelah berdoa dan berserah itu saya merasa ada damai dan sejahtera lagi.
T: Bagaimana kesulitan atau suka dukanya mengasuh anak itu sendiri karena tidak ada lagi figur ayah?
J1: Untuk mendidik anak, saya bersandar kepada Tuhan. Jadi memang saya membimbing anak-anak untuk mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun juga. Hal ini bukan berarti saya lepas tanggung jawab tetapi memang saya mau mereka beriman kepada Tuhan. Apa yang tertulis di 1Korintus 2:9 benar-benar kita alami. Tuhan pun juga membimbing anak-anak saya.
J2: Memang membesarkan anak itu tidak mudah apalagi sebagai orangtua tunggal yang sebenarnya membutuhkan seorang partner untuk sharing khususnya dalam mengasuh anak-anak. Kedua anak saya sudah menginjak dewasa. Mereka juga mempunyai masalah dan pergumulan yang sebenarnya saya sendiri tidak bisa mengatasinya. Namun saya hanya yakin dan percaya satu hal, kalau kami berdua, saya dan suami saya, sudah mendidik anak-anak sejak kecil dalam Tuhan maka waktu mereka menginjak dewasa, kami tidak begitu khawatir lagi. Saya tetap meminta mereka memegang Firman Tuhan dalam hidup mereka. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena kedua anak saya justru menjadi lebih dewasa dalam iman setelah ditinggal oleh ayahnya. Saya berani menyaksikan bahwa Tuhan itu ikut bekerja dalam setiap bidang kehidupan kami. Tuhan itu begitu setia dan tidak pernah meninggalkan kami.
T: Mungkin Ibu berdua bisa memberikan pesan untuk para janda lain?
J1: Sebagai seorang janda memang kita harus menanggulangi kesepian yang kita alami. Setelah melalui setengah tahun dalam pergumulan itu, Tuhan memberikan satu kekuatan khusus. Saya selalu ingat suami tetapi saya tidak pernah kesepian dan saya tidak lagi merasakan kebutuhan kasih dari suami, karena saya cukup mendapat kasih dari Allah Bapa yang menghibur dan memberikan kekuatan khusus baik bagi saya maupun bagi anak-anak saya.
J2: Sebagai seorang janda yang sudah ditinggal suami selama 2 tahun, sekarang ini saya berpendapat bahwa bujangan atau menikah itu tidak ada yang lebih baik satu daripada yang lain. Yang penting adalah hidup dalam rencana Tuhan. Jika rencana Tuhan mengharuskan saya hidup sendirian, maka saya menerima hal itu dengan rela. Karena mungkin dengan kesendirian itu, saya diberi keleluasaan untuk melayani Tuhan, untuk bekerja lebih leluasa, dan lebih luas lagi memancarkan kasih kepada sesama saya.
T: Terima kasih bagi Ibu berdua. Saya teringat Firman Tuhan yang dicatat di kitab Ayub 3:25, "Karena yang kutakutkan itulah yang menimpa aku dan yang kucemaskan itulah yang mendatangi aku." Namun kesimpulannya adalah tidak ada yang lebih besar dari Tuhan meskipun yang ditakutkan terjadi tetapi kita bisa melewatinya karena Tuhan yang menyertai dan menolong kita semua. Tuhan memberkati Ibu berdua.
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T007A & T007B (e-Konsel Edisi 037)
Penerbit: 
--

Komentar