Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Dipersatukan oleh Tuhan

Persoalan :
Seseorang bertanya kepada saya, apakah arti : "dipersatukan oleh Tuhan" tidak boleh dipisahkan oleh manusia? Sebetulnya dia tahu sendiri jawabnya, tapi ingin jawaban yang lebih konkret, saya serahkan mbak Dina saja yang lebih pakar untuk menjawabnya dan tambahan apakah juga mbak Dina merasa dipersatukan oleh Tuhan?

Jawaban :
 
Mbak Lenny,

Ini topik yang sulit sekali. Apalagi, yang nanya juga sudah ngerti jawabnya. Keringat dingin langsung bercucuran di dahi, lho! Soal sebutan "pakar," duh, . . . jangan, deh. Pakai saja untuk yang lain, yang memang sudah terbukti piawai. Tapi kalau sekedar ikut nambahi, seneng kok. Jadi, ijinkan nanggapi pokok di atas itu semampunya.

Kenapa ya, Alkitab kok menyebut ikatan suami isteri sebagai hubungan *satu daging?* Salah satu, mungkin mengacu ke keberadaan manusia dalam konteks penciptaan. Tuhan menyebut laki-laki hidup sendiri, tidak baik. Maka Ia menciptakan wanita dari rusuknya, sehingga dalam peristiwa pernikahan itu sang pria menemukan kembali tulang rusuknya. Karena itu, ungkapan satu daging memang sebuah metafora, tetapi pasti mewakili esensi intimasi hubungan kedua insan ilahi tadi.

Nyatanya, jika hubungan suami-isteri ini memang berjalan sesuai dengan yang semestinya, keakrabannya pasti mengalahkan semua (kecuali dengan Tuhan, tentunya). Erat dan dalamnya melebihi hubungan dengan sesama rekan sekerja, sehobi, bahkan dengan mereka yang berada dalam hubungan sedarah. Tak heran, kalau ksatria dalam pewayangan diajari filsafat ini: *Sak dumuk bathuk, sak nyari bumi.* Artinya, ada dua perkara yang patut dibelai sampai mati, tanah air dan kehormatan harga diri isteri.

Kemungkinan lain, ungkapan itu menegaskan terlibatnya dan fungsi sejati dari hubungan suami-isteri di tempat tidurnya (lihat saja Ibrani 13:4 dan lainnya). Orang sana seringkali memakai istilah "consumate," untuk menggaris- bawahi tingginya nilai perkara ini. Tapi saya kurang suka dengan filsafat seperti itu. Kesimpulan seperti itu lebih bersumber dari masyarakat Hollywood, dari pada ajaran Firman Tuhan. Alkitab menilai kemampuan untuk itu sebagai karunia yang suci, dan ditentukan untuk menjadi bagian utuh ikatan suami-isteri (baca lagi 1 Kor 7). Jadi, tekanannya pada landasan pelaksanannya, yaitu kasih, dan ekspresi kasih di baliknya, dari pada perolehan kenikmatan dan kepuasannya (tentu saja, yang terakhir itu otomatis terjadi bila tuntutan utama yang disebut di muka tadi dipenuhi).

Yang lain lagi, hubungan suami-isteri ditentukan untuk mencerminkan keterkaitan Kristus dengan gereja-Nya (Efesus 5:22-32). Aspek ini juga telah dibahas panjang lebar oleh para pendiskusi terdahulu, karena itu untuk mencoba mengulanginya di sini pasti tidak perlu. Namun sifat kudus dan 'ilahi'-nya lembaga pernikahan hanya patut ditegaskan saja. Pokoknya, untuk bisa memahami sakral, luhur, dan indahnya ikatan suami-isteri, kita harus bisa menangkap rahasia di balik hubungan Kristus dan gereja-Nya.

Meski demikian, kita semua tahu pula bahwa masalah ikatan suami-isteri bisa dicermati dari dan melibatkan adanya sejumlah aspek lain (sosial, ekonomi, budaya, politik, dan lainnya). Potensi aspek-aspek ini dalam mempengaruhi dan membentuk ikatan ini, besar sekali. Masalahnya, untuk bisa mengintegrasikan ajaran Tuhan dalam konteks itu semua, memang tak selalu sederhana. Untuk topik yang begini, ya monggo, yang lainnya dipersilahkan untuk nambahi.

Untuk sekarang, mohon pamit dulu.
 
Dina
 
 
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Milis Ayah Bunda
Penerbit: 
--

Komentar