Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Karunia Berbagi Rasa

Hari itu malam Natal tahun 1933. Ibu bersiap-siap memanggang kue buah yang sangat sederhana, karena isinya hanya kismis. Walaupun kue itu hanya berisi kismis, tetapi bagi kami kue itu sangat istimewa. Saudara-saudara perempuan saya, Lottie, Vivian, Estelle, Dolly, dan saya duduk mengelilingi meja dapur, mengupas kacang untuk kue itu.

Tidak ada seorang pun, kecuali ibu, yang bersemangat dan saya mengira ibu hanya berpura-pura saja. "Ibu," tanya saya, "mengapa Nenek, Bibi Ela, Bibi Fran dan Paman Hugh serta semua saudara sepupu kita tidak bisa datang pada hari Natal tahun ini seperti tahun lalu? Kita tidak bisa mendengar musik, kecuali Joe datang dan membawa gitarnya."

Kami tidak keberatan tidak memiliki pohon Natal karena kami tidak pernah memilikinya dan ibu serta ayah sudah mempersiapkan kami akan kemungkinan tidak ada hadiah, tetapi kenyataan bahwa tidak hadirnya tamu yang berkunjung atau musik yang mengalun, membuat kami kehilangan semangat. Dolly, yang berumur lima tahun dan yang bungsu, menangis tersedu-sedu.

"Mengapa kita harus pindah?" tanyanya, sambil menangis. Jadi ibu menjelaskan lagi tentang resesi ekonomi.

"Ketika kita harus menjual tanah pertanian yang kita miliki, kita beruntung menemukan tempat yang bisa disewa dan memang tempat ini terlalu jauh untuk dikunjungi saudara-saudara kita. Tetapi, jangan khawatir," kata ibu menenangkan kami. "Karena, bisa saja Tuhan mengirimkan seseorang untuk merayakan Natal bersama kita di tengah kesedihan kita, apabila kita benar-benar percaya." Ibu mulai mengaduk kismis yang dimasak dan melembutkannya.

Sewaktu kami bekerja, angin bertiup mengalun dan bergemerisik di atas koran yang kami taruh di sudut ruangan. Hembusan angin yang dingin dan kencang menerpa kami waktu ayah masuk melalui pintu belakang setelah bekerja di lumbung. "Tampaknya kita diserang angin yang sangat dingin dari utara," kata ayah sambil menggosok-gosok tangannya.

Setelah itu, ayah menyalakan perapian di ruang tamu dan kami baru saja mau memakai baju tidur flanel ketika seseorang mengetuk pintu. Seorang pengembara, yang badannya terbungkus gulungan alas tempat tidur, tersesat dan ia berhenti untuk ikut berteduh dari badai selama satu malam.

"Apakah Anda tidak keberatan," katanya, waktu ia meminum secangkir kopi panas. "Saya tidak mau dikasihani. Saya bekerja mencari nafkah. Saya akan ke California, katanya ada lowongan pekerjaan di sana."

Lalu ibu menyiapkan kasur jerami yang nyaman di belakang perapian. Kami masuk ke kamar tidur dan semua pelan-pelan merangkak ke tempat tidur yang sama supaya terasa hangat. "Mungkinkah dia yang dikatakan ibu bahwa Tuhan dapat mengirim seseorang untuk menghibur kita pada hari Natal?" bisik saya.

"Ya, pastilah dia. Siapa yang mau bepergian dalam cuaca seperti ini?" kata Lottie. Vivian dan Estelle sependapat. Kami merapat, merenung sebentar, lalu tertidur.

Waktu sarapan pagi, tamu kami mencelupkan biskuit ke dalam saus. "Seingat saya, saya tidak mempunyai keluarga," katanya. "Saya tidak bisa mengingat satu nama pun, kecuali Gibson. Kalian dapat memanggil saya Pak Gibson." la tersenyum, yang kelihatan hanya gusinya, giginya sudah tanggal semua. Kelihatannya ia tidak mempunyai apa-apa di balik gulungan alas tidur yang dipakainya, tetapi ia mengeluarkan harmonika yang besar dari saku celananya dan berkata, "Saya selalu membawa harmonika ini. Mau mendengar saya memainkannya?"

Jadi Pak Gibson merayakan hari Natal bersama kami dan ternyata ia sangat menyenangkan! Ia ikut membantu, bercerita, dan memainkan lagu-lagu Natal yang indah dengan harmonikanya. Ia mengiringi kami menyanyikan lagu-lagu gereja. Setelah kami bujuk-bujuk, ia mau menetap satu malam lagi.

Besok paginya waktu kami bangun, Pak Gibson sudah pergi. Saya menemukan harmonikanya di meja dapur. "Bu," seru saya, "Pak Gibson lupa membawa harmonikanya, satu-satunya yang dimilikinya."

Ibu berpikir sebentar. "Tidak," katanya pelan. Ibu mengambil harmonika itu dan meraba ukiran di pinggirnya. Ibu rasa ia memang sengaja meninggalkannya."

"O ya, saya tahu," kata saya, "seperti sebuah hadiah Natal. Tetapi kita tidak memberikannya apa-apa."

"Kita sudah memberinya hadiah. Sebuah keluarga untuk merayakan Natal," kata ibu, dan ia tersenyum.

Kami tidak pernah bertemu Pak Gibson lagi. Ayah memang berbakat, dalam musik; dalam waktu singkat ia belajar memainkan harmonika. Selama bertahun-tahun, harmonika itu membangkitkan kenangan manis yang tidak terlupakan waktu Tuhan mengirim Pak Gibson untuk menghibur kami yang sedang mengalami kesedihan - angin dingin dari utara - untuk menemani kami merayakan Natal. Karena Tuhan tahu, seorang pria yang piawai bermain musik, yang merindukan sebuah keluarga, dan menemukan sebuah keluarga tanpa musik, yang merindukan seorang teman; saling membutuhkan satu sama lain.

Sumber
Halaman: 
54 - 56
Judul Artikel: 
Kisah Nyata Seputar Natal
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993

Komentar