Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Memperluas Visi Kita

Edisi C3I: e-Konsel 005 - Peranan Gereja Lokal dalam Konseling

Sebagian besar orang mempunyai masalah. Sebagian orang tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan suami atau istri mereka, sebagian begitu khawatir tentang uang atau anak-anak mereka, banyak orang merasa tertekan atau gelisah, yang lain hanya merasakan kekosongan dalam diri mereka, sebagian yang lain mempunyai masalah dengan alkohol atau seks. Tidak terdapat cukup konselor profesional untuk mengatasi semua masalah yang ada. Andaikata ada, hanya sedikit orang yang sanggup membiayai rangkaian pertemuan yang mahal dan lama, yang seringkali diterapkan dalam konseling profesional tradisional. Lebih jauh harus diakui bahwa catatan keberhasilan para psikolog dan psikiater tidaklah membenarkan keyakinan bahwa terapi profesional yang terjangkau dan tersedia bagi semua orang merupakan jawabannya.

Meningkatnya masalah-masalah pribadi dan timbulnya kekecewaan akan usaha-usaha profesional untuk mengatasi masalah-masalah tersebut telah menghasilkan suatu keterbukaan terhadap pendekatan-pendekatan lain. Waktunya tepat bagi orang-orang Kristen yang memandang Allah dengan sungguh-sungguh untuk mengembangkan pendekatan alkitabiah terhadap konseling yang menyatakan otoritas Alkitab dan keperluan serta kesanggupan Kristus. Kepahitan, perasaan bersalah, kekhawatiran, kebencian, amarah, mengasihani diri sendiri, iri hati, dan hawa nafsu telah merusak kehidupan rohani (dan seringkali jasmani) manusia. Di balik pemikiran kita, orang-orang Kristen telah berpikir secara pribadi bahwa komitmen terhadap Kristus dan ketergantungan pada kuasa dan pimpinan Roh Kudus haruslah menjadi anjuran para dokter. Akan tetapi, psikologi dan psikiatri sekuler telah membawa kita pada anggapan bahwa masalah-masalah emosional adalah akibat dari kegagalan fungsi psikologi dan dengan demikian menjadi bagian unik dari spesialis psikologi. O. Hobart Mowrer, seorang psikolog terkemuka, menuduh gereja telah menjual hak kesulungan rohaninya dengan mengajar jemaatnya untuk hidup bersandar pada psikiater, yang kadang kala justru bersifat antagonis, hanya untuk semangkok sup propaganda.

Gereja lokal harus dan dapat dengan sukses memikul tanggung jawab dalam kedudukannya untuk memulihkan orang-orang bermasalah kepada kehidupan yang penuh, produktif, dan kreatif. Belum lama berselang seorang psikiater menyatakan bahwa pasien-pasiennya pada dasarnya lapar akan kasih dan penerimaan oleh sesamanya. Dimanakah seharusnya kasih yang tulus lebih nyata ada kalau bukan dalam gereja lokal yang berpusat pada Kristus? Yesus berdoa agar umat-Nya menjadi satu. Paulus mengatakan agar kita turut bersukacita dan berduka cita bersama-sama, saling menanggung beban satu sama lain. Pada saat rencana Tuhan untuk gereja-Nya dilaksanakan, kebutuhan yang mendalam akan kasih (yang kalau tidak terpenuhi akan menimbulkan masalah-masalah psikologis) seharusnya dapat dipenuhi di dalam gereja.

Manusia tidak hanya membutuhkan kasih, tetapi juga tujuan hidup. Hidup haruslah memiliki suatu makna, maksud, dan tujuan, yang tidak timbul dengan sendirinya ataupun bersifat sementara. Gereja lokal dirancang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Roh Kudus telah membagikan karunia-karunia rohani kepada setiap anggota tubuh Kristus. Penggunaan karunia-karunia tersebut menyumbangkan kegiatan yang paling penting yang sedang terjadi di dunia sekarang ini, yaitu pembangunan Gereja Yesus Kristus. Betapa indah, jika rencana penting dan kekal bagi kehidupan secara khusus ada dalam kerangka kerja gereja lokal. Gereja lokal telah dirancang secara unik oleh Allah untuk melayani kebutuhan orang-orang yang mengalami gangguan emosional.

Jika kita berharap meraih keberhasilan yang demikian besar dan mengabaikan tanggung jawab secara serius, para pendeta perlu kembali pada model alkitabiah, tidak melayani jemaat melainkan melengkapi mereka untuk melayani satu sama lain dengan menggunakan karunia-karunia rohani mereka. Jemaat perlu mendapatkan kembali pengertian yang indah dari persekutuan "koinonia" dan menjalankan masyarakat yang sesungguhnya. Para pendeta juga perlu memahami pandangan alkitabiah atas masalah-masalah pribadi dan mendorong usaha-usaha konseling alkitabiah dalam mimbar. Pria dan wanita harus dilatih untuk pelayanan konseling alkitabiah yang unik. Perkembangan gereja lokal menuju masyarakat konseling dengan menggunakan sumber-sumber yang unik dari persekutuan dan pelayanan adalah suatu konsep menarik yang membutuhkan pemikiran lebih lanjut. Sebagai dasar untuk pemikiran tersebut, pertanyaan yang jelas membutuhkan jawaban adalah, apakah pendekatan alkitabiah untuk konseling? Kesungguhan, kepandaian, dan perhatian yang luas harus diberikan guna mengembangkan suatu pendekatan untuk menolong orang-orang yang sedang dalam persoalan agar konsisten dengan Alkitab.

Setiap konsep konseling alkitabiah harus dibangun di atas dasar pemikiran bahwa sungguh ada pribadi Allah yang tidak terbatas yang telah menyatakan Diri-Nya melalui Pribadi Yesus Kristus, Firman yang hidup. Berdasarkan kesaksian keduanya, kita tahu bahwa masalah paling mendasar dari setiap manusia adalah keterpisahannya dari Allah; ada suatu jurang pemisah antara Allah adalah kudus dan manusia yang tidak kudus. Kecuali jurang ini dijembatani, orang- orang mungkin hanya menyelesaikan masalah-masalah pribadi mereka untuk sementara dan sebagian saja dengan mengira-ngira prinsip- prinsip alkitabiah, tetapi mereka tidak akan pernah memiliki suatu kehidupan yang sungguh-sungguh memuaskan, baik pada saat ini maupun pada kehidupan kekal nantinya. Satu-satunya cara menemukan Allah dan menikmati hidup bersama-Nya adalah melalui Yesus Kristus. Ketika kita sepakat dengan Allah bahwa kita adalah orang-orang berdosa, tapi kita lalu bertobat dari dosa-dosa kita, dan percaya bahwa darah Yesus sebagai pembayaran penuh atas hukuman dosa-dosa kita, maka kita akan memasuki suatu hubungan yang akrab dengan Allah (suatu kenyataan yang menakjubkan) dan membuka pintu pada kehidupan yang sesungguhnya.

Kini, jikalau orang-orang Kristen menyadari visi menggantikan konseling sekuler dengan pendekatan alkitabiah yang diterapkan dalam gereja lokal, kita tidak boleh mengurangi ataupun berhenti pada pokok-pokok doktrin ini. Orang-orang Kristen Injili sering kali melakukan salah satu atau yang lainnya. Tidaklah cukup untuk mengatakan kepada orang yang berdosa bahwa ia harus mengakui dosa- dosanya kepada Kristus dan berhenti dari hidup dalam dosa. Pendekatan seperti itu hanyalah memperkenalkan kekristenan sebagai sesuatu yang menekan dan bukannya membebaskan, suatu sistem yang yang berisi peraturan-peraturan yang sulit untuk dipatuhi. Belakangan ini usaha-usaha untuk menguraikan pendekatan Kristen terhadap konseling tampak seperti membayangkan proses konseling sebagai usaha untuk menemukan dosa dan kemudian membakarnya. Adalah suatu kesalahan yang serius untuk beranggapan bahwa Kristus hanya menolong dalam masalah-masalah rohani tertentu saja, namun tidak relevan atau tidak cocok untuk mengatasi masalah-masalah pribadi (misalnya depresi), sehingga kemudian berpaling pada psikoterapi sekuler untuk mendapatkan jawabannya. Mereka yang hanya dan berulang kali menyatakan bahwa "Yesus adalah jawaban" biasanya tidak senasib sepenanggungan dengan orang-orang yang sedang mengalami kesusahan. Ketika mereka dihadapkan dengan kenyataan akan tekanan pribadi, gangguan emosi atau keluarga, mereka pun mendorong untuk lebih banyak percaya, berdoa, dan mempelajari Alkitab (nasihat yang baik, namun tidak jauh berbeda seperti berkata kepada orang yang sakit untuk pergi ke dokter) atau mereka mengatakan hal ekstrem lainnya: "Masalah-masalahmu bukan masalah rohani, melainkan masalah mental. Saya tidak dapat menolong Anda. Lebih baik Anda mencari bantuan dari orang-orang yang profesional di bidang ini."

Kita harus mengembangkan pendekatan alkitabiah yang kuat dalam konseling, dengan mengambil dari psikologi sekuler yang tidak menyimpang dari dasar pemikiran alkitabiahnya, misalnya pendekatan yang secara realistis dapat diterima dan secara jujur dapat dievaluasi keberhasilannya dalam mengatasi masalah-masalah. Namun yang paling penting adalah memilih pendekatan yang tidak menyimpang dari Alkitab.

Sumber
Halaman: 
13 - 17
Judul Artikel: 
Prinsip Dasar Konseling Alkitabiah
Penerbit: 
Immanuel, Jakarta, 1999

Komentar