Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menanamakan Konsep Stewardship Pada Anak

Yakobus 1:17 "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang"

Pemberian Allah yang baik tidaklah berubah dan maksud Allah senantiasa baik adanya. Kita seringkali menerima pemberian yang baik dengan begitu saja, tanpa rasa terima kasih dan tanggung jawab. Kita lebih sering mengeluh dengan hal yang tidak enak dan mempersalahkan Tuhan yang mengizinkan hal itu terjadi. Marilah hari ini kita memikirkan hal baik apa yang Tuhan telah berikan dengan begitu sempurna yang tidak kita sadari sehari-harinya. Marilah hari ini kita juga memikirkan pemberian yang baik yang manakah yang kurang kita pelihara dengan baik selama ini.

Pokok Pikiran untuk minggu ini:
Anakku adalah pemberian Allah yang sangat baik.
Aku akan berusaha dalam minggu ini untuk melaksanakan tanggung-jawabku di dalam mendidik dia untuk dapat memelihara pemberian Tuhan di dalam dan di sekitar rumahku.
 
Bahan Pendidikan Iman di Rumah
 
Bahan Cerita:
Kej. 1:28-31; Yakobus 1:17
Ayat Hafalan: "Bapa di surga memberikan semua yang baik" (Yakobus 1:17)
 
(Untuk anak Balita)
Tujuan Pelajaran:
- Supaya anak-anak mengetahui bahwa Bapa di surga selalu memberi yang baik.
- Supaya anak-anak merasakan keinginan untuk memelihara pemberian yang baik.
- Supaya anak-anak memelihara pemberian yang baik dari Bapa di surga.
 
Berikan seekor ikan, binatang peliharaan lain, atau tanaman untuk dipelihara di rumah. Pilihlah sesuatu yang disukai oleh anak dan mudah untuk dipelihara oleh anak-anak. Sudah barang tentu anda perlu membantu dan mengingatkan konsep iman bahwa Bapa di surga menginginkan anak-anakNya memelihara pemberianNya yang baik.
 
Mengenali dunia anak-anak Balita:
  Balita belum dapat menguasai dirinya untuk tidak merusak barang ataupun melukai binatang, karena pada dasarnya mereka mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Kadang-kadang mereka dengan tenangnya meremas ikan di akuarium, membanting kura-kura kecil hingga mati, memukul anjing dengan sapu, menarik taplak sehingga vas bunga jatuh dan pecah, menarik pita cassete hingga kusut, dll. Akan tetapi sejak usia sedini ini kita dapat menanamkan konsep bahwa Bapa di surga menginginkan pemberianNya dipelihara baik-baik.
 
Dampak Positif:
Apakah dampak pendidikan ini untuk masa depan anak? Anak bisa belajar menjadi "juru kunci Allah yang bertanggung jawab" (Responsibility in Stewardship). Bukankah anda seringkali melihat jemaat yang dengan seenaknya membuang sampah di dalam gereja, bukankah anda pernah mendengar majelis yang mengkorupsi keuangan gereja? bukankah anda juga pernah melihat orang-orang yang memboroskan energi A.C. atau listrik? Semua kecerobohan tersebut dapat dihindari jika ada rasa hormat dan menghargai segala sesuatu yang baik sebagai pemberian Allah yang harus dipertanggung jawabkan. Sementara usia Balita, hasilnya tidak bisa anda nikmati secara langsung, akan tetapi percayalah bahwa konsep yang anda tanamkan akan menjadi dasar yang kokoh di masa yang akan datang.
 
Dampak Negatif:
Anda harus berhati-hati di dalam menanamkan konsep "Stewardship" ini. Anda butuh kesabaran dan pengertian terhadap perkembangan anak Balita. Jika anda terlalu keras dan memaksakan anak untuk segera melaksanakan konsep ini, anak anda akan kehilangan ‘rasa percaya diri’ dan ‘rasa aman’. Tanpa adanya rasa percaya diri, anak tidak dapat berkembang secara maksimal, khususnya dalam hal kreatifitas.
 
Cara Menanamkan Konsep "Stewardship":
Bagaimana cara menanamkan konsep "Stewardship" ini kepada anak Balita yang sedang dalam tahap "mencari tahu"? Yang direncanakan:
Ajaklah anak anda meneliti sesuatu yang menarik (mis: kelinci, kura-kura, ikan, dll.)
Siapkan hati anda untuk menghadapi resiko kerusakan atau kematian benda penelitian tersebut.
Pimpinlah proses penelitian tersebut, jangan biarkan anak-anak mengontrol anda.
Katakanlah berulang-ulang bahwa benda yang baik itu adalah pemberian Bapa di surga dan kita harus memeliharanya dengan baik. Bimbinglah anak supaya mereka tahu bagaimana memperlakukan benda tersebut (aturan main), misalnya: "Peganglah tangkai bunga, jangan cabut kelopaknya" (tentu saja sambil ditunjukkan yang manakah bagian bunga yang dimaksud); "Belailah kelinci dengan lembut"; "berikan makanan kepada ikan dan jangan masukan tanganmu ke air karena ikan akan terganggu", dll., dsb.
Tunjukkanlah aturan main ini dengan lembah lembut dan penuh kesabaran.
Janganlah putus asa untuk mengulangi aturan main ini dengan sabar karena anak Balita belajar sesuatu dari ‘pengulangan’.
Janganlah mengejutkan anak dengan larangan-larangan yang membuat mereka takut atau justru membuat mereka terbiasa dengan larangan itu dan tidak memperdulikannya. Mintalah anak-anak mengulang konsep dan aturan main secara oral. Misalnya: "Siapa yang memberikan kelinci ini?" (!: Bapa di surga/Tuhan) "Apa yang Bapa di surga ingin kita lakukan?" (!:memeliharanya/berlaku baik padanya). "Bagaimana kamu sayang pada kelinci?" (!: mengelusnya).
Yang tidak direncanakan:
Jika anda sering mengejutkan anak dengan mengatakan: "Hei, jangan sentuh itu, jangan pegang itu!" Cobalah di dalam seminggu ini untuk membimbing anak anda untuk mengetahui ‘aturan main’ di dalam memelihara barang-barang yang ada di dalam rumah.
Lebih baik menghindari barang-barang yang berbahaya atau berharga, dari penglihatan anak-anak. Latihlah anak-anak untuk mengenali barang yang mana miliknya dan barang yang mana milik orang lain.
Tanamkan rasa kepemilikan "sense of belonging" dan rasa tanggung jawab "sense of responsibility" terhadap benda-benda di dalam rumah. Misalnya: jika anak ngompol di rumah, katakan: "Seharusnya pipis di kamar mandi. Sayang sekali lantai rumah kamu (nama anak anda) kalau dipipisin terus. Nach sekarang harus dibersihkan. Lain kali jangan pipis di sini." Kalau perlu berkatalah dengan tegas & keras jika dia terus ngompol pada usia yang seharusnya tidak ngompol. jangan biarkan anak anda belajar untuk tidak menghargai peraturan di rumah anda dan menjadi ‘boss kecil.’
Berilah alasan oral yang bisa dimengerti, pada saat anda melarang anak-anak bermain dengan benda-benda tertentu. Misalnya: Papa dan mama masih mau baca majalah ini. Kalau sudah dirobek-robek nanti papa dan mama susah bacanya.
Segeralah berikan alternatif lain atau jalan keluar bagi anak anda bagaimana melatih perkembangan otot dan ‘skill’ mereka tanpa harus merusak barang-barang di rumah. Misalnya: Cepat gantikan majalah tersebut dengan koran bekas sambil menjelaskan bahwa koran itu boleh dirobek-robek karena sudah tidak mau dibaca lagi. Atau, berikan buku gambar/papan tulis yang besar untuk dicoret-coret jika anak-anak menggambar ditembok.

Berusahalah untuk tetap konsisten dengan aturan anda. Suatu saat saya mengajak seorang anak duduk di taman sebuah villa. Kebetulan di dalam taman itu ada sebuah pohon yang masih kecil dengan beberapa buah bulat berwarna merah, kuning, dan hijau. Sudah barang tentu ‘yang bulat-bulat berwarna-warni’ itu sangat menarik perhatian si anak ini. Ia memetik satu dan menunjukkannya kepada saya. Sudah barang tentu saya merasa sayang, karena kalau anak ini terus-menerus memetiki buah itu, tentulah pohon kecil itu akan botak dan menjadi jelek sekali. Saya katakan pada anak ini: "Wach buahnya bagus yach. Tapi, buah ini bukan untuk dipetik. Kamu boleh lihat dan pegang, tapi jangan dipetik." Dalam hati saya berpikir, "Pengalaman memetiki buah juga merupakan pengalaman yang baik untuk anak ini, tapi saya sudah terlanjur melarang anak ini." Tidak mungkin saya merubah peraturan main. Kemudian saya melihat pohon lain lebih besar dengan buah yang lebih banyak. Akhirnya saya mendapatkan akal. Saya katakan: "Nah, lihat ini pohon yang lebih besar dan buahnya banyak sekali. Yang ini boleh kamu petik sedikit" Sambil memetik buah-buah itu, kami belajar menghitung dan mengenali warna. Ternyata si kecil ingin memetik dari pohon yang kecil. Dalam hati saya berpikir: "Tidak apa-apa dia petik dari pohon itu, karena ternyata masih banyak pohon lain dengan buah seperti itu." Tapi jika saya biarkan, tentu membuat peraturan menjadi tidak konsisten. Akhirnya yang saya katakan: "Pohon yang kecil ini jangan dipetik,kasihan dia masih ingin lebih besar. Kalau yang besar boleh dipetik" Kemudian saya ajak anak ini untuk kembali melihat pohon yang lebih besar.


Latihlah diri anda untuk senantiasa mengingatkan anak-anak bahwa semuanya itu adalah pemberian Bapa di surga dan Bapa di surga menginginkan kita memeliharanya baik-baik. Dan hal ini adalah penting. Tanpa hal ini, pendidikan kita hanya bersifat sekuler saja, tanpa nilai-nilai rohani yang tertanam.
Tanamkan konsep ini juga ketika anda dan anak anda pergi ke gereja.
 
Lagu untuk dinyanyikan:
 
                         "Ku akan pelihara"
 
   |  1  1  |  3  3  |  5  6  |  5  |  4  4  |   3  2  |  1  2 |  3     |
   I-kan   ke-cil  yg lu-cu,  di  be-ri Al-lah   Ba-   pa
 
   |  1  1  |  3  3  |  5  6  |  5  |  4  4  |  3  2  |  1  2  |  1  0  |
   Eng-kau ke-cil dan lu-cu, ku- a- kan pe-li-ha-ra
 
   Reff:
   |  6  6  |  6  1  |  7  6  |  5  |  4  4  |  3  2  |  1  2  |  3     |
   Ha-ti   ku   sa-ngat   se-nang,   me-li-hat   kau   be-re-nang
 
   |  6  6  |  6  1  |  7  6  |  5  |  4  4  |  3  2  |  1  2  |  1    |
   A-ku   ja-ga   se-la-lu    I-kan   ke-cil   yg   lu-cu
 
2) Tembok putih dan bersih, diberi Allah Bapa
   Warnamu putih bersih, ku akan pelihara
   Hatiku sangat senag, melihat kau cemelang
   Aku jaga selalu, kebersihan tembokku
 
3) Burung kecil dan mungil, diberi Allah Bapa
   Engkau kecil dan mungil, ku akan pelihara
   Hatiku sangat senang, mendengar siul riang
   Aku jaga selalu, burung kecil yang lucu
 
Rootie
11 September 1995
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Buletin Eunike (Edisi 01 - 05)
Penerbit: 
--

Komentar