Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengambil Metode-Metode yang Alkitabiah: Kehidupan yang Berkomunikasi

Edisi C3I: e-Konsel 145 - Tanggung Jawab dalam Keluarga

Pada tahun 1978, keluarga kami membangun sebuah rumah. Sementara bekerja, kami membicarakan hal-hal yang akan kami lakukan jika bangunan rumah tersebut telah selesai. Pada tahun-tahun berselang, kami mengadakan penambahan, membentuk ulang model kamar mandi dan dapur, dan bersiap untuk membuat tambahan. Kami tidak lagi membicarakan penyelesaian rumah itu. Kami menyadari bahwa kami akan selalu mengubah rancangan rumah kami. Selalu akan ada perbaikan tertentu yang harus dilakukan.

Kegiatan membangun rumah bukan sekadar peristiwa dalam kehidupan kami sebagai sebuah kelurga, tetapi telah menjadi gaya hidup! Komunikasi adalah seperti itu.

Suatu kehidupan yang berkomunikasi

Komunikasi tidak hanya mendisiplinkan, tetapi juga untuk mengajar atau memuridkan, menggembalakan atau membimbing anak-anak Saudara kepada jalan Allah. Seperti pengajaran dari Ulangan 6, komunikasi yang utuh terjadi sementara berbaring, bangun, terjaga dalam perjalanan, dan sementara duduk. Para orang tua sering terlalu sibuk untuk berkomunikasi, kecuali ada sesuatu yang tidak beres. Suatu kebiasaan rutin untuk berbicara bersama menyiapkan jalan untuk pembicaraan pada situasi-situasi yang tegang. Saudara tidak akan pernah memiliki hati anak-anak Saudara jika Saudara berbicara dengan mereka hanya ketika sesuatu berjalan tidak beres.

Menggembalakan Hati

Saya telah menggunakan frasa "menggembalakan hati" untuk memberikan bentuk yang jelas terhadap proses membimbing anak-anak kita. Itu berarti membantu mereka memahami diri mereka sendiri, karya Allah, jalan-jalan Allah, bagaimana dosa bekerja dalam hati manusia, dan bagaimana Injil sampai kepada mereka pada tingkat paling mendasar dari kebutuhan manusia. Menggembalakan hati anak-anak juga mencakup membantu mereka mengerti berbagai motivasi, tujuan, keinginan, harapan, dan hasrat. Hal itu memaparkan ciri sebenarnya dari realitas dan mendorong iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Saudara melaksanakan proses penggembalaan melalui komunikasi yang kaya serta berdimensi banyak.

Memperhitungkan Pengorbanan

Komunikasi yang jujur, mendalam, serta benar-benar alkitabiah memerlukan pengorbanan. Percakapan yang berwawasan dan tegas membutuhkan waktu dan keluwesan. Anak-anak tidak akan mencurahkan isi hati atau membuka dirinya menurut jadwal yang diminta. Orang tua yang bijaksana berbicara ketika suasana hati anak-anak sedang baik. Setiap suasana hatinya demikian, mereka akan sering mengajukan pertanyaan, mengemukakan komentar, menyatakan aspek kecil tertentu dari hati mereka. Pada saat-saat seperti itu, ketika suara hati mereka kacau, Saudara perlu berbicara. Untuk bisa memanfaatkan momen yang penting ini, Saudara mungkin harus membatalkan sesuatu. Berilah perhatian khusus!

Saudara harus menjadi pendengar yang baik. Saudara akan kehilangan kesempatan berharga jika Saudara hanya mendengarkan anak-anak Saudara setengah-setengah. Cara terbaik melatih anak-anak Saudara menjadi pendengar aktif ialah mendengarkan mereka dengan penuh perhatian.

Ada yang menganggap bahwa mendengarkan ialah bila melakukan sesuatu pada kesempatan-kesempatan yang ada untuk mengatakan sesuatu. Pada saat kita berpikir mereka mendengarkan, sebenarnya mereka tidak mendengarkan sama sekali. Jangan menetapkan apa yang harus dikatakan. Jangan menjadi orang tua seperti itu. Amsal mengingatkan Saudara bahwa orang bebal tidak suka pada pengertian, tetapi hanya suka membeberkan isi hatinya (Amsal 18:2).

Tentu sulit untuk membedakan kapan harus diam dan mendengarkan sebab tidak seorang pun yang mengatakan mendidik anak itu mudah. Kadang-kadang perlu berhenti dan memikirkan apa yang telah Saudara katakan. Pikirkan juga mengenai apa yang belum Saudara dengarkan. Berhenti dan mendengarkan memberi kesempatan untuk menentukan kembali fokus dan menjadikan kreatif dalam percakapan Saudara.

Komunikasi yang baik membutuhkan pengorbanan-pengorbanan dalam bidang-bidang lain. Hal itu menuntut tenaga fisik maupun rohani, juga daya tahan mental. Kadang-kadang orang tua kehilangan kesempatan-kesempatan berharga karena mereka merasa terlalu lelah untuk memerhatikan.

Kita mulai merasakan dimensi fisik ini dengan nyata ketika anak-anak menginjak belasan tahun. Ketika masih kecil, kita biasa mengajak mereka tidur sebelum malam tiba. Ini memberi kita kesempatan untuk bercakap-cakap. Tetapi ketika anak-anak berusia belasan tahun, percakapan berlangsung pada saat-saat yang lebih malam. Saya tidak tahu pasti mengapa, tetapi kerap kali kesempatan-kesempatan penting untuk komunikasi datang pada malam hari. Orang tua yang bijaksana berbicara ketika anak-anak siap untuk diajak berbicara!

Komunikasi yang tepat menuntut ketahanan mental. Saudara harus menjaga pikiran Saudara agar terfokus. Saudara harus menghindari godaan-godaan untuk memburu soal-soal yang tidak penting. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab harus diajukan melalui cara-cara baru dan segar.

Saudara harus memiliki integritas untuk menghadapi anak-anak Saudara. Saudara membuat model dinamika kehidupan Kristen untuk anak-anak Saudara. Saudara harus membiarkan mereka melihat diri Saudara, yang memiliki indentitas sebagai anak Allah. Saudara harus memperlihatkan pertobatan Saudara kepada mereka. Nyatakanlah sukacita, pertobatan, serta rasa syukur Saudara. Hak untuk mencari tahu dan pengakuan yang jujur dari anak-anak Saudara tergantung pada kesediaan Saudara sendiri melakukan hal yang sama.

Seorang ayah yang memunyai tiga orang anak menceritakan suatu keadaan di mana ia telah berbuat salah terhadap salah seorang anaknya. Ia telah berbicara kasar dan memukul anaknya secara kejam. Ia kelihatannya sangat menyesali perbuatannya. Ketika saya bertanya apakah yang dikatakan anaknya ketika ia akan meminta maaf, ia mengaku bahwa ia belum meminta maaf. Ayah ini tidak akan pernah membuka komunikasi dengan anaknya kecuali ia bersedia merendahkan diri dan mengakui kesalahannya. Jika ia tidak mau melakukan itu, usaha untuk berbicara tentang Allah akan merupakan hal yang sulit dan pura-pura saja.

Sumber
Halaman: 
145 -- 149
Judul Artikel: 
Shepherding a Child`s Heart (Menggembalakan Anak Anda)
Penerbit: 
Gandum Mas, Malang 1995

Komentar