Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menggenggam Kasih

Saya sedang terburu-buru mempersiapkan khotbah Natal saya - saat yang paling berat dalam pelayanan untuk memperoleh sesuatu yang menyegarkan untuk disampaikan - sewaktu ibu asrama muncul di pintu ruang kerja. Berarti ada suatu masalah yang harus segera ditangani di ruang atas. Malam menjelang Natal memang merupakan saat yang sukar bagi anak-anak yang emosinya tidak stabil yang tinggal di asrama gereja kami. Tiga perempat dari mereka sudah pulang ke rumah, setidaknya semalam. Sedangkan yang tetap diam di asrama memberikan reaksi ketika melihat banyak tempat tidur yang kosong dan merasakan suasana yang berbeda dari biasanya.

Saya mengikuti ibu itu naik tangga, dalam hati merasa kesal karena berkali-kali terganggu. Kali ini Tommy yang membuat ulah. Ia merangkak ke bawah tempat tidur dan tidak mau keluar. Ibu itu menunjuk ke salah satu dari enam pelbet yang ada di asrama kami yang kecil, tempat Tommy bersembunyi. Di bawah tempat tidur itu tidak tampak sehelai rambut ataupun ujung jari kakinya, karena itu saya memperhatikan koboi dan kuda kecil liar yang terpampang di atas seprai penutup tempat tidur. Saya menceritakan pohon terang yang gemerlapan di ruang depan gereja di sebelah dan bungkusan-bungkusan hadiah yang diletakkan di bawahnya serta banyak hal lain yang menyenangkan yang menunggunya di luar tempat tidur itu.

Tidak ada jawaban.
Sambil menghela napas karena waktu yang berharga sudah berlalu begitu saja, saya membungkuk dan mengangkat penutup tempat tidur itu. Sepasang mata yang bundar berwarna biru bertemu pandang dengan saya. Tommy berumur delapan tahun, tetapi kelihatan seperti baru berumur lima tahun. Sebenarnya untuk menariknya ke luar tidak dibutuhkan banyak tenaga. Tetapi bukan itu yang dibutuhkan, melainkan menumbuhkan kepercayaan dan keberanian dalam dirinya untuk mengambil keputusan atas inisiatifnya sendiri. Jadi, saya merangkak mendekatinya. Saya mulai membujuknya dengan makan malam yang istimewa setelah kebaktian Natal. Saya juga menceritakan kaus kaki dengan rajutan namanya yang dibuat oleh sebuah perkumpulan wanita.

Hening. Tidak ada tanda-tanda ia mendengarkan ataupun mempedulikan Natal.

Dan akhirnya, karena saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk mengajaknya berbicara, saya merayap perlahan-lahan dengan perut menyentuh lantai dan menggeliat di sebelahnya, pegas tempat tidur menyentuh jaket saya. Rasanya lama sekali saya berbaring di sana, pipi saya dapat merasakan dinginnya lantai. Mula-mula saya membicarakan hiasan Natal yang besar yang diletakkan di atas mimbar dan lilin yang ditempatkan di dekat jendela. Saya juga mengingatkan lagu-lagu Natal yang akan dinyanyikannya bersama teman-temannya. Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakan, dan diam sambil menunggu di sampingnya.

Waktu saya menunggu, tangan yang kecil dan dingin terulur menggenggam tangan saya.

"Tommy," kata saya tidak lama kemudian, "di sini terasa sempit. Ayo, kita keluar ke tempat yang lebih luas."

Kami keluar perlahan-lahan. Semua tekanan yang membebani hari itu sudah terangkat, karena saya sudah mempunyai bahan untuk khotbah Natal. Sewaktu meluruskan badan di lantai saya menyadari saya memperoleh sekilas pandangan yang baru dari misteri Natal.

Bukankah Allah juga memanggil kita, seperti saya memanggil Tommy, jauh dari sana? Bukankah Ia juga meminta kita untuk mengasihi Dia, untuk menikmati alam semesta, semua bintang, gunung, dan segala ciptaan-Nya yang agung, yang sudah dianugerahkan-Nya kepada kita?

Dan ketika kita tidak mau mendengarkan, Ia berusaha menarik kita lebih dekat lagi. Melalui nabi-nabi dan para hakim serta orang-orang kudus, Ia berbicara langsung kepada kita.

Tetapi sejak Natal yang pertama, sejak Allah merendahkan diri-Nya dengan turun ke dunia, sejak Ia diam di antara kita dan tinggal di dalam diri kita, dalam kesunyian dan keterasingan kita, maka kita, sama seperti Tommy, berani mengulurkan tangan kita untuk menggenggam kasih-Nya.

Sumber
Halaman: 
25 - 27
Judul Artikel: 
Kisah Nyata Seputar Natal
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993

Komentar