Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menyegarkan Rumah

Saya tidak anti-televisi atau film layar lebar. Bagi keluarga kami, menonton televisi atau film pada cakram padat merupakan hal yang menyenangkan. Hampir setiap dua minggu sekali kami menyewa film anak-anak atau keluarga yang dapat kami tonton bersama. Buat saya dan istri, kami meminjam film drama yang biasanya kami saksikan pada malam hari setelah anak-anak tidur.

Tayangan televisi dan film dibuat dengan tujuan untuk menghibur dan menyebarkan informasi. Sudah tentu akan ada hiburan dan informasi yang tidak cocok atau tidak baik untuk kita konsumsi. Namun, saya kira masih ada cukup banyak tayangan yang menyenangkan untuk ditonton; bagi saya segala sesuatu ada tempat dan waktunya. Berikut ini saya ingin membagikan apa yang saya dan istri lakukan dengan televisi dan film.

Pada awalnya saya lebih menyukai film-film laga sedangkan istri gandrung dengan film drama atau komedi. Bagi saya, menonton film laga berfungsi untuk mengurangi ketegangan dan mengalihkan konsentrasi. Namun sekarang saya lebih menyukai film drama kehidupan (syukurlah, istri tidak pindah menyukai film laga!) karena film drama mengandung alur cerita kehidupan yang kuat. Sewaktu menonton film drama, kami bisa menikmatinya bersama, bahkan tidak jarang juga …menangis bersama!

Film drama ternyata juga dapat menggugah kasih dan penghargaan kami terhadap satu sama lain. Misalnya, dalam film Message in a Bottle, akhirnya pasangan itu tidak berhasil untuk saling berjumpa karena si pria (yang dibintangi oleh Kevin Costner) mati tenggelam. Bukan saja kami turut mencucurkan air mata melihat akhir kisah itu, kami pun disadarkan akan betapa rapuhnya hidup ini dan betapa beruntungnya kami dapat memiliki satu sama lain. Film-film drama menyadarkan kami akan kenyataan hidup yang tidak kami alami sendiri, namun dialami oleh orang lain. Melalui film-film ini, kami dapat menghayati pergumulan hidup dengan lebih riil.

Ada kalanya kami pun menyewa film keluarga, komedi, atau film anak-anak untuk kami saksikan bersama. Oh…betapa nikmatnya menonton film komedi bersama anak-anak! Kami tertawa bersama dan adakalanya…menangis bersama pula! Film seperti Curly Sue, yang mengisahkan perjalanan hidup seorang anak kecil yang sebatang kara, bukan saja menyenangkan tetapi juga sangat menyentuh hati.

Menurut saya, pertanyaan seputar televisi dan film bukanlah, "Boleh atau tidak?" melainkan, "Apa?" dan "Kapan?" Maksud saya, apa yang kita tonton haruslah merupakan fokus utama kita. Jangan sampai kita menyaksikan tontonan yang akan menjejali pikiran kita dengan ketakutan irasional, kekerasan sadis, atau eksploitasi seksual. Tatkala muncul adegan yang tidak senonoh, kami menutup layar kaca untuk sementara agar kami semua (bukan hanya anak-anak) tidak berkesempatan melihatnya. Firman Tuhan mengingatkan agar, "semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8)

Kapan menonton juga merupakan faktor yang perlu kita pertimbangkan. Ingatlah bahwa televisi dan film adalah salah satu sarana, bukan tujuan, penghiburan. Jadi, gunakanlah untuk menghibur, bukan memperhamba kita. Boleh tidak berarti kapan saja; karena kapan saja menunjukkan miskinnya alternatif rekreasi yang kita miliki dan keterikatan kita padanya. Kapan saja juga memperlihatkan kekurangarifan dalam pengaturan waktu yang akhirnya menjadi bumerang bagi kita semua. Singkat kata, pilihlah waktu menonton yang cocok bagi kita agar dampaknya bisa optimal sesuai harapan.

Hidup sarat dengan tekanan dan daya tahan kita pun terbatas. Hubungan suami-istri merupakan poros rumah tangga yang dari waktu ke waktu memerlukan penyegaran. Televisi dan film dapat menjadi salah satu pilihan sarana untuk menyegarkan jiwa dan hubungan suami-istri. Gunakanlah dengan bijaksana dan nikmatilah!


 
 
Rubrik: Suami-Isteri
Dr. Paul Gunadi
 
 
Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
Buletin Eunike (Edisi 20)
Penerbit: 
--

Komentar