Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Poligami

Edisi C3I: e-Konsel 093 - Berpoligami?

Dalam hati nurani setiap orang beragama, tentunya termasuk Kristen, ada kesadaran bahwa beristri (atau bersuami) lebih dari satu adalah dosa. Poligami adalah hal yang tercela. Tidak heran jikalau hidup di tengah masyakarat yang agamanya "memberi peluang" untuk poligami sekalipun, poligami secara terang-terangan hanya dilakukan oleh segelintir orang yang perasaannya tidak terlalu peka terhadap suara hati nurani orang banyak.

Dalam studi riset yang dilakukan beberapa ahli, ditemukan adanya perbedaan yang cukup mencolok antara pria dan wanita dalam soal poligami. Prialah yang lebih cenderung untuk berpoligami, wanita tidak. Helmut Thielicke dalam bukunya "Theological Ethics" (Vol 3. hal 84-ff) menyebutkan beberapa alasan:

  1. Bagi wanita, masalah seksualitas menyatu dengan keseluruhan dirinya.
    Oleh sebab itu, ia mengatakan,

    "For woman, poligami/polyandry will damage her very substance of her nature." (Untuk wanita poligami akan merusak substansi terdalam dari naturnya sebagai wanita.)
    Itulah sebabnya dengan kesadaran yang sama, Teolog Soren Kierkegaard mengakui,
    "It would matter nothing to him to betray the whole world, but that he will shrink from betraying a pure maiden, because it will violating the real self of her." (Tak menjadi masalah baginya mengkhianati seluruh dunia, tetapi untuk mengkhianati cinta yang tulus dari seorang wanita ia sendiri akan rusak, karena pengkhianatan tersebut berhubungan langsung dengan jati diri yang sesungguhnya dari seorang wanita.)

  2. Bagi pria, masalah seksualitas terpisah dari jati dirinya sebagai seorang laki-laki.
    Pria pada umumnya bisa memisahkan seksualitas (dan hal-hal badani) dari "the real self"-nya. Sehingga pengalaman seksualitas bisa independen dari apa yang sesungguhnya terjadi dalam batinnya.

David Friedrich Srauss menganalisa karya Goethe (Faust) yang berhasil menyingkapkan rahasia terdalam dari kehidupan seorang pria. Berbeda dari wanita, dalam batin pria selalu ada kegelisahan mencari "eternal feminine/wanita abadi" yang tak kunjung muncul. Dalam petualangannya dengan wanita-wanita, kebutuhan "eros pria" sebenarnya tak mungkin pernah terpuaskan. Oleh sebab itu, keberanian Faust mengikatkan diri dengan seorang wanita (dalam cerita itu Margaret) yang menolak untuk diperlakukan sebagai "a mere specimen of the eternal feminime" (suatu bentuk simbolik dari wanita abadi), telah menjebaknya dalam ikatan yang menghancurkan dirinya sendiri. Seolah-olah sesuatu yang tragis justru dialami pria oleh karena ia mencoba menyangkali naturnya yang memisahkan antara seksualitas dengan jati dirinya.

Tentu ini hanya drama dari Goethe. Meskipun drama ini mengandung kebenaran, yaitu Goethe menyingkapkan realita kegagalan manusia (pria) dalam upaya menghidupi kebenaran, karena jiwanya yang masih terjerat dengan naturnya yang tidak konduktif untuk menjadi konteks kebenaran tersebut. Kesetiaan hubungannya dengan wanita, hanyalah suatu fantasi yang terpendam jauh dalam lubuk batin manusia yang berdosa. Keberaniannya menerapkan kebenaran di tengah konteks hidup yang berdosa justru akan menghancurkan dirinya. Sama seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Matius 9:16-17 bahwa perbuatan tersebut seperti "menambal kain yang baru pada baju yang lapuk", atau "memasukkan air anggur yang baru dalam kerbat kulit yang lama". Manusia perlu diperbaharui dahulu sebelum ia benar-benar dapat mengerti dan menghayati kebenaran ilahi. Peringatan dan larangan berpoligami tidak berfaedah, karena bagi mereka yang terjebak dalam natur dosanya secara formal memang bukan poligami, melainkan tidak membebaskan mereka dari dosa perzinahan (Matius 5:27-28). Suatu bentuk poligami tersembunyi, yang ternyata bukan hanya pria saja yang melakukan.

Kita hidup di tengah budaya yang sangat kondusif dengan berbagai macam perzinahan. Meskipun sebagian besar dari kasus tersebut merupakan kasus perzinahan poligami yang tersembunyi yang dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk yang berbeda dari poligami pada umumnya. Oleh sebab itu, kejelian dan kepekaan saudara seiman sebagai konselor sangat diperlukan. Coba perhatikan kasus di bawah ini:

A dan B adalah pasangan suami-istri yang "cukup baik". Mereka jarang bertengkar karena keduanya benar-benar ingin menjaga "image" sebagai keluarga Kristen yang baik. A adalah seorang individu yang tertutup dan pendiam. Ia pekerja yang rajin dan karirnya menanjak dengan baik. Hanya A bukanlah tipe yang romantis. Tidak heran, meskipun ia tidak pernah menyeleweng, dan ia adalah seorang yang setia pada seluruh keluarganya, tetapi B, istrinya, merasa ada sesuatu yang kurang.

Sebagai teman dari B, Anda seringkali mendengar keluhan ketidakpuasan B terhadap A. Meskipun demikian, karena Anda melihat mereka sering berdua dalam kegiatan gerejani dan nampaknya baik-baik saja, Anda cenderung menganggap keluhan B sebagai hal yang wajar saja. Toh tak ada gading yang tak retak. Tak ada pernikahan yang "sempurna".

Meskipun demikian, pada suatu hari Anda melihat hal yang membuat hati nurani Anda gelisah. Anda bertemu dengan B dan X yang sedang makan siang bersama di sebuah food-court. Dalam pertemuan tersebut mereka sama sekali tidak menunjukkan hal-hal yang aneh. Hanya ... Anda sendiri yang merasa gelisah. Kegelisahan Anda semakin memuncak ketika pada suatu hari B mengatakan kepada Anda bahwa pria idamannya sebenarnya tipe pribadi seperti pemimpin paduan suara yang bernama X tersebut. Dengan terus terang B mengatakan telah salah pilih dan menikah dengan orang yang keliru. B mengatakan bahwa ia akan terus belajar mensyukuri apa yang memang sudah menjadi jodohnya. Kemudian, B mengakui terus terang bahwa dua tahun terakhir ini ia dekat sekali dengan X seperti layaknya hubungan adik-kakak. Rasanya cocok betul, segala sesuatu dapat dibicarakan dengan begitu enaknya. Masalah apa saja dapat dibicarakan dengan X.

Menurut pengakuan B (yang Anda kenal sebagai orang jujur) hubungan tersebut tidak ada unsur-unsur pacaran sama sekali. Hanya saja ... B merasa setiap hari ada kebutuhan dan keinginan untuk ngobrol dengan X. "Yah, meskipun cuma melalui telepon," katanya.

A, suami B, nampaknya tidak keberatan karena X dan istrinya seringkali mampir dan ngobrol di rumahnya. A menganggap pasangan suami-istri tersebut adalah teman-teman dekatnya.

Kasus seperti ini merupakan kasus yang sangat sering kita jumpai sekarang ini. Persahabatan antara pria dan wanita yang sudah menikah telah menjadi bagian dari budaya, sehingga dianggap wajar-wajar saja. Meskipun demikian, kita perlu betul-betul waspada bahwa hal yang wajar dan dapat diterima oleh masyarakat tak selalu wajar dan baik. Oleh sebab itu, sebagai teman dekat B, Anda seharusnya membekali diri dengan beberapa prinsip di bawah ini:

  1. Walaupun B tidak secara khusus meminta nasihat kepada Anda, B sebenarnya sudah memainkan peran sebagai klien yang siap untuk suatu konseling.
    Oleh sebab itu, mintalah pimpinan kepada Tuhan. Berdoalah dan persiapkanlah diri Anda untuk mulai membimbing B. Pekalah terhadap waktu yang Tuhan sediakan bagi Anda untuk percakapan konseling tersebut.

    Untuk itu, Anda perlu membekali diri dengan konsep-konsep yang benar (sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan) tentang apa itu natur dan tujuan pernikahan Kristen. PERTAMA, Anda perlu jelas bahwa apa yang sudah terjadi (A menikah dengan B) adalah sama dengan apa yang sudah dipersatukan Allah. Memang ini misteri dari providensia Allah yang di dalamnya manusia mempertanggungjawabkan kebebasannya untuk memilih. Meskipun secara sadar manusia salah pilih, tetap dalam iman ia seharusnya memasukkan "realita tersebut" dalam ikatan providensia-Nya supaya dapat dipertanggungjawabkan secara imani. Artinya, dalam pemilihan untuk memasuki realita "salah pilih" tersebut seorang yang beriman akan memasukkannya dalam konteks menjadi bagian kehendak Allah atas dirinya. Itulah konsep kehidupan iman. Dengan demikian, tidaklah benar jika B menghidupkan perasaan tidak puas oleh karena A bukan tipe idealnya dsb.

    KEDUA, kehidupan dalam iman seharusnya membekali B dengan tekad untuk membangun kehidupan seutuhnya dengan A dan bukan dengan orang lain. Kehidupan seutuhnya adalah kehidupan yang arahnya pemenuhan batin dan aktualisasi dirinya. B tidak seharusnya meragukan kemungkinan untuk mendapat pemenuhan tersebut dengan A, karena pemenuhan kebutuhan batiniah dan aktualisasi diri bukanlah sesuatu yang manusia secara subjektif tentukan sendiri. Hanya Allah yang sebenarnya dapat memberikan pemenuhan tersebut. Oleh sebab itu, ketaatan (obedience) kepada Allah akan membawa B masuk dalam proses yang benar. Sebagai konselor, jangan sampai empati Anda berubah menjadi simpati sehingga Anda membiarkan B hanyut dalam nafsu subjektif pemenuhan kehendak pribadi dan setuju kalau B berhak untuk tidak mencari pemenuhan batinnya dengan A.

    KETIGA, jelas perlu bagi konselor dan klien mengerti bahwa tujuan pernikahan Kristen bukanlah "kebahagiaan atau perasaan bahagia". Karena perasaan bahagia adalah anugerah umum atau sesuatu yang relatif yang Allah sediakan bagi siapa saja, termasuk bagi orang- orang jahat. Setiap orang dengan sendirinya akan merasa bahagia kalau kebutuhannya terpenuhi. Itu natural. Oleh sebab itu, kebahagiaan (yang Tuhan juga sediakan bagi orang-orang percaya ini) bukanlah tujuan utama pernikahan. Tujuan utama pernikahan telah ditetapkan Allah sejak penciptaan, yaitu supaya suami-istri menjadi rekan-rekan kerja Allah dalam mengerjakan segala pekerjaan baik yang telah disediakan-Nya (Kejadian 1:26-28, Efesus 2:10). Untuk itu syarat utama adalah suami-istri, keduanya masuk dalam proses pertumbuhan yang seutuhnya menjadi serupa dengan gambar Kristus (Roma 8:29).

    Memahami tujuan ini, akan memungkinkan orang seperti B sadar bahwa fokus hidupnya selama ini adalah fokus yang sangat duniawi dan egosentristik. B belum menyadari tujuan hidupnya sebagai orang yang sudah diselamatkan. Anda harus menolong B untuk belajar mematikan perasaannya terhadap X dan memakai kondisi ketidakpuasan terhadap A sebagai sarana pertumbuhan pribadi dan imannya.

  2. Dengan sikap tidak menghakimi, Anda perlu belajar untuk menjadi teman bicara B yang sebaik-baiknya.
    Ciptakanlah suasana yang konduksif dimana B akan merasa dirinya sangat diterima dan sangat dimengerti oleh Anda. Melalui itulah Anda akan mulai melihat B yang sesungguhnya muncul dari "tempat persembunyian jiwanya" yang ia sendiri tidak menyadarinya.

    Misalnya, Anda mulai dapat menangkap pola-pola pikirannya (bagaimana pikirannya bekerja; bagaimana B memikirkan hubungannya dengan A dan X; komponen-komponen kognitif apa yang ia pakai dan komponen-komponen kognitif apa yang ia abaikan; mengapa demikian, dst.) dan struktur kepribadian atau pola kerja jiwanya (mengapa ia begitu mudah mengikatkan dirinya dengan X; apa sebenarnya kebutuhan B yang terpenuhi dalam hubungan dengan X dan bukan dengan A suaminya, dsb.). Untuk itu, Anda mulai mempunyai pengenalan yang sesungguhnya akan siapa sebenarnya B tersebut. Anda mulai mempunyai praduga-praduga dan itu perlu diuji dulu kebenarannya. Untuk itu, Anda perlu merefleksikan praduga tersebut dan melihat bagaimana reaksi B atas refleksi yang Anda berikan. Misalnya, Anda katakan pada B: "Mendengar apa yang Anda katakan tadi, rasanya Anda mau mengatakan kepada saya bahwa Anda sudah memutuskan untuk tidak mau berupaya mengasihi suami Anda dengan kasih yang seharusnya ada dalam hubungan suami-istri. Apa benar demikian?"

  3. Setelah B menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya dan bagaimana sikapnya dalam realita kehidupannya, barulah Anda boleh mengkonfrontir B (ini tidak dianjurkan untuk profesional konselor) dengan kebenaran-kebenaran yang sumbernya dari Alkitab.

    B seharusnya menyadari bahwa hubungannya dengan X (meskipun tak ada realita praktis seperti layaknya orang pacaran) adalah hubungan yang tidak wajar. Hubungan ini sudah mempunyai muatan- muatan "cinta/love", karena tiga komponen love ada di sana, yaitu:

    1. intimacy, atau perasaan intim oleh karena merasa dirinya dimengerti dan diterima sepenuhnya,
    2. decision commitment, atau unsur rasionil untuk mempertimbangkan untung-rugi kalau mengambil keputusan dan komitmen. Nah, hasilnya B dan X telah merasakan adanya obligasi untuk selalu dan sering-sering bertemu, berhubungan dan berkomunikasi. B mengakui bahwa apa saja bisa disharingkan dengan X. Ada kemungkinan hubungan mereka diam- diam "dinikmati" oleh karena ada komponen ketiga, yaitu:
    3. passion atau seksualitas dalam bahasanya yang tersendiri. Mungkin benar mereka tidak bercumbuan dsb, tetapi tingginya frekuensi komunikasi pribadi antara pria-wanita tak mungkin dapat dipertahankan tanpa unsur-unsur passion.

Nah, kalau X menjadi begitu berarti bagi B, siapakah sesungguhnya suami B? Memang secara yuridis A adalah suami B, tetapi secara praktis (de facto) sebenarnya X-lah suami B. Ini adalah perzinahan yang tersembunyi. Ini adalah bentuk poligami yang tersembunyi.

Sumber
Judul Artikel: 
Parakaleo (Vol.VII/No.1/Edisi Jan-Mar 2000)

Komentar