3 Cara Tuhan Memakai Orang-Orang yang Hancur demi Kemuliaan-Nya

Kebanyakan orang cenderung meremehkan barang yang rusak dan ingin membuangnya. Ketika mendengar kata "rusak", kita langsung membayangkan bahwa ada sesuatu yang salah atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Menurut kamus Merriam-Webster, kata broken dapat berarti "terpisah secara paksa menjadi beberapa bagian; pecah berkeping-keping" atau "ditaklukkan sepenuhnya; remuk, berdukacita".

Kita bukan hanya cenderung membuang barang yang rusak. Terkadang, kita juga menyingkirkan orang-orang yang hidupnya hancur. Sebaliknya, Tuhan tampaknya mengasihi dan justru menaruh perhatian kepada mereka. Apakah yang membuat kehancuran seseorang menarik perhatian Tuhan? Mengapa Tuhan senang memakai orang-orang yang hancur? Mari kita melihat tiga alasannya.

1. Orang-Orang yang Hancur Menyadari Bahwa Mereka Membutuhkan Tuhan

Dalam Injil Lukas pasal 18, kita membaca perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Keduanya pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Namun, doa mereka sangat berbeda. Beginilah orang Farisi itu berdoa:

"Orang Farisi itu berdiri dan mengucapkan doa tentang dirinya, 'Ya, Allah, aku berterima kasih kepada-Mu karena aku tidak seperti orang lain; seperti pemeras, penipu, pezina, atau bahkan seperti pengumpul pajak ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari seluruh penghasilanku.'" (Lukas 18:11-12, AYT)

Bandingkan dengan doa pemungut cukai itu:

"Akan tetapi, si pengumpul pajak berdiri agak jauh, bahkan tidak memandang ke langit. Sebaliknya, ia memukul-mukul dadanya sambil berkata, Ya, Allah. Berbelas kasihanlah kepadaku, si pendosa ini." (Lukas 18:13, AYT)

Perbedaan kedua doa itu sangat jelas. Orang Farisi berdiri dengan penuh keyakinan, membanggakan kesalehannya sendiri, dan seolah-olah memberi tahu Tuhan betapa baik dirinya. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri dengan rendah hati dan hati yang hancur. Dia menyadari bahwa dirinya tidak layak dan memohon belas kasihan Tuhan.

Coba tebak, siapa yang pulang sebagai orang yang dibenarkan?

Ada ungkapan lama yang berbunyi, "Tuhan menolong orang yang menolong dirinya sendiri." Ungkapan itu tidak benar dan tidak terdapat dalam Alkitab. Alkitab justru mengajarkan bahwa Tuhan menolong orang yang menyadari bahwa mereka tidak mampu menolong diri sendiri dan bahwa mereka membutuhkan-Nya.