Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Alasan Sebenarnya Anda Membutuhkan Natal

Edisi C3I: e-Konsel 367 - Natal

Masa liburan, bonus akhir tahun, menerima hadiah-hadiah sesuai daftar harapan Anda ... tidak ada satu pun di antaranya yang tidak baik. Namun, Anda bisa mendapatkan semua hal itu tanpa Natal. Jadi, hal-hal itu tidak bisa menjadi alasan utama Anda membutuhkan Natal, bukan?

Mungkin Anda berada di sisi yang berlawanan: Anda berpikir bahwa Anda tidak perlu Natal sama sekali. Dekorasi, pertemuan keluarga yang tidak saling membaur, belanja, dan bepergian, menambahkan begitu banyak stres. Atau, mungkin Natal membuat Anda merasa sangat kesepian. Anda akan senang untuk tidur sepanjang hari Natal dan bangun tepat pada waktunya untuk membunyikan lonceng menyambut tahun baru.

Kesamaan dari kedua pola pikir ini adalah bahwa mereka masing-masing berfokus pada hal-hal tambahan dari makna sebenarnya, mengapa Natal itu ada dan mengapa kita merayakannya.

Mengapa kita sebenarnya membutuhkan Natal? Apa gunanya Natal untuk kita, dan bagaimana Natal seharusnya memengaruhi kita?

Jawabannya, Anda mungkin akan terkejut mengetahuinya, tidak terdapat di bagian pertama dalam kisah Natal dalam Injil. Alasan kita memerlukan Natal adalah kembali pada masa Natal pertama kali diberitakan, dalam Kejadian 3.

Kebutuhan Kita akan Natal dalam Kejadian 3

Pasal ketiga dalam Kejadian adalah kisah sedih tentang bagaimana umat manusia jatuh ke dalam dosa. Adam dan Hawa, yang telah tergoda oleh ular, ingin "menjadi seperti Allah" (Kejadian 3:5), dan itulah sebabnya, mereka makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Sangat menarik bahwa, setelah pengulangan tujuh kali "Allah melihat bahwa semuanya itu baik" dalam Kejadian pasal 1, maka di sini "perempuan itu melihat bahwa pohon itu baik" (Kejadian 3:6). Dia telah mengambil hak prerogatif Sang Pencipta dan menentukan tujuan baik apa suatu ciptaan dibuat. Hawa dan Adam telah mencoba menurunkan Allah dari takhta dan membuat diri mereka seperti Allah.

Akibatnya tragis. Adam dan Hawa, yang mengharapkan pencerahan, langsung mengalami rasa malu setelah melihat ketelanjangan mereka. Mereka takut dengan kehadiran Tuhan dan saling menuding untuk menghindari murka-Nya. Ular, Hawa, dan Adam dikutuk. Kematian memasuki dunia. Mereka dilarang masuk lagi ke surga Allah.

Meskipun kegelapan menyelimuti hari itu, seberkas harapan bersinar memancar -- dan di sinilah, kita kembali ke topik tentang Natal.

Allah berjanji bahwa seorang anak yang istimewa akan lahir, yang akan mengalahkan ular: "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (Kejadian 3:15). Allah berjanji bahwa seseorang dari keturunan Hawa akan meraih kemenangan mutlak atas ular.

Janji Keturunan Ini Digenapi di Dalam Yesus.

Apakah Anda orang berdosa? Jika demikian, Anda perlu Natal.

Eksplorasi ke dalam Kejadian 3 yang cepat ini mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita membutuhkan Natal. Salah satu liburan di antara liburan-liburan yang ada diciptakan bukan karena kita perlu liburan, hadiah, dan kebaktian gereja yang lebih banyak. Natal ada karena kita telah berdosa.

Jika Kejadian 3 tidak terjadi, kita tidak perlu Natal. Jika kita memiliki hubungan yang murni, benar dengan Tuhan, kita tidak perlu Natal. Jika manusia percaya kepada Tuhan untuk menentukan apa yang baik dan yang jahat, kita tidak perlu Natal.

Namun, karena Kejadian 3 itu terjadi, dan karena pemberontakan terhadap Allah terjadi di dalam hati kita setiap hari, kita sangat membutuhkan Natal. Matius, dalam catatannya tentang kelahiran Kristus, menulis, "Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Matius 1:21). Kita membutuhkan campur tangan Tuhan dalam hidup kita, dan itulah yang dilakukan Allah Bapa dengan mengirimkan Anak Allah yang lahir dari seorang perawan dengan kuasa Allah Roh Kudus. Inilah Natal.

Mengapa Ini Mengubah Cara Kita Merayakan Natal?

Dengan merenungkan kembali tujuan Natal menjadikan perayaan Natal sebagai pengingat alasan Yesus datang, bukan hanya bahwa Ia datang. Ini seharusnya mengubah cara kita merayakan Natal. Kita membuat perayaan karena telah diselamatkan dari suatu hukuman. Kita kagum bahwa Allah mau mengulurkan anugerah-Nya kepada pemberontak seperti kita. Kita sekali lagi terpesona akan Yesus, Imanuel, Tuhan beserta kita.

Memfokuskan diri terutama pada hal-hal yang ada saat Natal -- lampu-lampu, lagu-lagu, berbelanja, dll. --, benar-benar melenceng. Hal-hal itu baik apabila dilihat sebagai hal sekunder secara tepat. Akan tetapi, ketika itu menjadi fokus kita, hal-hal itu tidak akan menentukan pandangan kita secara tepat tentang masa Natal, entah itu positif atau negatif.

Terlebih dahulu, marilah kita sungguh-sungguh mengingat mengapa kita memerlukan Natal. Selanjutnya, kita akan benar-benar bergembira atas fakta bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Christianity
Alamat URL : http://www.christianity.com/christian-life/christmas/the-real-reason-you-need-christmas.html
Judul asli artikel : The Real Reason You Need Christmas
Penulis artikel : Eric McKiddie
Tanggal akses : 8 Mei 2014

Komentar