Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Anak dan Ketakutan

Edisi C3I: e-konsel 255 - Merdeka dari Ketakutan

Adakalanya orang tua bingung melihat perubahan sikap anak yang tiba-tiba menjadi sangat ketakutan. Apa yang terjadi dan apa yang dapat dilakukan orang tua?

Penyebab Ketakutan dan Penanganannya

  1. Anak melihat dunia sekitarnya dengan mata yang berbeda dari orang dewasa. Acap kali, apa yang menjadi ketakutan orang tua bukanlah apa yang menjadi ketakutan anak. Kadang anak mengalami teguran dari orang asing dan ini cukup untuk membuatnya ketakutan. Atau, anak melihat orang tua sakit dan ia mengembangkan ketakutan kalau-kalau orang tua akan meninggal. Itu sebabnya, orang tua perlu memberi penjelasan terhadap peristiwa yang tidak dimengerti oleh anak, agar ia tidak menarik kesimpulan yang keliru atau irasional.

  2. Anak memiliki fantasi yang aktif dan rentan terhadap ketakutan, sebab bukankah ketakutan sering kali muncul dari sesuatu yang dibayangkan? Anak dapat membayangkan sesuatu yang mengerikan dari film yang ditontonnya atau buku yang dibacanya. Itu sebabnya, anak harus dilindungi dari kisah-kisah yang menyeramkan, sebab apa yang telah terekam akan sukar dihapus dari memorinya.

  3. Relasi orang tua yang tidak stabil dan rawan konflik juga berpotensi menciptakan ketakutan pada anak. Ia takut kehilangan orang tuanya dan ia takut menyaksikan pertengkaran mereka. Itu sebabnya, orang tua perlu membereskan pernikahannya dan berupaya keras melindungi anak dari konflik antara mereka.

  4. Penolakan teman di sekolah atau lingkungan juga dapat membuat anak ketakutan. Teman menolak melalui pelbagai cara misalnya, ejekan, ancaman, atau pengucilan. Penolakan dari teman-temannya atas berbagai alasan, misalnya perbedaan fisik dan kelemahan tertentu. Alhasil, anak hidup penuh dengan ketakutan karena membayangkan perjumpaan dengan teman-teman. Itu sebabnya, orang tua perlu menjalin komunikasi yang baik dengan anak tanpa menyalahkannya, agar ia berani bercerita tentang lingkungannya.

  5. Tekanan akademik yang membuat anak malu atau gagal juga bisa menciptakan ketakutan. Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan merupakan perasaan yang menakutkan. Itu sebabnya, orang tua harus peka dengan kondisi anak, agar tidak memaksakan anak masuk ke sekolah yang memiliki tuntutan di atas kemampuan anak.

Firman Tuhan: "Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat." (Amsal 15:33)

Anak perlu dididik untuk takut akan Tuhan dan berani menghadapi apa pun. Ketakutan dihilangkan melalui pendampingan atau penyertaan. Jadi, didik anak untuk selalu ingat bahwa Tuhan menyertainya.

Diambil dari:

Nama situs : TELAGA.org
Alamat URL : http://telaga.org/audio/anak_dan_ketakutan
Judul transkrip : Anak dan Ketakutan (T156A)
Penulis : Pdt. Dr. Paul Gunadi
Tanggal akses : 23 Juni 2011

Komentar