Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Anak Tunggal dalam Masyarakat

Edisi C3I: e-Konsel 188 - Anak Tunggal

Keadaan anak tunggal dalam masyarakat adalah sama dengan anak-anak lainnya. Kalau anak-anak lain dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, demikian juga dengan anak tunggal -- kedua faktor tersebut juga berfungsi. Faktor-faktor eksternal yang sering dialami oleh anak tunggal ialah keadaan rumahnya, di mana persaingan antara anggota keluarganya kurang.

Seorang anak tunggal tidak atau kurang mengalami pertentangan-pertentangan yang biasanya terjadi di antara saudara-saudara kandung. Perselisihan, rasa iri hati, tolong-menolong, dan pendekatan pribadi yang selalu terdapat dalam keluarga tidak pernah dialaminya. Seolah-olah kehidupan anak tunggal tersebut begitu menyenangkan karena perlindungan yang terus-menerus diberikan oleh orang-orang dewasa yang berada di sekelilingnya. Oleh karena itulah sering ditemui adanya kelemahan dalam hubungan antarpribadi di luar lingkungan rumahnya. Anak tunggal tersebut menjadi lebih cepat putus asa, lebih pemalu, egois, manja, dan sebagainya.

Faktor eksternal atau lingkungan banyak membentuk seorang anak tunggal menjadi seseorang yang memunyai kelemahan dalam kematangan sosialnya. Tetapi faktor internal, oleh Bakwin & Bakwin, dikemukakan sebagai berikut.

"Sejumlah besar para jenius dan anak-anak superior adalah anak tunggal."

Jadi, anak-anak yang berstatus sebagai anak tunggal ternyata banyak yang menjadi superior dan jenius -- yang berarti seorang anak tunggal biasanya banyak yang memunyai potensi tinggi. Hal ini juga dikemukakan oleh Maller.

"... dari penelitian yang dilakukan terhadap besarnya keluarga dan kepribadian, ditemukan bahwa anak-anak tunggal tergolong memunyai inteligensi di atas rata-rata ...."

Demikianlah mengenai keadaan anak tunggal yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Faktor lingkungan memberikan pengaruh yang dapat dikatakan negatif, tetapi ternyata faktor internal sering ditemukan berpotensi tinggi.

Masalah Orang Tua yang Memunyai Anak Tunggal

Bagi orang tua, memiliki anak tunggal, secara ekonomis menguntungkan. Orang tua tidak perlu bersusah payah mencari penghasilan yang besar karena tanggung jawab untuk memberi atau memenuhi kebutuhan fisik anaknya relatif tidak besar. Berlainan bila memunyai banyak anak, di mana tiap anak memunyai kebutuhan-kebutuhan sendiri yang harus dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Bila ditinjau dari sudut ini saja, keluarga yang memunyai anak tunggal akan membutuhkan ongkos hidup yang relatif lebih kecil atau sedikit daripada kalau memunyai banyak anak.

Masalah sekolah untuk keluarga yang memunyai anak tunggal juga tidak memberikan beban berat. Pada keluarga besar, misalnya yang memunyai delapan orang anak, berarti orang tua harus mencari delapan bangku sekolah untuk anaknya tersebut. Sedang kenyataannya, masalah sekolah adalah masalah yang masih sulit diatasi oleh pemerintah.

Melihat kenyataan ini, berarti keluarga atau orang tua yang memiliki anak tunggal jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan orang tua yang memiliki banyak anak. Demikian pula dengan masalah-masalah lain, misalnya masalah perumahan atau tempat tinggal. Dengan banyaknya anak, berarti harus menyediakan banyak tempat. Tempat tidur harus lebih banyak disediakan, tempat bermain harus lebih banyak disediakan. Bila penampungan untuk sekolah saja sudah menimbulkan kesulitan-kesulitan, maka demikian pula dengan perumahan dan tempat bermain ini.

Di samping masalah penghasilan orang tua, masalah sekolah, masalah tempat tinggal, serta masalah tempat bermain, bila anak-anak tersebut sudah dewasa, akan timbul masalah baru, yaitu lowongan pekerjaan. Pada masyarakat petani, di mana tanah-tanah masih banyak yang harus digarap, memang benar bahwa banyaknya anak akan berarti banyaknya tanah yang dapat digarap dan berarti pula penghasilan akan bertambah. Berlainan dengan masyarakat kota yang mengandalkan penghasilan sebagai pegawai. Bila lowongan pekerjaan cukup besar, hal ini tidak menjadi persoalan. Tetapi realitas ternyata berpendapat lain.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa dengan memiliki anak banyak, maka persoalan yang harus diatasi menjadi banyak pula. Apakah hal ini berarti juga sebaliknya, artinya dengan memiliki sedikit anak, berarti sedikit pula persoalan yang harus dihadapi oleh keluarga atau orang tua tersebut? Secara ekonomis mungkin benar, tetapi secara psikologis belum tentu. Salah satu bentuk dari keluarga yang kecil ialah keluarga yang memunyai anak tunggal, bentuk keluarga inilah yang akan dibahas lebih lanjut.

Dengan hanya memiliki seorang anak, anak tunggal tersebut akan mendapat perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Termasuk dalam hal kasih sayang. Karena kedua orang tua tersebut hanya memunyai seorang anak sebagai buah hatinya, anak tunggal tersebut tidak akan kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Bahkan, apa saja yang diinginkan oleh anak tunggal tersebut akan selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Hal ini akan memengaruhi kepribadian anak tunggal. Karena segala keinginannya selalu terpenuhi, anak tunggal tersebut bisa menjadi manja. Kalau ada satu saja keinginannya tidak terpenuhi, ia akan memberikan reaksi yang sifatnya emosional seperti merengek-rengek kepada orang tuanya atau cepat mengambek dan marah. Menghadapi reaksi anak yang demikian, orang tua menjadi terpengaruh, bisa menjadi tidak tahan melihatnya atau tidak tega dan berusaha memberikan atau menuruti kemauan anak. Bilamana hal ini berlangsung terus-menerus, lama-lama anak tunggal tersebu t hanya mengetahui bahwa keinginannya selalu harus dipenuhi, selanjutnya ia menjadi egosentris.

Mengenai ciri-ciri kepribadian anak tunggal, Hurlock mengemukakan sebagai berikut.

Sesuai dengan tradisi, ada dua tipe anak tunggal, yaitu:

1. yang manja, egosentris, antisosial, dan karena itu tidak populer;
dan
2. yang menutup diri, peka dan mudah cemas, menarik diri dari hubungan sosial, dan terlalu menggantungkan diri pada orang tua.

Sifat-sifatnya yang manja, egosentris, dan antisosial mengakibatkan anak tunggal tersebut menjadi tidak populer. Hal ini memang dapat dimengerti karena dalam pergaulan, teman-teman yang tidak kita senangi adalah teman-teman yang banyak menunjukkan sifat-sifat antisosial dan egosentris. Karena selalu dituruti segala keinginannya, anak tunggal tersebut menjadi anak yang terlalu bergantung kepada orang lain dan tentu saja orang tuanya. Selain dari kedua orang tuanya, anak ini juga selalu mendapat perhatian dari anggota keluarga yang lain, misalnya saudara-saudara dari ayahnya atau ibunya, juga nenek atau kakek kalau masih ada.

Orang tua dari anak tunggal biasanya bukan saja memberikan perhatian yang berlebih-lebihan atau kasih sayang yang berlebihan terhadap anak tunggalnya. Sering kali, mereka juga memberikan perlindungan secara berlebihan. Karena hanya memunyai seorang anak, maka timbullah kekuatiran kalau anaknya mengalami suatu kejadian yang berbahaya. Hal ini akan berakibat fatal bagi orang tua tersebut. Sering timbulnya rasa kuatir menyebabkan orang tua selalu mencegah anaknya melakukan pekerjaan yang sebenarnya belum tentu atau tidak berbahaya. Misalnya, anaknya dilarang membawa piring sehabis makan karena takut anaknya terluka bilamana piring tersebut jatuh. Anak dilarang naik sepeda di jalan umum karena takut tertabrak mobil, walaupun sebenarnya anak tersebut sudah cukup pandai dan cukup waspada. Cara perlakuan orang tua yang terlalu banyak melindungi aktivitas-aktivitas anaknya ini disebut sebagai sikap melindungi yang berlebihan (overproteksi). Sampai batas-batas terte ntu, perlindungan orang tua memang diperlukan, tetapi bilamana bersifat berlebihan, maka hal ini akan berpengaruh buruk terhadap anak itu sendiri. Dalam hubungan ini jelas terlihat adanya kecenderungan dari pihak orang tua untuk melindungi anak tunggalnya secara berlebihan, yang sebenarnya justru akan berpengaruh buruk terhadap anak tunggal tersebut.

Kesulitan lain yang dialami oleh seorang anak tunggal ialah pergaulannya yang terus-menerus dengan orang tua atau orang dewasa. Sejak anak tunggal tersebut dilahirkan, orang-orang yang dihadapinya, orang-orang yang berada di sekelilingnya adalah orang-orang dewasa. Dalam hal ini tentu saja kedua orang tuanya, paman, bibi, dan teman-teman orang tuanya. Acap kali, anak tunggal ini berada di rumah atau di suatu lingkungan yang tidak sebaya dengannya. Karena orang-orang di sekelilingnya adalah orang-orang dewasa dan anak kecil satu-satunya adalah dia sendiri, hal ini berarti satu-satunya pribadi yang paling lemah dalam lingkungan tersebut adalah anak tunggal itu. Dengan kedudukan ini, berarti anak tunggal itu menduduki kedudukan yang istimewa. Orang-orang dewasa yang berada di sekelilingnya selalu memperlakukannya secara istimewa pula. Situasi ini memberikan pengaruh seperti kurangnya mengalami pertikaian atau pertengkaran yang biasanya terjadi di antara anak-a nak. Konflik antaranak kurang dialami, sehingga pada situasi ini anak tunggal tersebut tidak mendapat kesempatan untuk mempelajari semacam "tata cara" atau "sopan santun" pergaulan di kalangan anak- anak. Anak tunggal tersebut tidak pernah mengalami bagaimana caranya meminta suatu barang dengan cara tertentu sebagaimana dialami oleh anak-anak sebayanya yang memunyai saudara-saudara, memunyai kakak dan adik yang sebaya.

Singkatnya, anak tunggal tersebut kurang sekali mengalami masalah emosional yang sebenarnya diperlukan untuk melengkapi perkembangan kepribadian seorang anak. Ia kurang atau tidak mengalami konflik-konflik emosional yang terjadi dengan saudara-saudaranya. Konflik-konflik emosional dengan orang tua juga tidak sebanyak pada keluarga dengan banyak anak.

Seipt, I.S., mengemukakan bahwa ia memunyai kesempatan yang terbatas untuk mempelajari makna dari memberi dan menerima yang terjadi pada semua kelompok, dewasa maupun anak-anak.

Sebagai anak tunggal, sebagai anak satu-satunya dalam keluarga, kesempatan untuk belajar "memberi dan menerima" dengan anak-anak lain menjadi kelemahannya.

Pada keluarga dengan beberapa anak, kompetisi antara anak-anak tersebut selalu terjadi. Kompetisi ini bisa dalam hal merebut kasih sayang orang tuanya, bisa pula dalam hal pelajaran sekolah, yaitu kompetisi untuk memperoleh angka-angka yang baik dalam ulangan-ulangan di sekolahnya. Dengan tidak adanya saudara bagi anak tunggal ini, maka kompetisi tidak terjadi. Anak tunggal tidak mengalami persaingan yang dalam hal-hal tertentu sebenarnya berfaedah bagi perkembangan kepribadian anak tunggal tersebut. Akibat dari kekurangan ini, anak tunggal tersebut bisa menjadi anak yang pemalu, kurang berani, kurang inisiatif, karena semua hal itu memang tidak terlatih.

Demikianlah masalah-masalah orang tua yang memunyai anak tunggal. Dari segi ekonomisnya, mungkin menguntungkan dengan memiliki anak tunggal. Tetapi dari segi psikologis, timbul masalah-masalah yang rumit. Dari sikap manja yang biasanya tampil sampai dengan bentuk-bentuk tingkah laku yang pemalu dan kurang berani. Semua ini menjadi masalah tersendiri yang harus diperhatikan orang tua.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
180 -- 186
Judul Buku: 
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja
Pengarang: 
Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa dan Dra. Ny. Y Singgih D. Gunarsa
Penerbit: 
BPK Gunung Mulia
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
1995

Published in e-Konsel, 15 July 2009, Volume 2009, No. 188


Komentar