Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Apakah Emosi yang Kuat itu Baik Atau Buruk?

Edisi C3I: e-Konsel 155 - Mengendalikan Emosi

Emosi sering berakar pada respons-respons fisik. Arus adrenalin yang deras yang menyebabkan jantung menjadi berdebar-debar, wajah menjadi kemerah-merahan, dan lain sebagainya adalah respons tubuh Anda terhadap suatu ancaman. Banjir hormon merupakan respons yang alamiah bila berdekatan dengan lawan jenis. Orang dari berbagai tingkat usia dan macam-macam tipe tubuh memunyai tingkat-tingkat respons fisik yang berbeda-beda, namun bukanlah suatu dosa bila memunyai respons fisik yang kuat.

Suatu emosi adalah suatu interpretasi dari keadaan, yang didasarkan pada apa yang Anda yakini jauh di dalam lubuk hati Anda.

Jika seseorang mendorong Anda dari belakang dan Anda mengalami aliran adrenalin yang deras, Anda secara otomatis menafsirkan perasaan fisik itu sebagai kemarahan atau ketakutan, tergantung pada bagaimana anggapan Anda terhadap ancaman dorongan itu. Bila seseorang menyakiti Anda, Anda menafsirkan situasi itu sebagai sesuatu yang merintangi keinginan Anda atau sebagai suatu penolakan terhadap kebutuhan Anda yang penting. Dengan demikian, Anda pun merasa kecewa atau bahkan sangat kecewa, marah, atau sakit hati.

Emosi itu merupakan pesan.

Jika Anda merasa marah atau gugup apabila istri Anda mendesak Anda untuk berbicara, hati Anda mungkin sedang mengatakan kepada Anda, "Saya khawatir kalau saya menjadi mudah diserang oleh orang ini; pandangannya tentang aku berarti sekali; saya khawatir bahwa ia akan kehilangan rasa hormat jika ia mengetahui siapa saya yang sebenarnya; saya khawatir kalau wanita yang mengetahui rahasia-rahasia saya akan menggunakannya untuk memanipulasi saya; saya tidak mempercayakan Allah untuk mengurus kebutuhan saya akan rasa hormat dan melindungi saya dari wanita yang suka menguasai; saya belum pernah mengampuni ibu saya karena ia mencoba menguasai diri saya." Informasi yang sangat bermanfaat ini mengatakan kepada Anda tentang hubungan Anda dengan Allah, istri, dan ibu Anda.

Yang menjadi pokok persoalan moral ialah apa yang Anda lakukan dengan perasaaan itu.

Perasaan itu merupakan apa yang sesungguhnya menjadi keyakinan Anda. Tanyakanlah pada diri Anda sendiri: Apakah keyakinan ini benar? Perlukah saya memerbaharui pikiran saya dengan kebenaran Allah (Roma 12:1-2)? Bagaimanakah saya akan memberi respons?

Perhatikanlah perasaan-perasaan Anda, tetapi bertindaklah (pakailah kehendak Anda) untuk apa yang Anda ketahui (di dalam pikiran Anda) sebagai sesuatu yang benar.

Sumber
Halaman: 
156 -- 157
Judul Artikel: 
Kompas Kehidupan Kristen
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989

Komentar