Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Apakah Solusinya Harus Bercerai?

Edisi C3I: edisi 345 - Menyelamatkan Pernikahan Kristen dari Perceraian

Firman Tuhan mengajarkan bahwa apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia. Namun, semakin lama mengapa tingkat perceraian justru semakin meningkat? Bahkan, perceraian tidak hanya melanda pasangan yang usia pernikahannya seumur jagung. Pasangan serasi yang mampu menyelamatkan pernikahannya selama bertahun-tahun pun banyak yang akhirnya kandas. Apakah ini sebuah fenomena?

Melihat kenyataan ini, e-Konsel memberikan pertanyaan kepada para Sahabat Konsel di Facebook Page e-Konsel. Bagaimana tanggapan mereka? Simaklah catatan kami berikut ini.

e-Konsel: Menurut Anda, mengapa akhir-akhir ini banyak orang yang lebih cepat memutuskan untuk mengatasi persoalan rumah tangga dengan perceraian, padahal usia pernikahan sudah cukup lama?

Komentar:

Okti: Karena bagi pasangan-pasangan tersebut, cinta adalah sebuah perasaan, bukan komitmen. Oleh karenanya, ketika "rasa" itu hilang tergerus waktu dan situasi, mereka menganggap cinta sudah hilang, dan pernikahan tidak layak dipertahankan dengan tidak adanya "cinta" itu.

Magda: Karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Berada pada fase kejenuhan atas pernikahannya, sehingga membenarkan keputusan yang jelas-jelas melanggar janji yang sudah mereka ikrarkan di hadapan Tuhan.

e-Konsel: Mereka cenderung menjadikan adanya prinsip yang tidak bisa dipersatukan sebagai alasan ya. Mungkinkah prinsip itu muncul setelah bertahun-tahun menjalani pernikahan? Bukankah perbedaan prinsip biasanya sudah terdeteksi pada awal masa pacaran, pertunangan, atau pernikahan? Menurut Sahabat e-Konsel, adakah alasan positif/yang bisa dimaklumi dari adanya perceraian?

Yunita: Sebenarnya tidak ada pemakluman untuk perceraian. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa Musa memperbolehkan perceraian pun karena masing-masing pihak masih mengeraskan hati mereka. Sementara Yesus sendiri bilang apa yang sudah Allah persatukan tidak boleh diceraikan oleh manusia. Hmm ....

e-Konsel: Setuju dengan Yunita.

Wihananto: Pasangan yang memutuskan bercerai setelah menikah lama, kemungkinan tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan alami yang terjadi dengan pasangan masing-masing. Faktor usia sudah pasti akan membawa perubahan fisik pada masing-masing pribadi. Perubahan ini kemudian dirasakan dan dipikirkan dengan logika manusia, sebagai sesuatu masalah yang menghambat hubungan antara pasangan suami dan istri. Dari sinilah bisa membawa pasangan untuk memutuskan bercerai.

e-Konsel: Hmmm, padahal semua orang kalau sudah tua juga akan mengalami perubahan bentuk fisik lho, ya. Kalau alasannya karena itu, bisa bercerai berulang kali dong, Pak Wihananto?

Belly: Iblis dikenal "SANGAT PANDAI BERMAIN DENGAN WAKTU!" Merasa kesetiaan, cinta, dan sayang sudah pudar satu sama lain barangkali, di samping situasi atau kondisi ekonomi yang makin sulit, penuaan, atau bisa juga faktor kesehatan fisik (cacat) pasangan. Iblis menunggu "SETIAP" celah yang bisa dimasuki sehingga ikrar (sumpah) saat pembaptisan perkawinan pun dilupakan, banyak yang mengucapkan ikrar tersebut bukan dari kesungguhan hati, tetapi karena bagian hal itu adalah "WAJIB"/formalitas, mau tak mau ikrar itu diucapkan. Mungkin begitu. Alasan positif adanya melakukan perceraian, walau sedikit persentasenya tetapi pasti ada! Namun, tidak terkalahkan dalam beratnya beban timbangan akan ada beban ini. Perkawinan dan mengucapkan ikrar (sumpah) perkawinan bukanlah soal rasa, cinta, kasih, kesetiaan, kenikmatan, kebahagiaan, atau kewajiban dan atau tentang alasan lain, melainkan "TANGGUNG JAWAB". Anda sedang berjanji dengan Tuhan, bukan berjanji dengan manusia yang "LEMAH dan BODOH" yang sangat dan paling Anda cintai itu bung/mbak! Mungkin begitu.

e-Konsel: Setuju Belly. Pernikahan adalah janji suci di hadapan Tuhan. Hal ini seharusnya tidak dicemari dengan keegoisan diri.

Kevin: Perceraian terjadi karena ekonomi semakin baik dan merasa mampu berbahagia dengan usaha dari diri sendiri, dan mulai melihat kebahagiaan orang lain. Sebenarnya, keluarga tanpa Yesus di rumah akan sulit untuk berbahagia, karena dunia selalu menawarkan kebahagiaan semu.

e-Konsel: Kedua pribadi, suami dan istri, perlu mawas diri dan menempatkan diri sebagaimana seharusnya. Saling menopang dan tidak merasa diri lebih unggul daripada yang lain. Bukan begitu, Kevin Surbakti?

Depri: True, itu bukan pilihan mereka, tetapi mereka lebih dominan dikuasai emosi.

e-Konsel: Oleh karena itu, manusia harus mengikutsertakan Tuhan dan menundukkan diri pada kehendak-Nya, dan bukan emosinya, ya Dep.

Bagaimana dengan pendapat Anda? Silakan berikan komentar Anda di link ini: < https://www.facebook.com/sabdakonsel/posts/10151637563448755 >.

Komentar