|   |
Seks Pra Nikah
| Judul Buku/Buletin |
: |
Seri Psikologi Praktis -- Seks Pra Nikah |
| Penulis/Narasumber |
: |
Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D. |
| Penerbit |
: |
Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001 |
| Halaman |
: |
1 - 6 |
SEKS PRA NIKAH
Beberapa tahun terakhir ini, persepsi masyarakat terhadap seks telah
mengalami perkembangan (perubahan) yang drastis. Perilaku seks telah
beranjak dari posisi nilai moral menjadi budaya. Dengan kata lain,
jika sebelumnya seks sarat dengan kaidah moral, sekarang seks telah
merambah ke segala penjuru kehidupan sebagai gaya hidup yang nihil
moralitas. Seks, yang pada mulanya diidentikkan dengan cinta dan
pernikahan, sekarang lebih diasosiasikan dengan suka dan kencan
belaka. Salah satu ruang kehidupan yang telah dimasuki oleh perilaku
seks adalah masa berpacaran. Seks bukan lagi pergumulan yang harus
dilawan dan dimenangkan pada masa berpacaran, namun seks telah
menjadi salah satu agenda dalam berpacaran, sama seperti budaya
mencium yang kita kenal sampai dua dasawarsa yang lalu. Dewasa ini,
seks telah menggantikan tempat berpegangan tangan dan berciuman
dalam berpacaran.
Berikut ini, saya akan menjelaskan beberapa alasan, mengapa seks pra
nikah itu tidak boleh dan tidak baik.
PERTAMA: Seks pra nikah bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Perjuangan anak-anak Tuhan melawan godaan seksual pada masa
berpacaran akan semakin mengendor karena para pejuang kesucian akan
semakin langka pula. Tatkala kita dikelilingi oleh 10 rekan sesama
pejuang kesucian, semangat juang kita pun akan mengalami penguatan.
Sebaliknya, jika 6 dari 10 rekan seperjuangan telah menyerah kalah,
godaan untuk angkat tangan semakin besar pula. Pada akhirnya, makin
banyak anak-anak Tuhan yang hidup di celah-celah dua dunia yang
kotomis, antara "yang diketahui" dan "yang dilakukan". Kita tahu 8
bahwa Tuhan melarang seks pra nikah (atau segala bentuk hubungan
seksual di luar pernikahan, Keluaran 20:14; 1Korintus 5:1; 6:12-20;
1Tesalonika 4:3-8), namun kita tetap melakukannya karena tak kuasa
membendung nafsu. Kita pun mulai hidup di tengah-tengah kenikmatan
sekaligus rasa bersalah. Di satu pihak, kita hidup berpegang pada
Firman Tuhan, di pihak lain kita mengampuni perbuatan dosa sendiri.
Dosa menjauhkan si pelaku dari Tuhan, termasuk dosa seksual pada
masa pra nikah. Konflik rohani yang muncul akibat dosa seks akhirnya
berkobar menjadi peperangan rohani dan membakar setiap energi rohani
yang semula ada dalam diri kita. Kehidupan rohani menjadi seperti
roda yang berputar tersendat-sendat; rasa tidak layak berhadapan
dengan Tuhan, akhirnya mendinginkan animo untuk sama sekali dekat
dengan Tuhan. Bagi saya, reaksi seperti ini masih lebih sehat
ketimbang membutakan mata rohani dan akhirnya hidup dalam kepura-
puraan. Dosa tetap dosa -- betapa pun sulit kita melawannya -- dan
lebih baik kita mengakui kelemahan kita daripada mendistorsi
realitas rohani ini. Langkah pertama dalam pertobatan adalah
pengakuan dosa, yakni mengakui perbuatan itu sebagai pelanggaran
terhadap perintah Tuhan yang kudus; pendistorsian dosa menghilangkan
esensi pertobatan sejati.
KEDUA: Seks pra nikah mencemari proses dan tujuan berpacaran.
Nafsu dan rasio tidak dapat duduk berdampingan, sebab yang satu akan
mengurangi efektivitas kerja yang lain. Hikmat tidak dapat muncul
dari nafsu; hikmat hanya bisa tumbuh dari rasio yang jernih. Saya
mendefinisikan hikmat sebagai kemampuan melihat dengan jelas dan
bertindak dengan tepat. Hikmat bukan saja dimulai dengan pengetahuan
yang benar, namun perlu ditindaklanjuti dengan perilaku yang benar
pula.
Apabila nafsu (seksual) sudah menjadi bagian dari masa berpacaran,
maka ia akan membutakan kejelian dalam menelaah kondisi hubungan
kita yang jelas. Tujuan berpacaran adalah untuk memberikan gambaran
yang sejelas-jelasnya akan keadaan pasangan kita dan sekaligus
memastikan kecocokan kita berdua. Jadi, proses berpacaran seyogyanya
diisi dengan upaya-upaya untuk saling menyesuaikan diri, yakni dalam
hal-hal yang berkenaan dengan nilai hidup, pola berpikir, dan gaya
hidup kita.
Keberadaan seks pada masa penyesuaian awal ini akan menodai proses
berpacaran, sehingga pada akhirnya, tujuan berpacaran pun tidak
tercapai. Nafsu meminta pemuasan dan demi memenuhi nafsu, kita rela
dan berani membayar harga yang mahal, yaitu mengesampingkan dan
meremehkan ketidakcocokan yang ada di depan mata. Seks mengikat
kedua insan secara badani, namun seks tidak menyatukan kedua pribadi
secara menyeluruh. Seks pada masa berpacaran mendistorsi realita
kecocokan karena seks menulikan telinga untuk mendengar perbedaan
dan membutakan mata untuk melihat ketidakserasian.
Seks pada masa berpacaran merusak kerja rasio dan mematikan hikmat
untuk melihat dengan jelas dan bertindak dengan tepat. Seks pra
nikah merupakan investasi yang terlalu dini, sehingga tidak jarang
ada pasangan yang melanjutkan hubungan yang tidak sehat itu hanya
karena telanjur sudah berhubungan seks. Singkatnya, seks pada masa
berpacaran membuka kemungkinan yang lebar akan terjadinya bencana di
masa mendatang. Tepatlah Firman Tuhan yang mengingatkan kita,
"Tetapi siapa mendengarkan aku (hikmat), ia akan tinggal dengan
aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka." (Amsal 1:33)
Hikmat dari Tuhan akan melindungi kita dari bencana yang ada di
depan kita, sedangkan nafsu hanya akan memastikan kita berjalan ke
arah kehancuran.
KETIGA: Seks pra nikah mengurangi respek terhadap pasangan kita.
Respek dibangun bukan di atas kegagalan, melainkan di atas
kemenangan. Penguasaan diri yang kuat adalah salah satu
karakteristik yang mengundang kekaguman dan membuahkan respek.
Hubungan pernikahan yang sehat perlu dilandasi dengan respek; tanpa
respek, relasi pernikahan akan berkualitas buruk serta membuka pintu
masuk bagi problem yang lebih banyak. Seks pada masa berpacaran
tidak akan membangun respek, justru secara diam-diam malah
menciptakan rasa kurang respek. Bayangkan, suatu situasi hipotesis
yang menempatkan kita pada sisi yang berseberangan. Misalkan, kita
yang telah menjaga kesucian mendengar pengakuan dari pasangan kita
bahwa ia sudah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya yang
terdahulu. Saya sadar bahwa sebagai orang Kristen dengan cepat kita
akan memaafkan perbuatannya, namun yang perlu saya tanyakan adalah
"Apakah pengakuannya itu menambah respek kita terhadapnya atau
tidak?" Saya khawatir bahwa di balik pemberian maaf, hati kita
terluka dan citra tentang dirinya yang telah terbentuk mulai berubah
menjadi negatif. Kita bisa berdalih dan mencoba meyakinkan diri kita
bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua bisa melakukan
kesalahan, termasuk pasangan kita yang telah berhubungan seks. Namun
demikian, kesalahan seksual tidak dapat disamakan dengan kesalahan
lainnya, misalnya berkelahi atau mencuri uang. Kesalahan seksual
menohok jantung hati kita karena seks secara kodrati adalah suatu
bagian hidup yang sakral -- sebagaimana dimaksudkan oleh
penciptanya, yaitu Tuhan sendiri.
KEEMPAT: Seks pra nikah menciptakan keraguan akan penguasaan dirinya
dengan orang lain.
Alasan keempat ini berkaitan erat dengan hal kepercayaan dan
kepercayaan merupakan salah satu tonggak pernikahan. Satu pertanyaan
yang membutuhkan jawaban teguh dan positif adalah, "Dapatkah saya
mempercayainya, jika dia bersama dengan orang lain?" Saya kira, rasa
percaya akan sulit bertumbuh jika kita menyaksikan kelemahan
pasangan kita dalam menguasai dirinya. Dalam benak kita mungkin akan
muncul keragu-raguan, "Dapatkah dia menguasai dirinya, jika bersama
dengan orang lain?" Pertanyaan ini timbul karena kita sudah menjadi
salah satu "korban" dari kelemahannya itu. Apalagi jika ia pernah
berbuat hal yang sama dengan pacarnya yang terdahulu. Kepercayaan
tidak diberikan dengan cuma-cuma; kita harus membuktikan diri
terlebih dahulu sebelum layak untuk menerimanya. Seks pra nikah
mencemari kepercayaan kita dan menumbuhkan keraguan akan daya
tahannya dalam menghadapi pencobaan seksual di masa mendatang.
KELIMA: Seks pra nikah melebarkan kemungkinan adanya kehamilan
dan kehamilan sebelum pernikahan menciptakan pernikahan yang
belum matang.
Pernikahan yang didahului oleh kehamilan berisiko tinggi menghadapi
perceraian karena tidak adanya kesiapan pernikahan pada saat itu.
Atau, kalau pun tidak bercerai, pernikahan ini rawan dirundung
masalah karena kurangnya kesiapan pernikahan. Masalah mudah muncul,
sebab mungkin saja, hubungan berpacaran tidak pernah mencapai
tujuannya oleh karena campur tangan seks. Dengan kata lain,
pernikahan ini bermasalah karena penyesuaian diri tidak pernah
tuntas dan dalam keadaan tidak tuntas ini, kita terpaksa menikah
karena telah hamil terlebih dulu.
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/071/
|
  |